Catatan Idul Adha 1437 H

Momen Idul Adha kali ini adalah Idul Adha pertama di kampung halaman sejak enam tahun terakhir. Ada saat dimana saya benar-benar merindukan kota perantauan. Saya merindukan saat-saat bersama teman-teman yang juga tidak mudik dan serunya bisa memasak bersama. Tapi, sia-sia banget kan momen Idul Adha begini tanpa perenungan?

Ngomong-ngomong soal Idul Adha, deket banget hubungannya dengan pengorbanan (kisah nabi Ibrahim dengan putranya, nabi Ismail) dan juga persatuan (momen haji). Kalo dilihat dari sudut personal, Idul adha mengajarkan tentang meletakkan kecintaan tertinggi kepada Allah sebagaimana nabi Ibrahim ketika diperintahkan menyembelih anaknya. Hal yang sangat berat bagi seorang manusia adalah mengorbankan apa yang mereka cintai. Melalui nabi Ibrahim dan nabi Ismail Allah mengajari kita untuk berani berkorban, khususnya mengorbankan apa yang kita cintai untuk Allah.

Secara pribadi, saya memaknai Idul Adha bagi diri saya sendiri adalah tentang pengorbanan dan berbagi sebagai bentuk kasih saya kepada saudara sesama Muslim. Saya adalah seorang yang keras kepala. Dari luar saja mungkin saya terlihat penurut. Namun, sebenarnya saya cukup sulit untuk bisa merelakan sesuatu yang saya cintai dengan harapan lebih bahwa Allah sudah tahu apa yang terbaik untuk saya. Jika saya tidak bisa mendapatkannya hari ini, maka saya akan mendapatkannya esok hari. Allah berfirman bahwa boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untuk kita dan sebaliknya, boleh jadi kita membenci sesuatu namun ternyata hal itulah yang kita butuhkan dan saya benar-benar merasakannya. Saya masih merasa berat untuk melepas hal-hal tertentu dan itulah PR besar saya. PR yang harus saya selesaikan bersama diri saya. Saya tidak boleh membiarkan diri saya seperti itu terus menerus dan satu-satunya cara adalah mulai belajar bersyukur dengan apa yang masih tersisa pada saya dan berharap untuk hal yang baik di kemudian hari karena bisa saja semua yang tidak saya dapatkan, semua yang pergi dari hidup saya adalah bentuk kasih sayang Allah kepada saya. Semua adalah bentuk penjagaan Allah untuk saya dan saya harus terus menyadarkan diri saya akan itu.

Kedua, tentang berbagi. Saya seorang introvert. Introvert tidak senang berbagi dengan banyak orang. Mereka lebih suka berbagi dengan sedikit orang, termasuk diri mereka sendiri. Mungkin karena itu saya sering menganggap bahwa derajat keegosisan saya berada di atas rata-rata alias saya terlalu egois. Momen Idul Adha membuat saya belajar tentang berbagi. Untuk bisa berbagi butuh keikhlasan dan hati yang lapang untuk mau memberi maupun menerima. Saya belum bisa berkurban, jadi mungkin saya belum bisa berbagi dalam arti yang sebenarnya. Namun, saya berharap dengan saya menulis saya bisa sedikit berbagi dengan orang lain entah siapa pun dia. Terlebih lagi dengan orang-orang di sekitar saya. Orang-orang yang membutuhkan saya dan orang-orang yang saya sayangi.

Satu lagi, momen Idul Adha sejatinya adalah momen perenungan bagi kaum Muslimin. Kita umat yang besar. Setiap tahun jutaan kaum Muslimin dari berbagai penjuru dunia melaksanakan ibadah haji tanpa memandang status dan kedudukan, ras dan kebangsaan serta hal-hal sejenisnya. Di sana semua meneriakkan kalimat yang sama, memakai pakaian yang sama dan menjalankan ibadah yang sama. Kita perlu renungkan lagi bahwa kita memiliki persamaan besar. Kita adalah umat dengan potensi yang luar biasa dan karena itu harusnya kita tidak bercerai-berai hanya karena perbedaan kecil. Seharusnya kita balik saja, cari persamaan dan jangan terlalu banyak melihat perbedaan. Sekarang kaum Muslimin sering berselisih bahkan berperang sesama mereka hanya karena perbedaan kecil sedangkan persamaan yang besar jarang dilihat. Mereka sering berdebat tentang perkara yang memang sunnatullah berbeda, namun jarang sekali mereka membahas hal yang seharusnya dilakukan sesegera mungkin. Menegakkan Islam dalam bingkai negara, misalnya. Tidak sedikit kaum Muslimin yang masih menyangsikan kembalinya Khilafah yang akan menerapkan Syariat Islam. Terlepas dari adanya pengaruh penjajahan sistem Kapitalisme-Sekuler, seharusnya lewat momen hari raya dua kali dalam setahun kita bisa merenung untuk berbenah, bukan sekedar menjadikan momen hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha sebagai pemuas dahaga rohani semata, namun ada poin besar di sana yakni fakta bahwa kaum Muslimin memiliki potensi untuk berpengaruh karena banyaknya jumlah mereka dan tersebarnya mereka di seluruh penjuru dunia. Jika kita bersatu dengan meminimalisir perselisihan di antara kita, Khilafah takkan lagi sekedar utopia yang tidak bisa dibayangkan dengan akal sehat. Maka, tugas menegakkan Khilafah adalah tugas generasi kaum Muslimin hari ini, bukan hanya tugas kelompok atau gerakan tertentu karena Khilafah adalah milik kaum Muslimin.

Saya sangat merindukan ketika kalimat takbir, tahmid dan tahlil menjadi pengisi di hari-hari umat manusia bukan hanya kepada orang-orang tertentu karena risalah Islam adalah risalah untuk seluruh manusia. Sudah saatnya seluruh kaum Muslimin meneriakkan satu suara dan membayangkan satu visi, membumikan Islam sebagai sistem kehidupan.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Kendari, 11 Dzulhijjah 1437 H. 13 September 2016. 05:32 PM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s