[4] Hal yang Sering Terlewatkan

1544298Fokus itu cuma ada satu. Saya setuju. Dalam satu waktu hanya ada satu hal yang bisa difokuskan. Namun, bukan tidak mungkin untuk membagi fokus. Hanya saja, persentasenya yang berbeda antara satu dengan lainnya dan itu biasa disebut dengan prioritas.

Dalam proses kehidupan, hal-hal kecil namun bermakna seringkali terlewat. Entah karena kita keseringan mengejar sesuatu yang besar atau seperti apa. Namun, bukankah dari hal-hal kecil itu kita bisa meraih sesuatu yang besar? Seperti itulah yang kulihat dari diriku.

Selama beberapa waktu saya mencari dan bertanya-tanya tentang apa yang sudah berubah dari diri saya. Apa yang sudah berbeda dari diri saya yang sekarang dengan diri saya yang sebelumnya. Saya begitu sibuk mencari perubahan besar yang terjadi pada diri saya. Saya lupa bahwa sebenarnya saya berubah dengan akumulasi perubahan-perubahan kecil selama beberapa tahun sejak saya mulai masuk universitas. Dan sekarang saya benar-benar merasakannya. Hal-hal kecil yang sering saya lewatkan, bahwa tahun-tahun yang telah saya lewati memberi banyak pelajaran dan membentuk pola pikir serta jiwa saya hingga saya jadi seperti sekarang. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin tanpa sadar membentuk diri saya. Kegagalan-kegagalan yang saya usahakan keberhasilannya. Kelemahan-kelemahan yang saya coba tuk ubah jadi kekuatan. Keterbatasan-keterbatasan yang membuat saya belajar untuk ikhlas, bersyukur dan sabar agar saya bisa hidup dengan tenang dan bahagia.

Seorang teman pernah mengatakan bahwa kita memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa dan itu saya merasakannya setelah kembali ke rumah. Hidup dalam keterbatasan dan Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, saya bisa tetap menikmatinya. Bahkan saya bisa bersyukur dari hal-hal kecil dan penuh keterbatasan di rumah. Pembinaan selama di Malang telah membantu saya menjadi seperti sekarang. Dan masih teringat jelas keinginan saya dalam suatu malam saat menjelang Ramadhan. saya ingin belajar bahagia. Dan hal itu dimulai saat saya benar-benar menyerah pada Allah. Di sanalah Allah mulai mengajari saya dengan ujian yang saya tahu itu berat sekali bagi diri saya sendiri. Ujian kesabaran.

Jika dulu saya bersusah payah membuktikan kepada orang-orang dan adik-adik di sana bahwa saya begini dan begitu, sekarang saya melakukan semuanya semata karena ini bagian dari pengajaran Allah untuk saya. Di sini saya harus super mandiri. Saya harus benar-benar belajar bersabar entah itu sekedar menahan diri atau pun bertahan dalam kondisi dimana saya dibenturkan dengan realita. Semua karena guru-guru saya. Merekalah yang telah mendidik saya menjadi seperti sekarang.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa inilah yang terbaik dari saya. Saya hanya bisa mengatakan saya sudah lebih baik dari yang dulu tapi saya masih perlu meningkatkan lagi kapasitas diri saya. Saya harus melatih diriku untuk meminimalisir kekuranganku yang dapat menghambat laju dakwah. Saya juga harus meningkatkan potensi  sayauntuk mempercepat laju dakwah. Di sisi lain, saya harus tetap peduli pada kehidupan pribadi, cita-cita dan masa depan saya. Semua demi meraih tiket menuju Surga-Nya.

Saya pernah jatuh. Saya berkali-kali gagal. Saya pernah depresi. Saya pernah nyaris putus asa. Kesabaran saya selalu teruji setiap waktu. Saya sudah menyerah pada keadaan dan parahnya saya menyerah pada diri saya sendiri. Saya membenci diri saya, saya membenci hidup saya. Saya juga tak punya banyak waktu untuk jeda dan merenung bersama diri sendiri untuk memutuskan kemana langkah yang akan diambil. Semua kabur. Saya tenggelam dalam kebingungan dan ketidakmampuan untuk peka dalam bertindak. Namun, saya tetap menjalaninya sebagai bagian dari kehidupan sampai Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Allah sekali lagi menunjukkan kepada saya bahwa segalanya mudah bagi-Nya. Segalanya mungkin bagi-Nya. Apalagi setelah saya benar-benar meminta untuk belajar bahagia dari-Nya.

Allah selalu ada untuk saya. Allah mendengar semuanya. Semua kemarahan, semua kekecewaan, semua kebencian, semua kesedihan, semua harapan dan tidak melewatkan satu pun dari itu semua. Saat saya menahan semua perasaan saya, Allah tahu bahwa saya berusaha keras untuk itu. Allah tahu saya benar-benar tidak bermaksud menjadi orang jahat. Allah tahu saya selalu membutuhkan-Nya. Allah tahu saya selalu berharap pada-Nya. Dan sekarang saya mulai merasakan semuanya. Saya merasa lebih tenang dan bahagia.

Perjalanan saya masih panjang. Saya harus terus belajar dan berusaha melatih diri saya untuk menjadi lebih baik. Agar saya bahagia dan kembali pada Allah dalam keadaan bahagia. Saya juga akan berdoa untuk kebahagiaan mereka. Semua orang yang pernah hadir dalam hidup saya.

Kendari, 24 Dzulqa’dah 1437 H. 27 Agustus 2016.

@09:13 AM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s