[1] Writing is a Therapy

yJluwNX

Salah seorang teman lama pernah bilang ke saya, “menulislah, karena menulis itu terapi”. Saya setuju. Menulis adalah terapi. Setidaknya, saya menemukan ketenangan saat menulis. Ada rasa bahagia tersendiri yang menyelinap bahkan sebelum saya menyadarinya hingga akhirnya saya berkesimpulan bahwa menulis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari diri saya.

Tahun lalu saya sempat depresi. Saya bahkan tidak percaya sampai saya mengalaminya sendiri. Sampai sekarang bayangan itu masih ada. Masa-masa kelam yang saya lalui sampai saya memutuskan untuk bangkit dan menyembuhkan diri. Ada masa-masa dimana saya benar-benar merasa kesulitan karena saya tidak pernah punya kekuatan lebih untuk langsung mengungkapkan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan. Ditambah lagi saya sering bingung dengan apa yang saya rasakan. Di saat itulah menulis menjadi satu-satunya senjata saya untuk mengungkapkannya, termasuk saat saya jujur mengakui semuanya pada diri saya dan pastinya pada Allah, Dzat yang menciptakan saya.

Menulis banyak membantu saya dalam masa penyembuhan. Salah seorang teman bilang, depresi biasa bisa disembuhkan sendiri dan masa penyembuhannya berkisar antara 3-6 bulan. Sekarang, saya sudah memasuki bulan kelima masa penyembuhan. Alhamdulillah semua tidak sesulit dulu. Berkat menulis saya bisa menata lagi hati dan pikiran saya serta kembali mengevaluasi semua yang sudah terjadi. Saya bisa memulai semua kembali saat saya memberanikan diri untuk menulis lagi.

Tentu saja ini bukan hal yang membanggakan. Namun saya percaya bahwa segala sesuatu terjadi dengan sebuah alasan. Dan perlahan saya menemukan pelajaran di balik depresi yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Jika saya tidak depresi, mungkin saya tidak akan sekuat sekarang. Mungkin saya tidak akan sebahagia sekarang. Dan mungkin saja saya tidak akan begitu menggebu-gebu untuk lebih dekat dengan Allah. Saya jadi sadar bahwa saya hanyalah seorang manusia yang lemah dan terbatas. Allah-lah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Depresi yang saya alami menunjukkan bahwa saya hanyalah manusia biasa yang bisa jatuh, terluka dan tersesat. Namun, saya akhirnya menyadari bahwa Allah memanggil saya kembali lewat masa itu.

Saya akan tetap menulis. Saya akan terus menulis dan saya bahagia karena saya bisa berbagi lewat apa yang saya tulis, termasuk saat saya menulis tulisan ini.

Kendari, 10 Mei 2017.

@ 21:00 Wita

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s