Takdir Sang Pahlawan

Rasanya sudah lama sekali sejak saya menulis terakhir kali. Semua hal jadi sulit untuk dituliskan, berbeda dengan hari-hari yang sudah lewat. Ah, jadi mungkin seperti ini rasanya ketika kehilangan rasa percaya diri pada sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sejak lama. But, I’ll try again 🙂

***

Namanya Khalid bin Walid. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak sahabat Rasulullah SAW. yang memberiku inspirasi, khususnya tentang mimpi dan cita-cita.
Khalid bin Walid ra. merupakan salah satu sahabat Rasulullah saw. yang masyhur namanya. Beliau bergelar “Pedang Allah yang Terhunus”. Ya, Khalid bin Walid dikenal sebagai panglima perang tak terkalahkan dalam sejarah peradaban Islam. Beliau hanya kalah sekali saat Perang Uhud meski pun kemudian berhasil membalikkan keadaan di saat-saat terakhir peperangan. Kemampuan militernya tidak diragukan, kecerdasannya juga luar biasa, pengalamannya apalagi. Khalid bin Walid tidak pernah absen dalam berjihad dan sering menjadi panglima perang, meski pun di akhir perjalanannya beliau sempat diberhentikan sebagai panglima di tengah-tengah pelaksanaan tugasnya sebagai panglima perang oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. karena khawatir kaum Muslimin lebih condong kepada Khalid bin Walid daripada kepada Khalifah sebagai pemimpin tertinggi kaum Muslimin. Mungkin kalo di dunia militer sekarang, Khalid bin Walid termasuk dalam jejeran perwira tinggi. Setingkat Jendral? Bisa jadi.  Dengan kemampuan dan pengalamannya, Khalid bin Walid bisa jadi Jendral.
Namun, ada hal menarik dibalik kemasyhuran Khalid bin Walid. Hal itulah yang menginspirasiku untuk tidak menyerah untuk menemukan cita-cita dan mimpi-mimpiku. Khalid bin Walid begitu bersemangat saat berjihad. Bahkan, beliau lebih memilih jihad daripada memiliki anak laki-laki. Beliau menghabiskan masa produktif kehidupannya di medan perang. Kenapa? Kenapa beliau begitu mencintai jihad? Kenapa beliau begitu terobsesi dengan jihad? Ya, beliau punya cita-cita. Cita-cita yang dimiliki oleh sebagian besar kaum Muslimin saat itu. Mati syahid. Khalid bin Walid bercita-cita untuk menjadi seorang syuhada. Khalid bin Walid percaya bahwa satu-satunya cara menebus dosa-dosanya di masa lalu, termasuk dosa saat Perang Uhud adalah dengan mati syahid. Sejak masuk Islam, cita-cita itu menjadi tujuan yang terus berusaha ia wujudkan. Beliau selalu bersemangat ketika panggilan jihad berkumandang bahkan beliau berkali-kali memimpin perang yang tak sekali pun kalah. Khalid bin Walid selalu memenangkan peperangan dan beliau tidak pernah kehilangan kepercayaannya kepada apa yang ia cita-citakan. Demi cita-citanya itu, Khalid bin Walid bukan tidak meninggalkan bekas luka pada tubuhnya. Justru sebaliknya, beliau memiliki puluhan bekas luka akibat perang di tubuhnya. Namun, takdir Allah berkata lain. Semua yang belajar sejarah Islam pasti tahu bahwa Khalid bin Walid tidak meninggal di medan perang. Beliau meninggal di tempat tidurnya karena sakit. Sebagai manusia, beliau tentu saja kecewa. Beliau bercita-cita sebagai syuhada namun beliau justru meninggal karena sakit. Dengan perjuangan yang berdarah-darah, pada akhirnya Khalid bin Walid gagal mewujudkan cita-cita terbesar dalam hidupnya. Namun, Allah selalu punya ibrah di balik setiap episode kehidupan. Khalid bin Walid memang tidak syahid. Allah menyiapkan skenario terbaik untuknya. Allah memberikannya kemasyhuran dan menjadikan kisahnya pelajaran berharga bagi generasi selanjutnya. Allah menjadikannya sebagai salah satu panglima terbaik yang membela dan meninggikan agama-Nya. Allah membanggakannya sebagai salah satu tentara terbaik-Nya. Bahkan Allah menganggapnya sebagai syuhada sekali pun beliau tidak meninggal saat berjihad. Ya, Khalid bin Walid adalah satu-satunya syuhada yang tidak meninggal di medan jihad. Beliau adalah syuhada di sisi Allah. Dan beliau adalah salah satu pahlawan terbaik sepanjang sejarah peradaban kaum Muslimin.
Hal yang kupelajari dari kisah Khalid bin Walid ra. adalah tentang cita-citanya. Awalnya Khalid bin Walid bercita-cita untuk membebaskan dirinya dari dosa kekufuran di masa lalu. Khalid bin Walid ingin memperbaiki kesalahannya. Namun, kemudian cita-cita itu tidak saja menjadi hal yang berarti bagi dirinya, tetapi juga bagi Islam dan kaum Muslimin bahkan di generasi setelahnya. Khalid bin Walid melakukan sesuatu yang besar bagi Islam dan kaum Muslimin dengan cita-citanya menjadi seorang syuhada. Beliau bahkan menjadi panglima terbaik di masanya dan menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya. Kepahlawanan dan keyakinannya akan cita-citanya membuatku banyak belajar. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kuambil dari kisah Khalid bin Walid. Pertama, mimpi dan cita-cita akan sangat egois jika hanya didedikasikan untuk diri sendiri. Cita-cita akan menjadi berarti saat cita-cita itu juga memberi efek kebaikan bagi orang lain. Dan yang tidak boleh terlupa adalah cita-cita harus berlandaskan Islam dan sesuatu yang akan berguna bagi Islam dan kaum Muslimin di masa depan. Siapa saja kaum Muslimin yang percaya bahwa kebahagiaan ada di dalam Islam sudah semestinya menjadikan Islam sebagai landasannya dalam bermimpi dan merangkai cita-cita. Kedua, jangan pernah menyerah pada cita-cita. Setiap yang dicita-citakan pasti memiliki resiko, salah satunya luka dan rasa sakit. Tapi, tidak peduli seberapa pun rasa sakit dan luka yang didapatkan, teruslah bercita-cita dan teruslah berusaha mewujudkannya. Ketiga, meski pun suatu saat cita-cita itu tidak tercapai, yakinlah bahwa Allah akan selalu menyiapkan skenario terbaik-Nya untuk kita karena Allah selalu tahu yang terbaik untuk Hamba-Nya.
Jika saat ini aku belum bisa menemukan apa yang kuimpikan dan kucita-citakan, aku akan terus percaya bahwa Allah telah membentangkan jalan di hadapanku untuk kulalui dan tidak peduli seberapa jauh jalan itu, Allah pasti akan menuntunku kepada cita-citaku dan suatu hari aku akan menemukannya. Tugasku sekarang adalah berusaha dengan segala kemampuanku untuk menemukannya.

Kendari, 1 Rabiul Awal 1438 H. December 1st 2016. 07:27 PM.

Advertisements

Man to Man

Dalam permainan basket ada sebuah strategi bertahan yang dinamakan dengan pola Man to Man. Pola ini berfokus pada orang per orang. Kalo lihat kasus yang sedang ramai beberapa waktu ini di media, saya teringat pada strategi ini.

Kaum Muslimin di Indonesia digemparkan oleh sebuah video yang langsung viral sejak pengunggahannya. Video dari orang nomor wahid ibukota yang terang-terang melecehkan isi Al Qur’an, yakni surat Al Maidah ayat 51 mengenai larangan keras memilih pemimpin kafir. Tentang pelecehannya tentu saja karena saat ini perpolitikan ibu kota sedang panas-panasnya dan suara kaum Muslimin seragam menentang untuk dipimpin oleh orang kafir. Isu ini pun kemudian menjadi semakin sensitif ketika dimasukkan dalam aspek SARA.

Sebagai seorang Muslim, kalau ditanya kepada siapa saya berpihak, tentulah saya berpihak pada keyakinan saya. Dan dalam kasus ini jelas saja saya tersinggung. Orang Muslim saja tidak berani melecehkan isi Al Qur’an (kecuali yang sudah tidak waras) padahal mereka membacanya dan mengimani pembuatnya. Trus, ada orang yang bahkan mengimani Tuhan-nya kaum Muslimin saja tidak, dengan “sok” pintarnya berkomentar tentang sebuah ayat yang bahkan kaum Muslimin tidak berani untuk mengingkarinya. Menyebalkan sekaligus menggelikan. Oleh karena itu, saya teringat dengan strategi permainan basket, Man to Man. Di satu sisi hal ini tentu menyulut kemarahan umat. Tapi, di sisi lain ini sebuah peluang. Peluang untuk umat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana drama Demokrasi yang masih on going ini. Harus ada orang yang terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Islam sehingga umat Islam sadar dan bisa melihat fakta yang sebenarnya.

Dalam Demokrasi, perebutan kekuasaan akan menjadi pentas yang selalu ditunggu-tunggu penayangannya. Semua orang yang ingin menduduki tampuk kekuasaan beramai-ramai menggalang simpati rakyat demi mewujudkan tujuan mereka untuk menjadi penguasa. Hanya di dalam Demokrasi, orang kafir bisa menjadi penguasa dan berkata seenaknya tentang hal yang bahkan tidak mereka yakini. Hanya dalam Demokrasi, Islam tidak memiliki posisi. Islam hanya sebagai agama spiritual yang bebas diperlakukan sesuai kehendak penguasa. Padahal, Islam adalah sebuah dien yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk politik. Inilah perbedaan antara Islam dengan agama yang lainnya. Dan alangkah tendensiusnya jika kesempurnaan Islam ini disangkut-pautkan dengan SARA karena sejatinya Islam adalah satu-satunya agama dan ideologi yang benar. Dan kebenaran itu akan selalu ada satu. Itulah Islam. Al Qur’an diturunkan oleh Allah untuk memecahkan seluruh permasalahan umat manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Politik yang selalu berusaha dipisahkan dari agama, Islam justru menyatukannya dengan landasan ketakwaan. Seorang pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya tentu akan menerapkan aturan Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Dia tidak akan mencari tampuk kekuasaan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya dalam rangka memenuhi hawa nafsunya untuk berkuasa dan demi materi semata. Dia akan menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk meraih keridhoan Allah dan meninggikan kalimat-Nya di seluruh dunia.

Oleh karena itu, kaum Muslimin harus cerdas dan cermat dalam melihat fakta hari ini. Permasalahan sebenarnya tidak hanya terletak pada orang tetapi juga sistem yang diterapkan. Imam Al Ghazali menyatakan bahwa agama dan kekuasaan ibarat saudara kembar. Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak memiliki fondasi pasti akan runtuh. Dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga pasti akan hilang. Rasulullah SAW pun telah mengingatkan sejak jauh-jauh hari bahwa seorang pemimpin layaknya gembala dan seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.

Demokrasi tidak akan menjanjikan masa depan yang cerah bagi negeri ini. Pun dengan negeri-negeri lain di seluruh dunia. Demokrasi adalah sumber petaka yang melahirkan orang-orang berhati busuk dan berotak kriminal. Demokrasi hanya melahirkan orang-orang yang haus harta dan tahta. Dan Islam selamanya takkan pernah bisa disandingkan dengan Demokrasi karena Islam meyakini kedaulatan hanya pada Allah semata sedangkan Demokrasi meyakini bahwa kedaulatan adalah milik rakyat.

Imam at-Tirmidzi telah menuturkan riwayat dari jalan Adi bin Hatim yang mengatakan:

“Aku pernah datang kepada Nabi saw., sementara di leherku tergantung salib yang terbuat dari emas. Nabi saw. Lalu bersabda, “Wahai Adi, campakkan berhala itu dari tubuhmu.” Aku kemudian mendengar Beliau membaca surat at-Taubah (yang artinya): Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (TQS at- Taubah [9]: 31). Beliau selanjutnya bersabda, “Adapun bahwa mereka tidak menyembah orang-orang alim dan para rahib mereka (itu memang benar). Akan tetapi, mereka itu, jika orang alim dan rahib mereka menghalalkan sesuatu, mereka pun menghalalkannya, dan jika orang alim dan rahib itu mengharamkan sesuatu, mereka pun haramkan sesuatu itu.”

            Saatnya tinggalkan Demokrasi-Kapitalisme dan segala ide-ide turunannya. Saatnya kembali kepada Islam kaffah dengan menerapkan Syariah di bawah naungan Khilafah. Allahu Akbar!

Wallahu ’alam bi ash shawwaab

 

Kendari, 18 Oktober 2016. 07:19 PM.

 

Lebih dari Sekedar Kata

I tell myself once again that the world isn’t perfect (Young Forever – 방탄소년단)

Seorang teman pernah mengatakan bahwa kita tidak selalu bisa menjadi tokoh protagonis, seberapa kerasnya kita mencoba. Kadang, kita akan menjadi tokoh antagonis dalam kehidupan seseorang bahkan tanpa kita rencanakan. You can’t always please everyone. Kalimat itu benar adanya. Rasulullah SAW yang baiknya gak ada saingannya masih saja bisa bikin orang-orang Quraisy dan musuh-musuh Islam kesal. Apalagi saya yang cuma Hamba yang bahkan tidak bisa menjamin diri saya masuk surga? Mungkin, karena itu salah seorang teman pernah memblokir akses saya ke akunnya. Mungkin karena itu teman saya yang lain ingin saya pergi jauh-jauh dari kehidupannya, yakni karena kesalahan yang tidak bisa dia tolerir atau dia lupakan begitu saja hanya dengan kata maaf.
Maaf. Lebih dari sekedar kata. Mudah saja meminta maaf, namun hati orang tidak bisa dipaksa. Jika kita bisa dengan mudah memohon ampunan kepada Allah dengan ber-istighfar, belum tentu bisa melakukan hal yang sama kepada manusia. Seperti Rasulullah yang terluka saat Wahsyi, seorang budak yang membunuh paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthallib meminta maaf. Rasulullah SAW tidak bisa melihat wajahnya bahkan saat Wahsyi sudah menjadi seorang Muslim. Rasulullah SAW juga manusia dan beliau juga bisa terluka. Beliau bisa merasakan sakit hati. Sakit hati Rasulullah kepada Wahsyi bukan sebagai Nabi tetapi sebagai manusia. Dan siapa pun bisa merasakannya.
Begitu pun dengan saya. Saya tidak menyalahkan siapa pun yang memblokir saya atau tidak nyaman dengan keberadaan saya dalam hidup mereka. Jika saya memiliki kesalahan, maka saya wajib meminta maaf. Namun, saya tidak bisa memaksa mereka untuk begitu saja menerima permintaan maaf saya. Apalagi jika saya melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati mereka karena terkadang maaf saja tidak cukup. Jadi, bagi siapa saja yang membaca tulisan ini dan kebetulan saya pernah menyakitinya maka dengan penuh kerendahan hati, saya, Dwi Putri Ayu Rizky Anggun Lestari memohon maaf yang sebesar-besarnya. Begitu pula dengan orang-orang yang dulu pernah saya sakiti baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Dan saya berharap bisa belajar dari kejadian ini agar di kemudian hari saya lebih berhati-hati dalam berkata maupun bersikap kepada orang lain.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Kendari, 6 Oktober 2016.

Hobi Baru

When you feel you don’t deserve something, just do the way it goes.

Dua bulan lalu saat chatting sama salah ustadzah ketika di Malang dulu saat saya mengomentari foto anaknya yang baru berusia 5 bulan. Beliau mengatakan bahwa beliau menunggu yang professional untuk bisa mengambil foto anaknya (maksudnya nyindir saya gitu). Trus, saya iseng aja bilang, oke Mbak tak latihan dulu setahun ini 😀.

Entah sejak kapan saya suka jepret-jepret. Kayaknya dari SMA, tapi waktu itu masih amatir pake banget (sekarang juga iya). Tapi, baru bener-bener suka beberapa waktu yang lalu. Apalagi setelah punya Instagram. Sayangnya, hal itu juga terkadang melenakan dan nyerempet-nyerempet riya’. Jadi, saya sekarang harus lebih berhati-hati.

Trus, kenapa saya suka jepret-jepret? Karena saya ingin mengabadikan setiap momen dalam hidup saya. Dulu saya agak menyesal kenapa saya tidak suka berfoto. Meski pun tidak alay, saya ingin mengabadikan kenangan dan hal yang saya lewati dalam hidup saya. Entah kenapa saya percaya bahwa foto bisa mengabadikan waktu (apa pula itu? :D). Mengambil foto mengajarkan tentang timing, kesabaran, kepekaan dan pantang menyerah (karena untuk bisa dapat foto yang bagus tidak cukup sekali jepret).  Sekarang saya masihlah fotografer amatir. Tapi, sepertinya kata “fotografer” itu tinggi banget kelasnya untuk saya. Fotografer wanna be iya kali ya? Jepret masih pake kamera seadanya, filter sana-sini pula 😀 Tapi, itu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Apalagi kalo ketemu objek yang bagus. Semoga suatu saat saya bisa memiliki kamera sendiri yang bisa saya gunakan untuk menginspirasi banyak orang. Aamiin~

Kata salah seorang ustadzah saya dulu, kalau pengen sesuatu, niat aja dulu. Niat yang kuat trus doa yang banyak, in syaa Allah akan diberi jalan oleh Allah. Bagi Allah tidak ada hil yang mustahal eh hal yang mustahil. Jadi, percayalah kepada-Nya.

Kendari, 7 Oktober 2016. 06:01 AM.

Far Away

Dream, we’ll be full in blossom after these hardships

(Min Yoon Gi).                                                                

Aku kembali bertanya tentang mimpi, cita-cita dan hal paling ingin dilakukan. Bagaimana jika aku hanya bermimpi tentang hal yang sederhana? Bagaimana jika aku bermimpi besar lalu aku gagal? Bagaimana jika aku tidak bisa meraih apa yang aku impikan? Bagaimana jika aku harus menyerah pada mimpi-mimpi itu? Bagaimana aku akan menghadapi dan menanggulangi segala rasa kecewa itu?

Dulu di awal kuliah saat aku ditanya kenapa aku belajar bahasa Jepang, aku dengan yakin menjawab aku ingin menjadi guru bahasa Jepang. Lalu, beberapa tahun kemudian saat praktek mengajar di kelas aku benar-benar kaku dan aku tidak bisa mengajar dengan benar. Padahal, aku senang mengajari orang dan berbagi tentang hal yang kuketahui. Sebelum-sebelumnya aku juga sudah pernah gagal. Aku tidak pernah mengajar privat lebih dari dua periode. Jika teman-temanku bisa membangun hubungan baik dengan murid yang diajar, aku tidak bisa membangun itu dengan mudah. Lalu, akhirnya aku menyadari hal-hal yang menjadi kekuranganku. Salah satunya adalah ketidakpekaan dan ketidakmampuanku dalam membangun sebuah hubungan. Semua hubungan yang kubangun dan kujalani runtuh dengan mengenaskan.

Setelah lulus dari universitas, aku memiliki ekspektasi yang tinggi akan kehidupanku selanjutnya. Namun, semua tidak berjalan seperti harapanku. Kenyataan jauh lebih keras dari yang bisa kubayangkan. Lalu, aku mulai merasa ada yang aneh pada diriku. Aku menjadi lebih sensitif. Aku mudah emosi, aku mudah menjadi sedih. Duniaku serasa kosong, ditambah lagi aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Tanpa kusadari aku merasa kesepian. Kesepian yang tidak bisa aku definisikan. Aku sudah membenci diriku dan dengan kondisi seperti itu aku semakin membenci diriku. Aku semakin tertekan. Semua terasa jauh. Jauh sekali. Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa cita-citaku sia-sia. Dan semua sudah berakhir. Aku sudah tidak punya sesuatu yang bisa kukejar.

Kemudian, aku kembali berpikir. Aku kembali merenung. Tentang siapa aku, apa tujuan hidupku, tentang amanahku, tentang apa yang harus kulakukan dan tentang apa yang akan kupertanggung jawabkan di hadapan Allah nantinya. Tidak ada mimpi yang sepele. Mainstream atau tidak mainstream, ia tetaplah mimpi dan ia akan menjadi cita-cita yang akan diupayakan untuk terwujud. Jika orang lain memiliki mimpi, harusnya aku juga. Aku seorang Muslim dan seorang Muslim harus punya cita-cita. Cita-cita yang akan menghantarkannya ke surga. Dan semua cita-cita yang tidak didedikasikan untuk meraih ridho Allah adalah cita-cita yang sia-sia. Lalu, sekali lagi aku bertanya pada diriku, apa hal yang paling ingin kulakukan?

Aku ingin bisa berbagi dengan orang lain. Mungkin sekarang aku hanya bisa berbagi hal kecil kepada sedikit orang. Tapi, suatu saat aku harus bisa berbagi banyak hal dengan orang yang lebih banyak. Aku ingin bisa menginspirasi banyak orang agar mereka bisa hidup dengan benar dan bahagia dengan kehidupannya. Mungkin sekarang aku belum cukup baik dan layak untuk itu. Mungkin juga iya bahwa sekarang aku hanya berkoar-koar tentang apa yang menjadi cita-citaku lalu aku masih dalam suasana mendung dan badai yang tak henti-hentinya menghantam kehidupanku. Dan mungkin juga benar bahwa sekarang aku sedang berusaha untuk memaafkan semuanya termasuk diriku sendiri. Namun, aku tidak ingin menyesali apa pun karena orang yang terjatuh akan selalu punya kesempatan untuk bangkit kembali. Tulisan ini untuk mengingatkan diriku bahwa episode-ku belum berakhir. Aku masih bisa membuat sekuelnya karena rizki terbesarku sekarang adalah kesempatan hidup yang Allah berikan. Dan aku tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja. Mungkin kita pernah merasa seperti itu. Merasa bahwa apa yang kita cita-citakan menjauh dan semakin lama harapan kita semakin redup. But, life must go on, right? Kegagalan itu suatu saat akan membawa kita kepada keberhasilan. Ya, semua itu adalah pelajaran untuk bersabar dan tetap yakin bahwa sejauh apa pun kita berputar, Allah akan menuntun kita kembali kepada mimpi-mimpi kita.

Satu lagi yang tidak boleh kulupakan bahwa sekarang aku hidup dalam sistem yang menganggap materi adalah segalanya. Semua orang dipaksa untuk bertarung demi uang, harga diri dan kehormatan mereka. Semua orang diarahkan menuju impian-impian duniawi yang tidak akan pernah berakhir untuk dikejar. Semua orang dibuat lupa oleh sesuatu yang disebut pahala dan dosa. Semua orang dibuat buta akibat silaunya dunia. Semua orang dibuat tak lagi melihat bahwa Surga adalah kebahagiaan hakiki. Ya, Sistem Kapitalisme yang membuat dunia seperti duniaku hari ini. Oleh karena itu, satu-satunya cara adalah kembali sadar akan posisi diri sebagai hamba Allah dan posisi Allah sebagai Pencipta dan Pengatur. Semua harus dikembalikan kepada aturan Allah dan tentu harus berjuang untuk bisa menerapkan aturan itu dengan sempurna.

Selama Islam belum menjadi landasan kehidupan manusia sampai level negara, selama itu pula manusia akan terpedaya oleh dunia yang justru akan mencelakakan mereka di hari kemudian.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Kendari, 26 September 2016. 11:56 AM.

Pada Akhirnya

Entah ada angin apa saya jadi tiba-tiba nulis postingan super “mellow” begini. Tapi, ya sudahlah. Semoga bisa diambil ibrahnya ^_^ (Sebelum pada salah paham, saya ingin meluruskan dulu bahwa postingan ini bukan posting ala-ala “kode” keras. Saya hanya terpikir saja mengingat di luar sana masih banyak perempuan seumuran saya yang galau soal beginian. Ya, ini bagian dari bentuk kepedulian –kalau tidak mau disebut keprihatinan– kepada mereka dan mungkin bisa jadi pengingat bagi saya suatu hari nanti agar saya gak ikutan galau. Selain itu, saya juga bingung mau nulis apa karena ini project pribadi saya untuk mulai nulis lagi, jadi ya udah angkat topik ini aja mumpung kepikiran hehehe).
Bulan Mei lalu sepupu saya melangsungkan pernikahan. Waktu kecil kami cukup dekat, namun karena satu dan lain hal akhirnya sekarang tidak begitu dekat lagi (tapi dia ngundang saya pas nikahannya kok, sayangnya saya gak bisa hadir waktu itu hehehe). Pas lihat suaminya saya kaget. Wah, suaminya di luar ekspektasi saya. Sepupu saya yang lain juga punya kasus serupa tapi tak sama dengan sepupu saya yang tadi. Tapi, yang akan saya bahas sepupu saya yang baru menikah beberapa bulan lalu itu.
Sepupu saya itu cantik dan sejak SMP udah pacaran. Yang paling lama adalah pas SMA. Best couple in the school gitu ceritanya. Saya pikir udah bakalan sama itu soalnya udah gimana banget. Udah deket banget. Eh, ternyata pas nikah juga sama yang satu sekolah tapi ternyata bukan pacarnya yang dulu. Pas lihat gitu saya langsung bayangin gimana dulu romantisme jaman sekolah. Saya cuma bisa istighfar. Dan alhamdulillah sepupu saya itu udah berhijab sekarang dan pastinya gak pacaran lagi dong. Dari situ saya mikir bahwa pada akhirnya hanya yang terbaiklah yang akan datang dengan cara terbaik. Hanya pria sejatilah yang berani datang kepada orang tua dengan cara baik-baik untuk melamar anak perempuannya. Pada akhirnya pria yang serius saja yang akan berani mengajak serius. Memang, masalah hati tidak bisa dipaksakan. Kadang kita pengen suka sama yang A,B,C,D, ini-itu, sana-sini tapi ujung-ujungnya malah suka sama yang gak dibayangkan. Meski pun mencintai itu juga sebuah pilihan.
So, untuk yang masih percaya bahwa pacaran adalah jalan untuk mendapatkan jodoh terbaik, saya katakan itu salah. Islam tidak mengajarkan seperti itu dan sudah terbukti pacaran itu lebih banyak mudharatnya. Atau kalau tidak pacaran, gak usah ngoding sana-sinilah atau curhat sana-sini. Cukup Allah saja yang tahu isi hati kita dan biarkan saja kita puas nyebut namanya dalam doa dan gak usah disebut dalam tulisan meski dengan label “kusebut namamu dalam doaku”. Dan yang pasti, karena mencintai itu adalah sebuah pilihan, maka setiap pilihan pasti ada resikonya termasuk resiko patah hati. Jika orang yang kita sukai tidak memiliki perasaan yang sama pada kita, terima saja dan yakinlah bahwa ada seseorang yang sudah Allah siapkan untuk kita. Tinggal kita aja mau move on atau gak. Semakin cepat semakin baik. Mau nangis dulu juga gapapa, toh nangis karena sedih atau patah hati manusiawi tapi jangan sampai berlarut-larut. Jatuh cinta itu fitrah kok. Patah hati juga fitrah. So, yakinlah bahwa pada akhirnya semua akan berjalan sesuai dengan episode yang sudah Allah buat skenarionya sedemikian rupa agar kita bisa meraih pahala sebanyak-banyaknya termasuk urusan hati.
Last but not least, saya pengen bilang sebaiknya perasaan gak usah diumbar-umbar apalagi kalo nunggu yang gak pasti. Siapkan diri (ikhtiar) aja sembari menanti waktu yang tepat bagi kita untuk bertemu dengan seseorang yang in syaa Allah adalah yang terbaik untuk kita.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Kendari, 17 Dzulhijjah 1437 H. 19 September 2016. 09:52 PM.

Catatan Idul Adha 1437 H

Momen Idul Adha kali ini adalah Idul Adha pertama di kampung halaman sejak enam tahun terakhir. Ada saat dimana saya benar-benar merindukan kota perantauan. Saya merindukan saat-saat bersama teman-teman yang juga tidak mudik dan serunya bisa memasak bersama. Tapi, sia-sia banget kan momen Idul Adha begini tanpa perenungan?

Ngomong-ngomong soal Idul Adha, deket banget hubungannya dengan pengorbanan (kisah nabi Ibrahim dengan putranya, nabi Ismail) dan juga persatuan (momen haji). Kalo dilihat dari sudut personal, Idul adha mengajarkan tentang meletakkan kecintaan tertinggi kepada Allah sebagaimana nabi Ibrahim ketika diperintahkan menyembelih anaknya. Hal yang sangat berat bagi seorang manusia adalah mengorbankan apa yang mereka cintai. Melalui nabi Ibrahim dan nabi Ismail Allah mengajari kita untuk berani berkorban, khususnya mengorbankan apa yang kita cintai untuk Allah.

Secara pribadi, saya memaknai Idul Adha bagi diri saya sendiri adalah tentang pengorbanan dan berbagi sebagai bentuk kasih saya kepada saudara sesama Muslim. Saya adalah seorang yang keras kepala. Dari luar saja mungkin saya terlihat penurut. Namun, sebenarnya saya cukup sulit untuk bisa merelakan sesuatu yang saya cintai dengan harapan lebih bahwa Allah sudah tahu apa yang terbaik untuk saya. Jika saya tidak bisa mendapatkannya hari ini, maka saya akan mendapatkannya esok hari. Allah berfirman bahwa boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untuk kita dan sebaliknya, boleh jadi kita membenci sesuatu namun ternyata hal itulah yang kita butuhkan dan saya benar-benar merasakannya. Saya masih merasa berat untuk melepas hal-hal tertentu dan itulah PR besar saya. PR yang harus saya selesaikan bersama diri saya. Saya tidak boleh membiarkan diri saya seperti itu terus menerus dan satu-satunya cara adalah mulai belajar bersyukur dengan apa yang masih tersisa pada saya dan berharap untuk hal yang baik di kemudian hari karena bisa saja semua yang tidak saya dapatkan, semua yang pergi dari hidup saya adalah bentuk kasih sayang Allah kepada saya. Semua adalah bentuk penjagaan Allah untuk saya dan saya harus terus menyadarkan diri saya akan itu.

Kedua, tentang berbagi. Saya seorang introvert. Introvert tidak senang berbagi dengan banyak orang. Mereka lebih suka berbagi dengan sedikit orang, termasuk diri mereka sendiri. Mungkin karena itu saya sering menganggap bahwa derajat keegosisan saya berada di atas rata-rata alias saya terlalu egois. Momen Idul Adha membuat saya belajar tentang berbagi. Untuk bisa berbagi butuh keikhlasan dan hati yang lapang untuk mau memberi maupun menerima. Saya belum bisa berkurban, jadi mungkin saya belum bisa berbagi dalam arti yang sebenarnya. Namun, saya berharap dengan saya menulis saya bisa sedikit berbagi dengan orang lain entah siapa pun dia. Terlebih lagi dengan orang-orang di sekitar saya. Orang-orang yang membutuhkan saya dan orang-orang yang saya sayangi.

Satu lagi, momen Idul Adha sejatinya adalah momen perenungan bagi kaum Muslimin. Kita umat yang besar. Setiap tahun jutaan kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia melaksanakan ibadah haji tanpa memandang status dan kedudukan, ras dan kebangsaan serta hal-hal sejenisnya. Di sana semua meneriakkan kalimat yang sama, memakai pakaian yang sama dan menjalankan ibadah yang sama. Kita perlu renungkan lagi bahwa kita memiliki persamaan besar. Kita adalah umat dengan potensi yang luar biasa dan karena itu harusnya kita tidak bercerai-berai hanya karena perbedaan kecil. Seharusnya kita balik saja, cari persamaan dan jangan terlalu banyak melihat perbedaan. Sekarang kaum Muslimin sering berselisih bahkan berperang sesama mereka hanya karena perbedaan kecil sedangkan persamaan yang besar jarang dilihat. Mereka sering berdebat tentang perkara yang memang sunnatullah berbeda, namun jarang sekali mereka membahas hal yang seharusnya dilakukan sesegera mungkin. Menegakkan Islam dalam bingkai negara, misalnya. Tidak sedikit kaum Muslimin yang masih menyangsikan kembalinya Khilafah yang akan menerapkan Syariat Islam. Terlepas dari adanya pengaruh penjajahan sistem Kapitalisme-Sekuler, seharusnya lewat momen hari raya dua kali dalam setahun kita bisa merenung untuk berbenah, bukan sekedar menjadikan momen hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha sebagai pemuas dahaga rohani semata, namun ada poin besar di sana yakni fakta bahwa kaum Muslimin memiliki potensi untuk berpengaruh karena banyaknya jumlah mereka dan tersebarnya mereka di seluruh penjuru dunia. Jika kita bersatu dengan meminimalisir perselisihan di antara kita, Khilafah takkan lagi sekedar utopia yang tidak bisa dibayangkan dengan akal sehat. Maka, tugas menegakkan Khilafah adalah tugas generasi kaum Muslimin hari ini, bukan hanya tugas kelompok atau gerakan tertentu karena Khilafah adalah milik kaum Muslimin.

Saya sangat merindukan ketika kalimat takbir, tahmid dan tahlil menjadi pengisi di hari-hari umat manusia bukan hanya kepada orang-orang tertentu karena risalah Islam adalah risalah untuk seluruh manusia. Sudah saatnya seluruh kaum Muslimin meneriakkan satu suara dan membayangkan satu visi, membumikan Islam sebagai sistem kehidupan.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Kendari, 11 Dzulhijjah 1437 H. 13 September 2016. 05:32 PM.

Like A Bulletproof

Beberapa hari yang lalu jagad sosial media dihebohkan oleh video seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang menyerukan sebuah kampanye “Tolak Pemimpin Kafir”.  Video berdurasi 1 menit 37 detik itu sontak menuai kontroversi dari netizen setelah sebelumnya mendapat peringatan dari pihak kampus. Hujatan datang bertubi-tubi baik dari segi konten maupun teknis sajian video tersebut.

Setelah melihat video tersebut, saya langsung lari ke jejeran komentar. Meski banyak yang menghujat, namun tak sedikit yang mendukung. Lewat tulisan ini saya tidak hendak mengomentari teknisnya karena teman saya sudah lebih dulu melakukannya dan kurang lebih saya sepakat dengan apa yang ia sampaikan. Saya ingin mengapresiasi mahasiswa yang sudah dengan berani dan lantang menyuarakan kebenaran meski berbekal peralatan seadanya (seperti saya saat menulis tulisan ini, hehehe). Sudah lama saya tidak melihat lagi gebrakan aktivis mahasiswa pasca rame-rame menolak rezim Neolib Jokowi-JK. Dan sekali lagi Gema Pembebasan menunjukkan gebrakan mereka lewat video yang sangat berani (kalo tidak mau dibilang heroik, apalagi untuk ukuran kampus ternama di Indonesia Raya ini). Beberapa tahun yang lalu beberapa aktivis Gema Pembebasan di Kalimantan juga sempat menuai kontroversi karena pernyataan mereka yang berani. Tahun ini Gema Pembebasan kembali menjadi trendsetter pergerakan mahasiswa Islam yang berani menyuarakan kebenaran dan terang-terangan menentang kebatilan.

Jika sebagian pihak menuding bahwa apa yang dilakukan oleh Boby mencoreng nama universitas sebagai lembaga yang netral dari politik praktis, namun apakah sebagai mahasiswa Boby tidak berhak menyuarakan pendapatnya yang terlebih pendapat itu adalah keyakinannya? Jika mahasiswa bebas berkoar-koar di tengah jalan dengan almamater kemudian membakar ban dan berkelahi dengan polisi dianggap sah dalam Demokrasi sebagai bentuk kebebasan berpendapat (meski tidak bertanggung jawab), mengapa seorang mahasiswa menjadi bulan-bulanan kampus hanya karena berusaha menyampaikan apa yang ia yakini sebagai kebenaran? Tentu hal ini tidak adil. Boby tidak sedang menyinggung sesuatu yang berbau SARA karena apa yang disebutkan Boby tidak lain adalah apa yang diserukan oleh Allah SWT di dalam nash-nashnya dengan gamblang tentang tidak bolehnya menjadikan orang kafir sebagai pemimpin bagi kaum Muslimin. Jika orang Muslim saja masih ada yang enggan menggunakan aturan Allah sebagai landasan dalam memerintah, tentu orang yang tidak beriman kepada Islam akan lebih enggan lagi. Oleh karena itu, hal ini bukan semata masalah personal sesorang namun statusnya di hadapan Allah-lah yang menjadi masalah. Jika orang lain dan ia non Muslim kemudian ingin menjadi pemimpin (penguasa), tentu Gema Pembebasan akan melakukan hal serupa.

Saya teringat firman Allah:

“Mereka hendak memahamkan cahaya agama Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.

Apa yang terjadi pada Boby tentu hanya segelintir dari sekian banyak upaya pihak-pihak yang membenci Islam untuk menghalangi tegaknya kembali ideologi Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan. Namun, bagaimana pun kerasnya upaya mereka, Allah telah berjanji untuk memenangkan Islam sekali pun mereka tidak menyukainya. Dari Boby saya belajar bahwa menyampaikan kebenaran tidak saja butuh semangat, tetapi juga keberanian dan keyakinan akan datangnya pertolongan Allah. Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah cara yang penyampaian yang lugas, tegas dan professional akan menambah kuat pengaruh opini yang disampaikan (karena saya gemas dengan komentar, “upload video itu biar banyak yang respon trus dapat duit buat beli tripod”. Ngeselin gak sih?). Dan itu menjadi PR kita bersama, orang-orang yang mengaku sebagai pengemban mabda dan pengemban dakwah. PR yang akan terus kita kerjakan hingga saat Allah berkata, Fulan(ah), saatnya pulang.

Maju terus kawan-kawan Gema Pembebasan. Semoga istiqomah di garis depan perjuangan untuk membumikan Islam sebagai ideologi.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Kendari, 10 September 2016. 10:02 PM.

Ironi Kehidupan dalam Sistem Kapitalisme

Aku gak bisa bilang kalo ini sisi positif hidup dalam sistem Kapitalisme karena emang sistem Kapitalisme itu udah rusak dari sononya. Kalo akarnya udah rusak, ya atasnya gak mungkin bagus. Just another way to survive mungkin ya, istilahnya?

Dalam sistem Kapitalisme kita akan hidup dengan berjualan. Jual barang dan jasa. Hari ini semua bisa dijual karena sistem Kapitalisme akan melahirkan budaya konsumtif. Sayangnya, prosesnya tidak selalu Syar’i. Dan tidak setiap yang dijual itu memiliki arti yang positif dalam masyarakat. Ibaratnya, lo harus dapat duit. Tapi, duit aja gak cukup. Posisi juga menentukan karena jabatan (posisi) menentukan besaran uang yang akan didapatkan. Ya, begitulah masyarakat dalam sistem Kapitalisme. Semua dinilai berdasarkan besaran uang, rumah, kecantikan dan semua ukuran fisik lainnya. Tapi, apakah semua itu menjamin kebahagiaan? Tidak selalu, bahkan tidak sama sekali.

Hari ini semua orang selalu khawatir hidup tanpa uang, seolah rizki hanyalah berbentuk uang dan harta benda lainnya. Padahal, rizki itu datangnya dari Allah dan bentuknya tidak hanya uang atau harta benda saja. Kemampuan menikmati hidup karena ketenangan, bisa tersenyum dan bahagia dalam kondisi apapun, bisa selalu mengingat Allah dan istiqomah dalam ketaatan, bertemu dengan orang-orang baik dan berteman dengan mereka, menolong orang meskipun dalam kondisi sulit, melihat langit biru, bulan purnama di malam hari, bintang yang berkelap-kelip indah di ufuk langit, bisa mencuci tiap hari karena cucian akan selalu kering dengan teriknya matahari, memiliki cita-cita dan masih banyak lagi. Satu lagi, rizki berupa hidup dan kesehatan seringkali dilupakan karena sibuk mengejar uang. Tanpa sadar orang-orang menyamakan rizki dengan uang. Padahal, tidak semua bisa dibeli dengan uang meskipun sebagian besar membutuhkan uang.

Beberapa waktu yang lalu aku sering dilanda kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan dan kesedihan. Namun, setelah kupikir-pikir lagi, semua itu karena aku kurang dekat dengan Allah. Penyebabnya satu, rasa malas karena terlanjur terlena. Kemudian aku kembali bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu. Allah adalah sebaik-baik tempat mengadu dan bersandar. Allah adalah satu-satunya tempat meminta. Aku kurang bersyukur dan kurang sabar dalam menghadapi hidupku. Aku kurang sabar dalam menghadapi diriku. Dan tentu saja semua itu karena aku kurang bersyukur, entah karena lupa atau karena sibuk mengejar dunia. Aku masih dengan kebiasaan lamaku. Dan mulai sekarang aku harus sering-sering mengingatkan diriku bahwa semua harus terus diserahkan kepada Allah. Aku harus berharap hanya kepada-Nya. Aku harus berubah meskipun itu tidak mudah.

Kalau dipikir-pikir lagi, Allah yang mencukupi segalanya dalam kehidupan manusia. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana seseorang bisa hidup dengan kehidupan yang begini dan begitu? Nyatanya, mereka masih bisa tertawa. Jadi, sebenarnya siapa membuat hidup itu sulit? Pastinya bukan Allah. Memang Allah akan menghadapkan kita pada kondisi-kondisi tertentu dimana kita akan merasa bahwa itu adalah kondisi yang sulit. Namun, keputusan tetap ada di tangan kita. Tetap bahagia atau sebaliknya.

Apa sih yang mudah di dunia ini? Gak ada. Semua butuh proses. Semua butuh perjuangan. Tapi, apa ada yang terlalu sulit? Gak juga. Asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh karena akan selalu ada jalan keluar selama kita mencarinya. Allah sudah mengatur semuanya. Allah sudah menyiapkan agar semua hamba-Nya berhasil menjalani kehidupannya dengan selalu yakin kepada pertolongan-Nya.

Ngomong emang gampang. Tapi, apa bisa mempertahankan pikiran positif seperti itu? Sulit pake banget. Gimana gak sulit? Sekarang kita semua dihadapkan pada kenyataan, sedangkan realistis dan pragmatis itu beda tipis. Dan kebanyakan kita terjebak pada pragmatisme. Fakta yang menjadi sumber hukum. Realistis itu perlu, tapi terlalu realistis bikin kita pragmatis dan materialistis. Di sanalah kesalahannya. Ketika kita tidak lagi menjadikan uang sebagai wasilah. Ketika kita tidak lagi menganggap nikmat-nikmat kecil sebagai rizki. Ketika kita sudah terperangkap dalam jebakan bahwa uang adalah hal yang pertama dan utama dalam kehidupan hari ini. Ketika kita tidak lagi menyadari bahwa kebahagiaan yang sejati adalah kembali kepada Allah dan aturan-Nya.

Saat kembali kepada Allah, kebahagiaan itu akan selalu dekat. Kita akan mudah bersyukur dan bahagia dengan hal-hal kecil. Kita akan kuat dan punya cita-cita besar. Kita akan selalu bangga saat berpihak pada kebenaran dan dengan senang hati berjuang untuk menegakkannya. Kita akan selalu tenang dalam menjalani kehidupan karena kita percaya bahwa Allah akan selalu berada di sisi kita. Dari sana, kita akan menyadari betapa Allah selalu menyayangi kita. Bagaimana pun kondisi kita. Sejauh apapun kita lari, Allah takkan pernah meninggalkan kita. Allah akan selalu memanggil kita ke sisi-Nya. Selalu.

Dan satu-satunya cara untuk bertahan dalam kehidupan Kapitalis seperti ini adalah terus mengumpulkan kesadaran untuk istiqomah dalam Syariat Allah.  Dengan begitu, kita takkan pernah berhenti untuk mendekat kepada Allah. Kita akan selalu mencari cara untuk dekat dengan-Nya. Salah satunya adalah dengan terus semangat belajar Islam, mengamalkan dan memperjuangkannya. Suatu saat kita akan keluar dari kehidupan menyesakkan ini, tentunya dengan perjuangan. Kita harus berjuang. Harus. Meski mungkin apa yang kita anggap salah dan benar tidak dianggap sama oleh orang lain. Tapi, perjuangan ini adalah bentuk loyalitas kita kepada Allah kan? Bukankah karena itu kita berusaha mewujudkan Khilafah yang akan menerapkan aturan dari Allah? Bukankah karena itu kita harusnya loyal pada negara yang seperti itu saja? Bukan negara bangsa yang sudah memecah-belah kita. Bukankah kemerdekaan adalah ketika kita terbebas dari segala bentuk penjajahan? Dan hanya Islamlah yang mampu membebaskan umat manusia dari segala penjajahan itu.

Kendari, 15 Dzulqa’dah 1437. 18 Agustus 2016. 11:06 PM.

Yang Terakhir…

Beberapa waktu ini saya menikmati saat-saat terakhir saya di perantauan, khususnya dua minggu terakhir. Setiap kali mengingat masa-masa yang sudah saya lewati, air mata saya tidak berhenti mengalir. Setiap kali mengingat bahwa hari ini akan menjadi hari terakhir saya di kota ini karena besok saya akan kembali ke kampung halaman juga menjadi penyebab air mata saya tumpah. Setiap kali melewati jalan yang selalu saya lewati beberapa tahun yang lalu saya menangis. Pun ketika sholat tarawih di masjid kampus saya juga menangis. Sebelum tidur saya juga menangis. Saya tahu hari ini pasti datang dan ini adalah hari terakhir saya di sini.

Memang, setiap yang berawal pasti akan berakhir. Setiap akhir adalah awal yang baru. Namun, tetap saja perpisahan akan menyebabkan kesedihan sekali pun itu tidak selalu diinginkan.

Lalu, bagaimana jika yang terakhir itu adalah waktu kita di dunia? Andai kita tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir kita di dunia, apa yang akan kita lakukan untuk menghabiskan hari ini?

Sebuah kabar mengejutkan kembali menampar diri saya. Salah seorang saudari seperjuangan dan seumuran dengan saya kemarin dipanggil Allah ke sisi-Nya. Saat saya sedang membayangkan apa yang akan saya lakukan di rumah, apa yang akan saya lakukan untuk masa depan saya, apa yang akan saya kejar selanjutnya, dia menjemput saat terakhirnya. Bagaimana jika saya ada di posisinya? Saya pikir, saya tidak akan sepenuhnya siap meski saya sering mengingatkan diri saya tentang kematian.

Saya kembali berpikir. Bagaimana jika ini adalah hari terakhir saya di dunia? Bagaimana jika ini adalah Ramadhan terakhir saya? Bagaimana jika kemarin adalah kali terakhir saya halaqah dan mengisi halaqah? Bagaimana jika kemarin niat saya bergeser? Bagaimana jika ini kesempatan terakhir saya untuk bersungguh-sungguh dalam amanah? Bagaimana jika ini adalah tulisan terakhir saya? Siapkah saya bertanggung jawab akan semua hal yang sudah saya lakukan selama hidup saya? Bagaimana saya mempersiapkan ketika hari itu datang? Sudahkah saya serius dan sungguh-sungguh menyiapkannya?

Jika hari ini saya bisa menangis tatkala ingat bahwa hari ini adalah hari terakhir saya di kota ini, lantas tidakkah diri ini harusnya lebih pantas menangis karena belum optimal dalam menyiapkan kematian? Dan saya pun teringat kalimat Umar bin Khattab ra. bahwa cukuplah mati sebagai sebaik-baik pengingat. Kenapa? Mati adalah akhir dari segala kesempatan. Mati adalah saat untuk beristirahat menunggu tibanya masa kita untuk diadili. Maka kita pun pasti akan menuju ke sana, karena mati adalah proses kehidupan. Semua berawal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Teruntuk saudariku, Siska. Selamat jalan, Ukhty. Engkau telah mengakhiri episode kehidupanmu dengan amat sangat luar biasa. Engkau meninggal sebagai seorang pahlawan. Engkau telah memberikan pengorbanan terbesar yang bisa kau berikan untuk dakwah ini, yakni nyawa. Betapa malunya kami karena belum bisa sepertimu. Semoga Allah mudahkan jalanmu ke sisiNya. Semoga Allah sayangi Engkau dengan menempatkanmu pada tempat terbaik di sisiNya. Semoga kami bisa mengikuti jejakmu, mengakhiri episode kehidupan kami di jalan dakwah.

Malang, 12 Ramadhan 1437 H. 17 Juni 2016. 06:27 am.