Far Away

Dream, we’ll be full in blossom after these hardships

(Min Yoon Gi).                                                                

Aku kembali bertanya tentang mimpi, cita-cita dan hal paling ingin dilakukan. Bagaimana jika aku hanya bermimpi tentang hal yang sederhana? Bagaimana jika aku bermimpi besar lalu aku gagal? Bagaimana jika aku tidak bisa meraih apa yang aku impikan? Bagaimana jika aku harus menyerah pada mimpi-mimpi itu? Bagaimana aku akan menghadapi dan menanggulangi segala rasa kecewa itu?

Dulu di awal kuliah saat aku ditanya kenapa aku belajar bahasa Jepang, aku dengan yakin menjawab aku ingin menjadi guru bahasa Jepang. Lalu, beberapa tahun kemudian saat praktek mengajar di kelas aku benar-benar kaku dan aku tidak bisa mengajar dengan benar. Padahal, aku senang mengajari orang dan berbagi tentang hal yang kuketahui. Sebelum-sebelumnya aku juga sudah pernah gagal. Aku tidak pernah mengajar privat lebih dari dua periode. Jika teman-temanku bisa membangun hubungan baik dengan murid yang diajar, aku tidak bisa membangun itu dengan mudah. Lalu, akhirnya aku menyadari hal-hal yang menjadi kekuranganku. Salah satunya adalah ketidakpekaan dan ketidakmampuanku dalam membangun sebuah hubungan. Semua hubungan yang kubangun dan kujalani runtuh dengan mengenaskan.

Setelah lulus dari universitas, aku memiliki ekspektasi yang tinggi akan kehidupanku selanjutnya. Namun, semua tidak berjalan seperti harapanku. Kenyataan jauh lebih keras dari yang bisa kubayangkan. Lalu, aku mulai merasa ada yang aneh pada diriku. Aku menjadi lebih sensitif. Aku mudah emosi, aku mudah menjadi sedih. Duniaku serasa kosong, ditambah lagi aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Tanpa kusadari aku merasa kesepian. Kesepian yang tidak bisa aku definisikan. Aku sudah membenci diriku dan dengan kondisi seperti itu aku semakin membenci diriku. Aku semakin tertekan. Semua terasa jauh. Jauh sekali. Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa cita-citaku sia-sia. Dan semua sudah berakhir. Aku sudah tidak punya sesuatu yang bisa kukejar.

Kemudian, aku kembali berpikir. Aku kembali merenung. Tentang siapa aku, apa tujuan hidupku, tentang amanahku, tentang apa yang harus kulakukan dan tentang apa yang akan kupertanggung jawabkan di hadapan Allah nantinya. Tidak ada mimpi yang sepele. Mainstream atau tidak mainstream, ia tetaplah mimpi dan ia akan menjadi cita-cita yang akan diupayakan untuk terwujud. Jika orang lain memiliki mimpi, harusnya aku juga. Aku seorang Muslim dan seorang Muslim harus punya cita-cita. Cita-cita yang akan menghantarkannya ke surga. Dan semua cita-cita yang tidak didedikasikan untuk meraih ridho Allah adalah cita-cita yang sia-sia. Lalu, sekali lagi aku bertanya pada diriku, apa hal yang paling ingin kulakukan?

Aku ingin bisa berbagi dengan orang lain. Mungkin sekarang aku hanya bisa berbagi hal kecil kepada sedikit orang. Tapi, suatu saat aku harus bisa berbagi banyak hal dengan orang yang lebih banyak. Aku ingin bisa menginspirasi banyak orang agar mereka bisa hidup dengan benar dan bahagia dengan kehidupannya. Mungkin sekarang aku belum cukup baik dan layak untuk itu. Mungkin juga iya bahwa sekarang aku hanya berkoar-koar tentang apa yang menjadi cita-citaku lalu aku masih dalam suasana mendung dan badai yang tak henti-hentinya menghantam kehidupanku. Dan mungkin juga benar bahwa sekarang aku sedang berusaha untuk memaafkan semuanya termasuk diriku sendiri. Namun, aku tidak ingin menyesali apa pun karena orang yang terjatuh akan selalu punya kesempatan untuk bangkit kembali. Tulisan ini untuk mengingatkan diriku bahwa episode-ku belum berakhir. Aku masih bisa membuat sekuelnya karena rizki terbesarku sekarang adalah kesempatan hidup yang Allah berikan. Dan aku tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja. Mungkin kita pernah merasa seperti itu. Merasa bahwa apa yang kita cita-citakan menjauh dan semakin lama harapan kita semakin redup. But, life must go on, right? Kegagalan itu suatu saat akan membawa kita kepada keberhasilan. Ya, semua itu adalah pelajaran untuk bersabar dan tetap yakin bahwa sejauh apa pun kita berputar, Allah akan menuntun kita kembali kepada mimpi-mimpi kita.

Satu lagi yang tidak boleh kulupakan bahwa sekarang aku hidup dalam sistem yang menganggap materi adalah segalanya. Semua orang dipaksa untuk bertarung demi uang, harga diri dan kehormatan mereka. Semua orang diarahkan menuju impian-impian duniawi yang tidak akan pernah berakhir untuk dikejar. Semua orang dibuat lupa oleh sesuatu yang disebut pahala dan dosa. Semua orang dibuat buta akibat silaunya dunia. Semua orang dibuat tak lagi melihat bahwa Surga adalah kebahagiaan hakiki. Ya, Sistem Kapitalisme yang membuat dunia seperti duniaku hari ini. Oleh karena itu, satu-satunya cara adalah kembali sadar akan posisi diri sebagai hamba Allah dan posisi Allah sebagai Pencipta dan Pengatur. Semua harus dikembalikan kepada aturan Allah dan tentu harus berjuang untuk bisa menerapkan aturan itu dengan sempurna.

Selama Islam belum menjadi landasan kehidupan manusia sampai level negara, selama itu pula manusia akan terpedaya oleh dunia yang justru akan mencelakakan mereka di hari kemudian.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Kendari, 26 September 2016. 11:56 AM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

4 thoughts on “Far Away

      1. Ngerasa hal yg sama. When something goes wrong/did’nt match with our expectation. To keep us on the track. To evaluate what we’ve done.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s