Surga (Juga) Ada di Rumah

Beberapa saat yang lalu saya sempat kebingungan. Selama enam tahun belakangan kehidupan saya dipenuhi dengan kesibukan. Ya, sibuk menjadi seorang aktivis kampus. Kerjaannya tiap hari bolak-balik kampus. Pas masih kuliah, pas masa tugas akhir, pas mau wisuda, pas masih awal-awal di dakwah kampus, pas udah jadi senior, pas harus bolak-balik kontak dosen, pas harus rapat, pas ketemu adik halaqah, pas yang lain-lain. Rutinitas yang tidak sekedar rutinitas tersebut telah menjadi bagian hidup saya sejak enam tahun yang lalu.

Semuanya berubah total saat saya memutuskan kembali ke kampung halaman. Secara fakta saya kembali ke majal yang lama. Namun, secara SWOT semuanya sudah jauh berbeda. Ya, karena generasinya juga sudah berubah dan saya sadar bahwa saya sudah bukan remaja belasan lagi yang dulunya masih alay dan lebay ala-ala anak SMA. Saya bukan di zaman ketika saya masih awal sekali mengkaji Islam. Saya bukan lagi di zaman ketika saya masih labil dan alay. Enam tahun sudah berlalu dan mungkin saya yang tidak berubah. Waktu serasa berhenti dan saya mengalami semacam culture shock.

Saya yang sudah terbiasa dengan kehidupan mahasiswa yang jarang di kontrakan, akhirnya merasa seperti mendekam di dalam penjara. Rumah di pelosok, akses sulit karena kendaraan tidak punya, air terbatas, internet juga terbatas, tetangga sedikit dan semua hal baru yang saya temui nyaris bikin saya hilang kesadaran. Berasa orang asing padahal dulunya saya hidupnya di lingkungan sini meski pun jarak rumah saya yang sekarang sama rumah saya yang dulu jadi lebih jauh, tapi masih bisa disebut satu lingkungan. Selama beberapa waktu saya merasa seperti syuting film dokumenter dengan tema survival.

Setiap hari saya melakukan kebiasaan yang sama. Pekerjaan rumah dan sejenisnya. Saya menggunakan kesempatan keluar rumah di saat-saat yang penting saja (dari dulu juga saya tidak suka kemana-mana kalau tidak penting), namun karena jarak tempuh yang jauh akhirnya selama beberapa waktu saya merasa kelelahan apalagi saya tidak terbiasa berkendara jauh dan hampir setiap waktu saya harus naik motor. Musim hujan menjadi tantangan terbesar bagi saya. Saya seperti syuting My Trip My Adventure. Setelah melewati masa-masa itu, saya tidak percaya bahwa saya ternyata bisa melewatinya.

Selama itu saya lupa melupakan satu hal. Hal sederhana yang sebenarnya mampu menyelamatkan saya dari rasa bosan dan lelah dengan rutinitas. Hampir sepanjang waktu saya menarik nafas panjang dan membayangkan kehidupan seorang ibu rumah tangga biasa. Saya juga membayangkan seorang ibu yang bekerja. Itu benar-benar melelahkan. Pekerjaan rumah tangga benar-benar melelahkan. Tapi, saya lupa bahwa hal itu adalah sumber pahala bagi saya. Mungkin kelihatannya sepele. Bangun pagi, bersih-bersih rumah, cuci piring, masak, cuci pakaian, setrika pakaian dan begitu terus selama beberapa bulan. Saya lupa bahwa di rumah saya juga ada surga. Setidaknya ada hal yang bisa menjadi tabungan menuju surga bagi saya. Mungkin karena saya terlalu realistis atau bahkan jadi materialistis (astaghfirullah~) setelah pulang kampung. Namun pada akhirnya saya sadar bahwa saya pulang ke rumah juga untuk birrul walidayn. Setidaknya saya bisa membantu meringankan pekerjaan Mama di rumah. Setidaknya Mama pulang kantor tidak terlalu capek kalau harus masak lagi. Setidaknya Bapak kedua saya tidak harus menunggu lama untuk makan jika telah selesai berkebun.

Sekarang, setelah saya juga punya kesibukan tambahan, waktu-waktu tersebut akhirnya hanya bisa saya lakukan di pagi dan sore hari setelah kegiatan saya berakhir. Namun, bagaimana pun juga itu adalah pilihan yang saya pilih untuk diri saya. Menjalaninya adalah suatu keharusan dan resikonya harus saya tanggung sendiri. Dari sana saya belajar bahwa hal kecil yang dilakukan dengan keikhlasan dan kesadaran akan hubungan dengan Allah (idrak sillah billah) adalah hal yang akan menghantarkan kepada keridhoan Allah dan pahala yang menjadi tabungan menuju surga.

Bagi seorang Muslim, surga itu bisa didapatkan dimana saja bahkan banyakan gratisnya. Membantu orang tua di rumah, misalnya. Bahkan, menebar salam saja bisa dikatakan sedekah. Satu lagi yang sering terlupakan, ikut kajian keislaman. Pengajiannya juga tidak setiap hari. Sayangnya, masih banyak kaum Muslimin yang beranggapan bahwa mereka yang ikut kajian Islam itu hanya para pengangguran saja. Padahal, menuntut ilmu Islam adalah kewajiban bagi setiap Muslim, termasuk bagi mereka yang merasa sangat sibuk, karena sejatinya tidak ada yang tidak sibuk. Sayangnya, hanya sedikit yang mau meluangkan waktu di sela-sela kesibukan. Jika untuk surga saja kita tidak mampu berkorban, layakkah kita masih berharap memasukinya tanpa halangan?

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

Kendari, 14 Januari 2017.17:54 WITA.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s