Lebih dari Sekedar Kata

I tell myself once again that the world isn’t perfect (Young Forever – 방탄소년단)

Seorang teman pernah mengatakan bahwa kita tidak selalu bisa menjadi tokoh protagonis, seberapa kerasnya kita mencoba. Kadang, kita akan menjadi tokoh antagonis dalam kehidupan seseorang bahkan tanpa kita rencanakan. You can’t always please everyone. Kalimat itu benar adanya. Rasulullah SAW yang baiknya gak ada saingannya masih saja bisa bikin orang-orang Quraisy dan musuh-musuh Islam kesal. Apalagi saya yang cuma Hamba yang bahkan tidak bisa menjamin diri saya masuk surga? Mungkin, karena itu salah seorang teman pernah memblokir akses saya ke akunnya. Mungkin karena itu teman saya yang lain ingin saya pergi jauh-jauh dari kehidupannya, yakni karena kesalahan yang tidak bisa dia tolerir atau dia lupakan begitu saja hanya dengan kata maaf.
Maaf. Lebih dari sekedar kata. Mudah saja meminta maaf, namun hati orang tidak bisa dipaksa. Jika kita bisa dengan mudah memohon ampunan kepada Allah dengan ber-istighfar, belum tentu bisa melakukan hal yang sama kepada manusia. Seperti Rasulullah yang terluka saat Wahsyi, seorang budak yang membunuh paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthallib meminta maaf. Rasulullah SAW tidak bisa melihat wajahnya bahkan saat Wahsyi sudah menjadi seorang Muslim. Rasulullah SAW juga manusia dan beliau juga bisa terluka. Beliau bisa merasakan sakit hati. Sakit hati Rasulullah kepada Wahsyi bukan sebagai Nabi tetapi sebagai manusia. Dan siapa pun bisa merasakannya.
Begitu pun dengan saya. Saya tidak menyalahkan siapa pun yang memblokir saya atau tidak nyaman dengan keberadaan saya dalam hidup mereka. Jika saya memiliki kesalahan, maka saya wajib meminta maaf. Namun, saya tidak bisa memaksa mereka untuk begitu saja menerima permintaan maaf saya. Apalagi jika saya melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati mereka karena terkadang maaf saja tidak cukup. Jadi, bagi siapa saja yang membaca tulisan ini dan kebetulan saya pernah menyakitinya maka dengan penuh kerendahan hati, saya, Dwi Putri Ayu Rizky Anggun Lestari memohon maaf yang sebesar-besarnya. Begitu pula dengan orang-orang yang dulu pernah saya sakiti baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Dan saya berharap bisa belajar dari kejadian ini agar di kemudian hari saya lebih berhati-hati dalam berkata maupun bersikap kepada orang lain.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Kendari, 6 Oktober 2016.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s