Euforia

Hidup itu penuh dengan euforia. Bentuknya bisa bermacam-macam. Hal-hal yang baru saja dirasakan akan mudah menjadi euforia dan akhirnya menjadi kenangan. Dan sebagaimana roda, siklus itu berputar secara alami. Euforia tahun ajaran baru, euforia kelulusan, euforia pernikahan, euforia masa-masa awal dari episode baru kehidupan, euforia reuni, termasuk euforia kehilangan. Hanya saja euforia kehilangan memiliki emosi yang berbeda.

Saya baru saja ber-euforia tentang sebuah kehilangan. Sebagaimana sebuah euforia, saya juga “heboh” sendiri. Saya merasa semuanya tidak berarti lagi. Semua kenangan terasa begitu pahit dan saya pun menghabiskan waktu dengan mengutuk semua kenangan itu dan menyalahkan diri saya sendiri. Bertarung dengan rindu yang menyesakkan. Menampik semua kenangan manis yang dulu saya sebut sebagai sebuah “kesyukuran”. Berusaha mencari sisi positif namun saya berkali-kali gagal. Mungkin, karena sebelumnya hal itu sangat berarti dan ketika Allah mengambilnya kembali saya belum siap merelakannya. Mungkin inilah euforia kehilangan bagi saya. Dan itu amat sangat tidak mengenakkan. Pikiran saya selalu berusaha mengalahkan emosi saya yang juga sedang meledak-ledak. Namun, sepertinya pikiran saya kurang bijak untuk membuat emosi saya bisa memahami tentang semua yang sudah terjadi. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan sebentar lagi bulan akan berganti tahun.

Pada akhirnya, euforia hanyalah euforia. Tidak ada euforia yang abadi. Semua euforia akan berubah menjadi kenangan. Begitu pun dengan euforia kehilangan. Pada satu titik saya merasa bosan dengan apa yang saya rasakan. Saya muak terus-menerus dalam kondisi depresi. Saya tidak punya cara lain selain bangkit dari keterpurukan ini. Meski tidak mudah, saya harus tetap mencoba. Karena terus-menerus berada dalam kondisi terpuruk itu sangat melelahkan. Maka tidak heran, orang yang depresi seolah hanya punya satu pilihan, yakni bunuh diri. Semua itu karena mereka lelah. Namun, bagi saya masih ada pilihan yang jauh lebih baik, yakni bangkit dan berubah. Saya percaya, semua akan berubah perlahan-lahan saat kita mulai mengikhlaskan dan bersyukur atas semuanya. Alhamdulillah, saya berterima kasih kepada Allah yang menguatkan saya di saat-saat terburuk dalam hidup saya. Saya juga berterima kasih pada diri saya yang masih sudi untuk mencobanya. Mencoba bangkit dari keterpurukan. Perjalanan ini baru saja dimulai. Episode baru pasca semua euforia yang terjadi. Saya takkan bisa menjadi sempurna, tapi saya akan berusaha semampu saya. Bukankah itu yang disebut dengan berlari menuju kesempurnaan? Memberikan yang terbaik dari yang mampu kita berikan.

Pada akhirnya saya mengerti bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya. Euforia kehilangan juga hanyalah sementara jadi jika sudah terlanjur maka tahanlah semua perasaan negatif itu, karena waktu yang akan menyelesaikan sisanya. Semoga iman ini tak sekedar euforia yang membara pada saat-saat tertentu saja. Semoga iman ini selalu menyala karena ia adalah satu-satunya pelita di saat-saat tergelap dalam kehidupan.

Ini adalah terapi pertamaku. Kuharap aku bisa terus bersemangat untuk menyembuhkan diriku.

Kendari, 25 Desember 2016. 09:09 WITA.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

One thought on “Euforia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s