Man to Man

Dalam permainan basket ada sebuah strategi bertahan yang dinamakan dengan pola Man to Man. Pola ini berfokus pada orang per orang. Kalo lihat kasus yang sedang ramai beberapa waktu ini di media, saya teringat pada strategi ini.

Kaum Muslimin di Indonesia digemparkan oleh sebuah video yang langsung viral sejak pengunggahannya. Video dari orang nomor wahid ibukota yang terang-terang melecehkan isi Al Qur’an, yakni surat Al Maidah ayat 51 mengenai larangan keras memilih pemimpin kafir. Tentang pelecehannya tentu saja karena saat ini perpolitikan ibu kota sedang panas-panasnya dan suara kaum Muslimin seragam menentang untuk dipimpin oleh orang kafir. Isu ini pun kemudian menjadi semakin sensitif ketika dimasukkan dalam aspek SARA.

Sebagai seorang Muslim, kalau ditanya kepada siapa saya berpihak, tentulah saya berpihak pada keyakinan saya. Dan dalam kasus ini jelas saja saya tersinggung. Orang Muslim saja tidak berani melecehkan isi Al Qur’an (kecuali yang sudah tidak waras) padahal mereka membacanya dan mengimani pembuatnya. Trus, ada orang yang bahkan mengimani Tuhan-nya kaum Muslimin saja tidak, dengan “sok” pintarnya berkomentar tentang sebuah ayat yang bahkan kaum Muslimin tidak berani untuk mengingkarinya. Menyebalkan sekaligus menggelikan. Oleh karena itu, saya teringat dengan strategi permainan basket, Man to Man. Di satu sisi hal ini tentu menyulut kemarahan umat. Tapi, di sisi lain ini sebuah peluang. Peluang untuk umat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana drama Demokrasi yang masih on going ini. Harus ada orang yang terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap Islam sehingga umat Islam sadar dan bisa melihat fakta yang sebenarnya.

Dalam Demokrasi, perebutan kekuasaan akan menjadi pentas yang selalu ditunggu-tunggu penayangannya. Semua orang yang ingin menduduki tampuk kekuasaan beramai-ramai menggalang simpati rakyat demi mewujudkan tujuan mereka untuk menjadi penguasa. Hanya di dalam Demokrasi, orang kafir bisa menjadi penguasa dan berkata seenaknya tentang hal yang bahkan tidak mereka yakini. Hanya dalam Demokrasi, Islam tidak memiliki posisi. Islam hanya sebagai agama spiritual yang bebas diperlakukan sesuai kehendak penguasa. Padahal, Islam adalah sebuah dien yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk politik. Inilah perbedaan antara Islam dengan agama yang lainnya. Dan alangkah tendensiusnya jika kesempurnaan Islam ini disangkut-pautkan dengan SARA karena sejatinya Islam adalah satu-satunya agama dan ideologi yang benar. Dan kebenaran itu akan selalu ada satu. Itulah Islam. Al Qur’an diturunkan oleh Allah untuk memecahkan seluruh permasalahan umat manusia dalam seluruh aspek kehidupannya. Politik yang selalu berusaha dipisahkan dari agama, Islam justru menyatukannya dengan landasan ketakwaan. Seorang pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya tentu akan menerapkan aturan Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Dia tidak akan mencari tampuk kekuasaan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya dalam rangka memenuhi hawa nafsunya untuk berkuasa dan demi materi semata. Dia akan menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk meraih keridhoan Allah dan meninggikan kalimat-Nya di seluruh dunia.

Oleh karena itu, kaum Muslimin harus cerdas dan cermat dalam melihat fakta hari ini. Permasalahan sebenarnya tidak hanya terletak pada orang tetapi juga sistem yang diterapkan. Imam Al Ghazali menyatakan bahwa agama dan kekuasaan ibarat saudara kembar. Agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak memiliki fondasi pasti akan runtuh. Dan sesuatu yang tidak memiliki penjaga pasti akan hilang. Rasulullah SAW pun telah mengingatkan sejak jauh-jauh hari bahwa seorang pemimpin layaknya gembala dan seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.

Demokrasi tidak akan menjanjikan masa depan yang cerah bagi negeri ini. Pun dengan negeri-negeri lain di seluruh dunia. Demokrasi adalah sumber petaka yang melahirkan orang-orang berhati busuk dan berotak kriminal. Demokrasi hanya melahirkan orang-orang yang haus harta dan tahta. Dan Islam selamanya takkan pernah bisa disandingkan dengan Demokrasi karena Islam meyakini kedaulatan hanya pada Allah semata sedangkan Demokrasi meyakini bahwa kedaulatan adalah milik rakyat.

Imam at-Tirmidzi telah menuturkan riwayat dari jalan Adi bin Hatim yang mengatakan:

“Aku pernah datang kepada Nabi saw., sementara di leherku tergantung salib yang terbuat dari emas. Nabi saw. Lalu bersabda, “Wahai Adi, campakkan berhala itu dari tubuhmu.” Aku kemudian mendengar Beliau membaca surat at-Taubah (yang artinya): Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. (TQS at- Taubah [9]: 31). Beliau selanjutnya bersabda, “Adapun bahwa mereka tidak menyembah orang-orang alim dan para rahib mereka (itu memang benar). Akan tetapi, mereka itu, jika orang alim dan rahib mereka menghalalkan sesuatu, mereka pun menghalalkannya, dan jika orang alim dan rahib itu mengharamkan sesuatu, mereka pun haramkan sesuatu itu.”

            Saatnya tinggalkan Demokrasi-Kapitalisme dan segala ide-ide turunannya. Saatnya kembali kepada Islam kaffah dengan menerapkan Syariah di bawah naungan Khilafah. Allahu Akbar!

Wallahu ’alam bi ash shawwaab

 

Kendari, 18 Oktober 2016. 07:19 PM.

 

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s