Like A Bulletproof

Beberapa hari yang lalu jagad sosial media dihebohkan oleh video seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang menyerukan sebuah kampanye “Tolak Pemimpin Kafir”.  Video berdurasi 1 menit 37 detik itu sontak menuai kontroversi dari netizen setelah sebelumnya mendapat peringatan dari pihak kampus. Hujatan datang bertubi-tubi baik dari segi konten maupun teknis sajian video tersebut.

Setelah melihat video tersebut, saya langsung lari ke jejeran komentar. Meski banyak yang menghujat, namun tak sedikit yang mendukung. Lewat tulisan ini saya tidak hendak mengomentari teknisnya karena teman saya sudah lebih dulu melakukannya dan kurang lebih saya sepakat dengan apa yang ia sampaikan. Saya ingin mengapresiasi mahasiswa yang sudah dengan berani dan lantang menyuarakan kebenaran meski berbekal peralatan seadanya (seperti saya saat menulis tulisan ini, hehehe). Sudah lama saya tidak melihat lagi gebrakan aktivis mahasiswa pasca rame-rame menolak rezim Neolib Jokowi-JK. Dan sekali lagi Gema Pembebasan menunjukkan gebrakan mereka lewat video yang sangat berani (kalo tidak mau dibilang heroik, apalagi untuk ukuran kampus ternama di Indonesia Raya ini). Beberapa tahun yang lalu beberapa aktivis Gema Pembebasan di Kalimantan juga sempat menuai kontroversi karena pernyataan mereka yang berani. Tahun ini Gema Pembebasan kembali menjadi trendsetter pergerakan mahasiswa Islam yang berani menyuarakan kebenaran dan terang-terangan menentang kebatilan.

Jika sebagian pihak menuding bahwa apa yang dilakukan oleh Boby mencoreng nama universitas sebagai lembaga yang netral dari politik praktis, namun apakah sebagai mahasiswa Boby tidak berhak menyuarakan pendapatnya yang terlebih pendapat itu adalah keyakinannya? Jika mahasiswa bebas berkoar-koar di tengah jalan dengan almamater kemudian membakar ban dan berkelahi dengan polisi dianggap sah dalam Demokrasi sebagai bentuk kebebasan berpendapat (meski tidak bertanggung jawab), mengapa seorang mahasiswa menjadi bulan-bulanan kampus hanya karena berusaha menyampaikan apa yang ia yakini sebagai kebenaran? Tentu hal ini tidak adil. Boby tidak sedang menyinggung sesuatu yang berbau SARA karena apa yang disebutkan Boby tidak lain adalah apa yang diserukan oleh Allah SWT di dalam nash-nashnya dengan gamblang tentang tidak bolehnya menjadikan orang kafir sebagai pemimpin bagi kaum Muslimin. Jika orang Muslim saja masih ada yang enggan menggunakan aturan Allah sebagai landasan dalam memerintah, tentu orang yang tidak beriman kepada Islam akan lebih enggan lagi. Oleh karena itu, hal ini bukan semata masalah personal sesorang namun statusnya di hadapan Allah-lah yang menjadi masalah. Jika orang lain dan ia non Muslim kemudian ingin menjadi pemimpin (penguasa), tentu Gema Pembebasan akan melakukan hal serupa.

Saya teringat firman Allah:

“Mereka hendak memahamkan cahaya agama Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.

Apa yang terjadi pada Boby tentu hanya segelintir dari sekian banyak upaya pihak-pihak yang membenci Islam untuk menghalangi tegaknya kembali ideologi Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan. Namun, bagaimana pun kerasnya upaya mereka, Allah telah berjanji untuk memenangkan Islam sekali pun mereka tidak menyukainya. Dari Boby saya belajar bahwa menyampaikan kebenaran tidak saja butuh semangat, tetapi juga keberanian dan keyakinan akan datangnya pertolongan Allah. Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah cara yang penyampaian yang lugas, tegas dan professional akan menambah kuat pengaruh opini yang disampaikan (karena saya gemas dengan komentar, “upload video itu biar banyak yang respon trus dapat duit buat beli tripod”. Ngeselin gak sih?). Dan itu menjadi PR kita bersama, orang-orang yang mengaku sebagai pengemban mabda dan pengemban dakwah. PR yang akan terus kita kerjakan hingga saat Allah berkata, Fulan(ah), saatnya pulang.

Maju terus kawan-kawan Gema Pembebasan. Semoga istiqomah di garis depan perjuangan untuk membumikan Islam sebagai ideologi.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Kendari, 10 September 2016. 10:02 PM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s