[20] Tak Semudah Mengucap Maaf

Setiap kita pasti pernah berbuat salah, termasuk kepada orang lain. Meminta maaf bisa jadi adalah perkara yang tidak mudah bagi sebagian orang. Dan bagi sebagian orang lain, meminta maaf adalah hal yang sangat mudah.

Mungkin—bagi orang yang tersakiti—mengucap maaf adalah hal yang mudah. Bagi orang yang tersakiti, tidak mudah untuk memaafkan dan luka yang sudah tertoreh bisa dipastikan tidak akan pernah benar-benar sembuh.

Namun ternyata, di sisi lain—mereka yang menyakiti—juga merasakan rasa sakit, yakni rasa bersalah. Bagi sebagian orang, rasa bersalah mungkin seperti hukuman atas perbuatan mereka pada orang yang mereka sakiti. Saat mereka tahu bahwa sekali mereka menyakiti, mereka tidak akan pernah mengembalikan semua seperti semula.

Bagi saya, menjadi yang tersakiti mau pun yang menyakiti sejatinya sama-sama merasakan sakit, meski dalam bentuk dan frekuensi yang mungkin berbeda. Tapi, dari sana keduanya bisa belajar bahwa menjadi manusia itu tidak akan pernah lepas dari kesalahan, karena tidak bisa selalu menyenangkan semua orang. Kita juga tidak bisa selalu bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Karena itu, dari sana kedua belah pihak bisa saling belajar satu sama lain. Perselisihan, pertengkaran dan sebagainya adalah hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Hal seperti itu adalah sebuah tantangan yang harus diselesaikan agar tidak berkembang menjadi racun bagi satu sama lain.

Saya belajar dari hubungan persahabatan saya di masa lalu. Persahabatan yang palsu dan lama kelamaan menjadi racun bagi kami. Kami berakhir saling menyakiti dan butuh waktu bagi kami untuk saling melepaskan dan memaafkan. Saya sadar bahwa berjuta kata maaf pun tidak akan pernah benar-benar menyembuhkan hati mereka yang sudah saya sakiti. Ketika mereka pun bisa memaafkan saya, rasa bersalah itu tidak akan pernah benar-benar hilang dari dalam hati saya. Tapi, saya berharap dengan pengalaman seperti itu di masa lalu, saya bisa menjadi lebih baik di masa depan.

Saya tahu, memaafkan itu bukan perkara yang mudah, bahkan saya sendiri pun mengalami masa-masa sulit dalam rangka memaafkan diri saya sendiri, apatah lagi memaafkan orang lain yang dulunya adalah orang yang kita sayangi namun orang itu menyakiti kita. Perselisihan sedikit banyak mempengaruhi sebuah hubungan, namun hasil akhirnya tetap ada di tangan kita—apakah setelah perselisihan itu kita menjadi lebih saling memahami satu sama lain dan menjadi dekat atau sebaliknya—menjauhi satu sama lain dan memilih menyelamatkan perasaan masing-masing.

Kendari, 20 Ramadhan 1439 H. 5 Juni 2018.

Advertisements

[19] Beban

Tidak ada beban tanpa pundak. Maka mintalah pundak yang kuat untuk memikul beban, bukan minta beban itu diringankan, karena Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya.

Beban—dalam hal ini amanah seringkali seperti dua mata pisau. Dia bisa jadi peluang surga, tetapi juga bisa jadi peluang untuk neraka. Apalagi ketika amanah itu adalah amanah dalam rangka memimpin suatu tim. Dalam kasus saya, memimpin adalah hal terburuk yang pernah saya lakukan. Dulu mungkin saya memiliki kemampuan, tapi karena sikap denial saya yang parah, saya akhirnya tidak bisa melakukan yang terbaik yang saya bisa. Saya mengecewakan banyak orang dan menyakiti banyak orang. Itu sesuatu yang tidak pernah ingin saya lakukan kepada siapa pun. Namun, pada kenyataannya saya memang melakukannya kepada mereka—anggota tim saya waktu itu.

Kini saya kembali mendapat amanah sebagai pemimpin. Jika dulu saya memiliki sedikit kemampuan, kali ini saya benar-benar memulainya dari titik nol. Saya benar-benar tidak mengerti apa pun. Saya belum berpengalaman sama sekali. Saya hanya melihat bagaimana orang-orang di depan saya memimpin. Saya lebih sering menjadi pengamat ketimbang menjadi praktisi. Selain karena takut gagal, saya juga merasa bahwa saya tidak cukup layak untuk menjadi seorang pemimpin dengan karakter saya yang free-spirit. Dan ini adalah tantangan baru sekaligus paling berat bagi saya. Ya, beban saya bertambah berkali lipat.

Meski pun begitu, saya tahu bahwa mengeluh bukanlah jalan keluar dan tidak akan pernah menjadi jalan keluar. Bagaimana pun juga saya harus tetap berjalan. Saya harus bertahan dan mencari jawaban—untuk apa Allah meletakkan saya di posisi ini lagi setelah sekian tahun saya meratapi kegagalan sebagai seorang pemimpin. Karena itulah sudah selayaknya saya meminta punggung yang lebih kuat untuk bisa memikul amanah ini beserta harapan bahwa saya pasti bisa jika saya berusaha dan bekerja keras. Saya memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi saya harus optimis bahwa di masa depan saya bisa mewujudkan apa yang menjadi visi dan misi tim kami. Saya juga harus optimis bahwa di masa depan saya bisa membawa tim saya menjadi tim dengan versi terbaik dari yang bisa kami berikan—dan saya sadar bahwa untuk mewujudkan itu saya harus bekerja keras.

Kendari, 19 Ramadhan 1429 H. 4 Juni 2018.

[18] Memelihara Al-Qur’an

Ramadhan itu dekat dengan Al-Qur’an. Islam pun begitu. Maka, sebagai seorang Muslim sejatinya kita terhubung dengan Al-Qur’an, karena taklif (beban hukum) yang ada pada kita dalilnya bersumber dari sana—selain dari Sunnah Rasulullah SAW.

Al-Qur’an merupakan mukjizat yang Allah berikan kepada Rasulullah SAW. Sampai sekarang pun banyak hal mengagumkan dari Al-Qur’an—selain fakta bahwa Allah sendiri yang berjanji akan menjaga Al-Qur’an sampai akhir zaman kelak. Al-Qur’an adalah petunjuk sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 2. Al Qur’an juga merupakan obat bagi hati yang sedang sakit. Mungkin, dalam beberapa keadaan kita tidak merasa bahagia. Mungkin, di satu masa kita sulit bernafas karena kita memiliki banyak keraguan, kekhawatiran dan ketakutan hingga akhirnya kita membenci diri kita sendiri. Terkadang, di saat-saat seperti itu kita lupa bahwa Al-Qur’an bisa mengobatinya. Mungkin, tidak akan serta-merta terobati. Namun, sebagaimana janji Allah bahwa Al-Qur’an adalah obat, maka sumber kebahagiaan itu pasti ada di sana. Kita hanya perlu membukanya, membacanya beserta artinya, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Dengan cara itulah kita memeliharanya agar terus dekat dengan diri dan kehidupan kita. Hal tersebut bukan dengan sejam dua jam atau sehari dua hari—bahkan mungkin untuk bisa selalu terhubung dengan Al-Qur’an memerlukan waktu sepanjang usia kita. Namun, semua itu tidaklah sia-sia karena orang-orang yang senantiasa memelihara Al-Qur’an akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT, Dzat yang menurunkan Al-Qur’an.

Ramadhan sejatinya mengajarkan kita untuk senantiasa memelihara Al-Qur’an dengan menghadirkannya ke dalam hari-hari kita serta membiarkan Al-Qur’an menjadi teman yang mengiringi langkah kita dan menyirami hati kita. Semoga Ramadhan ini kita bisa memulai untuk kembali terhubung dengan Al-Qur’an yang merupakan fitrah kita sebagai seorang Muslim.

Kendari, 18 Ramadhan 1439 H. 3 Juni 2018.

[17] Congraduation

Pertemuan adalah jalan menuju perpisahan. Dan perpisahan adalah episode lain dari sebuah pertemuan. Akhirnya, saya melepaskan tiga belas murid saya untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju masa depan. Sebelum hari ini, saya sebenarnya sudah bersiap diri. Saya sudah merasakan perasaan ini sebelumnya—ketika saya berada di Bogor—namun rasanya tetap sama saat saya menyadari bahwa saya melihat mereka perlahan pergi. Rasanya tetap sama saat saya sadar bahwa saya harus melepaskan mereka—murid-murid saya yang berharga.

Dulu, salah satu keraguan saya untuk tetap menjadi guru adalah ketika saya menyadari bahwa menjadi guru berarti saya harus bersiap lebih untuk sebuah perpisahan—hal yang tidak saya sukai. Ketika saya memutuskan menetap menjadi seorang guru, saya sadar bahwa suatu saat saya harus melepaskan murid-murid saya ketika mereka lulus dan itu berarti saya akan selalu menyaksikan perpisahan setiap tahunnya. Saya masih ingat, dulu saya pernah bilang bahwa saya membenci perpisahan karena sebenarnya saya merasakan emosi yang bercampur ketika berpisah, apalagi ketika saya sudah dekat dengan orang tersebut—seperti kepada murid-murid saya.

Satu setengah tahun yang lalu, saya pertama kali bertemu mereka di kelas. Satu setengah tahun yang lalu, mereka mulai melukis hidup saya dengan warna-warna baru. Satu setengah tahun yang lalu, mereka mulai menjadi “magic shop” saya. Saat saya merasa bahwa saya mungkin tidak lagi bisa bahagia, mereka membawakan setitik kebahagiaan yang menghidupkan kembali harapan saya. Saya bahagia saat saya merasa diterima dan disayangi dengan tulus. Mereka ada di sisi saya di hari-hari dimana saya membenci diri saya. Mereka membuat saya belajar tentang banyak hal dan membantu saya menyembuhkan diri saya sendiri. Mereka sangat berarti bagi saya dan saya menyayangi mereka semua tanpa terkecuali.

Selamat atas kelulusannya, Anak-anak. Kalian sudah berjuang sampai akhir. Terima kasih karena sudah mengusahakan yang terbaik saat Ibu tidak ada di sisi kalian. Terima kasih atas cinta dan penerimaan yang kalian berikan. Maaf karena Ibu belum bisa memberikan yang terbaik dan menjadi guru yang baik untuk kalian. Tapi, Ibu akan selalu menyayangi kalian. Hari ini, besok, hingga nanti. Selamat menempuh perjalanan dan kehidupan baru. Doa Ibu bersama kalian selalu.

Kendari, 17 Ramadhan 1439 H. 2 Juni 2018.

[16] Sepertiga Malam Terakhir

Saya ingat, ketika saya pertama kali menunaikan sholat Tahajud. Saya termotivasi oleh kata-kata kakak saya. Kakak bilang, sholat tahajud yuk. Kalo sholat Tahajud itu, apa pun yang kita minta bakal dikabulkan sama Allah. Saya langsung takjub. Oh, ternyata ada toh sholat sunnah yang bisa membuat doa kita lebih cepat dikabulkan sama Allah? Haha, bocah banget ya saya waktu itu? Hanya gara-gara itu, saya selalu semangat untuk bangun tengah malam demi sholat Tahajud karena saya punya modus. Saya pengen doa saya dikabulkan meski pun kesannya doa setelah sholat wajib jadi tidak ada apa-apanya dibanding doa saat sholat Tahajud, haha. Tapi itu dulu. Seiring dengan berjalannya waktu, motivasi saya sholat Tahajud berubah-ubah. Dulu pernah saya sholat Tahajud modusnya karena saya mau nonton film mandarin yang re-run tiap jam dua atau jam tiga pagi. Kadang juga demi nonton Club sepakbola favorit di Liga Champion. Trus besoknya heboh sama teman-teman di sekolah. Haha dasar bocah!

Lalu, setelah saya belajar Islam lebih intens, saya jadi tahu bahwa sepertiga malam adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Bahkan, hujan yang dulu saya benci termasuk salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Artinya, jika kita berdoa di waktu-waktu tersebut, maka besar kemungkinan Allah akan mengabulkannya. Dan waktu sepertiga malam terakhir itu adalah waktu yang luar biasa. Ada malaikat yang menyaksikan, Allah pun tentu saja menyaksikan. Ketika semua orang tidur, kita terjaga dan menunaikan sholat. Sesuatu yang belum tentu semua orang bisa melakukannya mengingat itu adalah waktu dimana semua orang seharusnya terlelap. Mungkin itu salah satu hikmah saat Allah memberikan kemenangan kepada Rasulullah, para sahabat dan orang-orang shalih saat berperang menghadapi musuh-musuhNya. Rahasia kemenangan kaum Muslimin terdahulu adalah aktivitas mereka di sepertiga malam terakhir. Waktu dimana mereka bisa “berduaan” dengan Allah. Waktu dimana mereka bisa menumpahkan apa pun kepada Allah. Waktu dimana mereka bisa bercerita apa saja kepada Allah. Waktu dimana kesunyian menjadi teman dan waktu yang menyadarkan bahwa Allah selalu ada. Waktu yang menyadarkan bahwa kita tidak sendiri. Ada Allah yang selalu membersamai. Itulah sepertiga malam terakhir.

Terkadang, kita membutuhkan kesunyian untuk mengenal diri kita. Dalam sunyi kita bercermin dan jujur pada diri sendiri. Mengakui bahwa kita hanyalah manusia yang lemah dan terbatas. Kita memiliki dua sisi, terang dan gelap. Sisi terang yang harus kita syukuri dan sisi gelap yang harus kita terima dengan lapang dada. Dari sana kita bisa belajar bahwa mencintai diri sendiri mungkin saja hal tersulit yang bisa kita wujudkan. Tapi kita tahu bahwa proses yang panjang itu akan terus kita lalui sampai suatu hari kita bertemu dengan Allah yang akan memintai pertanggung jawaban atas diri dan amal-amal kita.

Kini saya tahu bahwa sepertiga malam bukan saja waktu untuk saya bercerita menumpahkan segala beban yang saya rasakan, tapi juga waktu lebih bagi saya untuk menemukan dan mengenali diri saya sendiri.

Kendari, 16 Ramadhan 1439 H. 1 Juni 2018.

[15] Catatan Hari ke-15

Ramadhan sudah berada di pertengahan. Selama 15 hari terakhir, banyak hal yang terjadi, banyak hal yang saya hadapi, beberapa kondisi dimana saya harus menyesuaikan diri yang entah kenapa menjadi lebih sulit dibanding tahun lalu. Ada banyak hal yang juga saya renungkan. Lima belas hari yang penuh tawa, senyuman, kekhawatiran, rasa takut, sisa-sisa rasa bersalah di masa lalu, kenangan yang tiba-tiba saja terputar kembali seperti film, luka yang kembali terbuka serta harapan semoga di hari esok, diri ini bisa menjadi lebih baik.

Setiap Ramadhan memiliki episode dengan getaran yang berbeda-beda. Begitu juga dengan Ramadhan tahun ini. Ramadhan yang kembali datang di musim penghujan namun memiliki cerita yang berbeda dengan Ramadhan sebelumnya.

Selamat menjalani hari ke-15, semoga kita bisa mengejar apa yang masih tertinggal di paruh terakhir Ramadhan. Aamiin…

Kendari, 15 Ramadhan 1439 H. 31 Mei 2018.

[14] Best of Me

Saya menyesali banyak hal di masa lalu, salah satunya karena saya tidak melakukan yang terbaik saat itu. Banyak hal yang seharusnya saya lakukan tapi tidak saya lakukan kala itu. Tapi saya sadar bahwa masa itu sudah berlalu dan takkan pernah terulang. Saya hanya perlu bersyukur bahwa hari ini saya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya, mengulang semua dari awal dan meyakinkan diri saya sendiri bahwa episode saya masih belum berakhir.

Salah seorang guru saya berpesan, apa pun profesi kita maka bersungguh-sungguhlah di sana. Saya dulu juga berpesan pada diri saya seraya berdo’a, semoga impian saya membuat saya semakin dekat kepada Allah dan selalu ingat kepada-Nya. Semoga pekerjaan dan profesi saya juga membuat saya selalu dekat dan ingat kepada-Nya. Saya pernah jatuh di atas kesombongan saya sendiri. Saya pernah gagal bahkan sebelum saya mencoba berjalan lebih jauh. Kali ini saya tidak ingin impian saya hanya sebatas memenuhi egosentris diri saya sendiri. Selain menjadikan apa yang saya lakukan sebagai jalan untuk memaafkan diri saya sendiri, saya juga ingin berdedikasi untuk orang lain. Saya ingin melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan, tidak hanya untuk diri saya tetapi juga untuk orang lain. Saya tidak ingin menyesali hari ini di masa depan. Untuk itu, saya akan bersungguh-sungguh di hari ini agar suatu saat ketika saya harus pergi, saya akan pergi dengan kelegaan, bukan dengan penyesalan.

Perjalanan saya masih panjang. Saya bersyukur saya bisa menguatkan tekad setelah perenungan yang cukup lama, meskipun bagi saya yang biasanya butuh waktu lebih banyak, ini terlalu cepat. Sekarang saya memang tidak memiliki impian yang spesifik, bahkan mungkin sejak dulu saya tidak punya mimpi. Saya juga belum punya keberanian untuk menantang diri saya lebih dari apa yang saya lakukan sekarang. Tapi saya tahu bahwa saya tidak perlu lagi berlari untuk sesuatu yang sia-sia.

Kendari, 14 Ramadhan 1439 H. 30 Mei 2018.

[13] Sebuah Persembahan

Ada yang berbeda dari Kepompong Ramadhan tahun ini. tahun lalu, adalah kali pertama saya mengikuti rangkaian kegiatan Kepompong Ramadhan, mulai dari fase ulat sampai fase kupu-kupu. Hal paling berkesan tentu saja fase kepompong. Tahun lalu, fase kepompong memiliki tiga kegiatan, yakni bakti sosial, sanlat dan mabit. Tahun ini ada suasana berbeda. Mabit tidak dilaksanakan, hanya bakti sosial dan sanlat saja yang dilaksanakan itu pun tidak lama. Pesertanya juga tidak seramai dulu, padahal sama-sama masuk musim hujan. Tapi, ada hal yang juga berkesan di Kepompong Ramadhan kali ini, yaitu latihan acara akhir tahun ajaran yang akan diselenggarakan pertama kali di sekolah kami. ISM—Insantama’s Special Moment—namanya.

Sepertinya sudah lama sekali saya pulang dari agenda tugas luar. Ternyata, baru masuk dua minggu setelah saya pulang dari Bogor selama dua bulan. Hari pertama saya kembali ke sekolah, anak-anak mulai latihan untuk ISM. Saya hanya merekam sesi latihan mereka di hari pertama. Padahal, mereka latihan selama seminggu penuh. Melatih anak SD itu penuh warna-warni. Mereka yang masih ingin bermain tapi mereka juga punya tanggung jawab karena mereka diberi amanah untuk menampilkan persembahan dalam rangka perpisahan kakak kelas mereka yang akan lulus. Ini adalah pelulusan angkatan pertama bagi sekolah kami. Dengan segala persiapan di belakang layar, termasuk anak-anak yang berlatih setiap hari, saya melihat kesungguhan yang luar biasa. Saya terkesan dengan anak-anak yang serius berlatih meski pun mereka lelah dan lebih ingin bermain plus mereka sedang berpuasa, membuat saya terharu—terlebih saat mereka mulai bernyanyi lagu Terima Kasih yang diperuntukkan bagi guru. Saya tidak kuasa menitikkan air mata.

Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa, 13 pasang mata yang mewarnai hari-hari saya selama tiga semester terakhir ini sebentar lagi akan lulus dari SD. Sedikit hari lagi mereka akan memulai kehidupan baru sebagai siswa SMP. Mereka murid pertama saya dan saya belajar banyak dari mereka. Mereka adalah salah satu hal yang membuat saya selalu bersemangat untuk sembuh. Mereka adalah kebahagiaan kecil yang akan selalu saya syukuri. Mereka adalah hadiah yang takkan pernah tergantikan bagi saya. Saya belajar menjadi guru dan orang tua. Saya belajar mendewasa dari mereka. Saya pun akhirnya memilih jalan yang akan saya lalui di masa depan setelah bertemu dengan mereka. Mereka mengajarkan arti lain dari kegagalan pada saya. Mereka membuat saya sadar bahwa akan selalu ada arah untuk setiap titik balik. Saya mungkin memutar haluan terlalu jauh. Tapi, saya tidak menyesal karena di titik balik saya, saya akhirnya bertemu mereka.

Saya berharap mereka akan selalu ingat bahwa saya menyayangi mereka sampai kapan pun dan saya selalu bangga pada mereka sebagai guru mereka.

Kendari, 13 Ramadhan 1438 H. 29 Mei 2018.

[12] Palsu

Cinta seringkali membuat kita menjadi egois tanpa kita sadari. Saya menyadari keegoisan saya dalam mencintai saat sahabat-sahabat saya pergi dari hidup saya. Saat itu saya sadar bahwa saya sudah mengecewakan mereka dengan sesuatu yang saya pikir adalah hal yang bisa saya lakukan kepada mereka sebagai sahabat. Namun ternyata, perasaan saya itu hanyalah keegoisan. Semua itu palsu. Karena hal itu, saya terus menyalahkan diri saya.

Dulu saya tidak mengerti tentang diri saya, tentang perasaan saya sehingga saya terjebak dalam perasaan yang tidak seharusnya. Dulu, saya berpikir dengan selalu menjadi yang terbaik di hadapan mereka, maka mereka akan menganggap saya seperti itu. Dulu, saya berusaha selalu ada untuk mereka, namun saya tidak menyadari bahwa saya memaksa mereka untuk terus berbagi pada saya, sedangkan saya menutup diri saya sendiri terhadap mereka. Sampai akhirnya saya lelah dengan semua itu. Saya berpikir bahwa saya merasakan semua sendirian—mereka tidak merasakan hal yang saya rasakan pada mereka—padahal kenyataannya sejak awal saya memang sudah membangun sebuah tembok yang tinggi. Saya lebih sering berbohong pada diri saya sendiri hanya agar saya bisa diterima oleh mereka, orang-orang yang saya anggap sebagai sahabat. Saya selalu berpikir bahwa saya hanya akan membebani mereka jika saya terbuka, tapi ternyata itu hanyalah bentuk keegoisan dan self-defense saya. Kepalsuan yang saya pikir sebuah ketulusan itu menjadi racun dalam persahabatan yang saya bangun bersama mereka. Kami berakhir saling menyakiti. Saya menyakiti mereka dan saya tersakiti dengan mereka yang meninggalkan saya.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar bahwa hidup itu adalah rangkaian dari pertemuan dan perpisahan. Setiap kita pasti mendewasa dan seiring dengan kita mendewasa kita butuh ruang lebih banyak untuk diri kita sendiri dalam rangka merenung. Menjadi yang pergi dan yang ditinggalkan adalah dua hal yang niscaya karena pada kenyataannya kehidupan itu subjektif. Semua tentang kita dan diri kita, sekali pun di sana kita bertemu banyak wajah. Namun, kita tetaplah seorang pengembara yang akan terus melanjutkan perjalanan menyusuri episode kehidupan kita sendiri.

Someone has said that if you don’t stay true to yourself, your love won’t last. Saya setuju karena menurut saya, kita tidak akan bisa mencintai orang lain dengan benar jika kita tidak bisa mencintai diri kita sendiri dengan cara yang benar pula.

Sekarang saya ingin berlepas diri dari sebuah hubungan yang palsu. Hubungan yang hanya akan menjadi racun bagi diri saya dan orang lain. Ramadhan mengajarkan tentang berbagi, bukan hanya tentang berbagi soal material yang bisa terlihat, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan, harapan, impian dan cita-cita bersama mereka, orang-orang yang kita percaya.

Kendari, 12 Ramadhan 1439 H. 28 Mei 2018.

[11] Hujan

Saya suka hujan, tapi saya tidak suka kalau saya basah. Tahun 2016, saat kembali ke kampung halaman ternyata bertepatan dengan musim hujan. Selama tiga bulan saya harus survive dengan kondisi hujan deras berhari-hari dan saya yang tidak punya banyak baju keluar. Saya ingat sekali, dua tahun lalu saya sering mengeluh tentang hujan. Saya tidak suka basah-basahan. Inginnya hanya di rumah saja, melihat hujan dari depan pintu atau dari tepi jendela. Sayangnya, banyak hal di luar rumah yang menanti saya dan memaksa saya untuk keluar rumah meski pun hari sedang hujan.

Dua tahun kemudian, saya menyadari bahwa hujan mengajarkan hal penting. Hujan mengajarkan tentang rasa syukur. Entah sejak kapan saya bisa menerima saat Kendari sudah mulai diguyur hujan mulai bulan Mei sampai dengan Agustus. Saya mulai enjoy berjalan di tengah hujan dengan modal jas hujan dan tas dengan raincoat-nya, meski pun saya harus merelakan sepatu dan kaos kaki saya basah. Entah sejak kapan saya bersyukur saat hujan datang. Bagi saya, hujan selalu datang dengan pelajaran tentang rasa syukur. Sebuah nikmat yang seringkali dikeluhkan oleh banyak orang.

Sekarang, saya akhirnya benar-benar bisa bersyukur dengan adanya hujan. Saya bisa mengenang banyak hal. Saya bisa mendapatkan inspirasi saat mendengar gemericik air jatuh di atap. Saya melihat keindahan saat air hujan turun dari atap. Saya merasa tenang saat mencium bau aspal yang disirami air hujan. Saya akhirnya sadar, saya tidak benar-benar membenci hujan. Saya hanya perlu menerima kedatangannya dan bersyukur atas kedatangannya.

Terima kasih ya Allah karena telah menciptakan hujan sebagai nikmat bagi bumi.

Kendari, 11 Ramadhan 1438 H. 27 Mei 2018.