Ironi Kehidupan dalam Sistem Kapitalisme

Aku gak bisa bilang kalo ini sisi positif hidup dalam sistem Kapitalisme karena emang sistem Kapitalisme itu udah rusak dari sononya. Kalo akarnya udah rusak, ya atasnya gak mungkin bagus. Just another way to survive mungkin ya, istilahnya?

Dalam sistem Kapitalisme kita akan hidup dengan berjualan. Jual barang dan jasa. Hari ini semua bisa dijual karena sistem Kapitalisme akan melahirkan budaya konsumtif. Sayangnya, prosesnya tidak selalu Syar’i. Dan tidak setiap yang dijual itu memiliki arti yang positif dalam masyarakat. Ibaratnya, lo harus dapat duit. Tapi, duit aja gak cukup. Posisi juga menentukan karena jabatan (posisi) menentukan besaran uang yang akan didapatkan. Ya, begitulah masyarakat dalam sistem Kapitalisme. Semua dinilai berdasarkan besaran uang, rumah, kecantikan dan semua ukuran fisik lainnya. Tapi, apakah semua itu menjamin kebahagiaan? Tidak selalu, bahkan tidak sama sekali.

Hari ini semua orang selalu khawatir hidup tanpa uang, seolah rizki hanyalah berbentuk uang dan harta benda lainnya. Padahal, rizki itu datangnya dari Allah dan bentuknya tidak hanya uang atau harta benda saja. Kemampuan menikmati hidup karena ketenangan, bisa tersenyum dan bahagia dalam kondisi apapun, bisa selalu mengingat Allah dan istiqomah dalam ketaatan, bertemu dengan orang-orang baik dan berteman dengan mereka, menolong orang meskipun dalam kondisi sulit, melihat langit biru, bulan purnama di malam hari, bintang yang berkelap-kelip indah di ufuk langit, bisa mencuci tiap hari karena cucian akan selalu kering dengan teriknya matahari, memiliki cita-cita dan masih banyak lagi. Satu lagi, rizki berupa hidup dan kesehatan seringkali dilupakan karena sibuk mengejar uang. Tanpa sadar orang-orang menyamakan rizki dengan uang. Padahal, tidak semua bisa dibeli dengan uang meskipun sebagian besar membutuhkan uang.

Beberapa waktu yang lalu aku sering dilanda kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan dan kesedihan. Namun, setelah kupikir-pikir lagi, semua itu karena aku kurang dekat dengan Allah. Penyebabnya satu, rasa malas karena terlanjur terlena. Kemudian aku kembali bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu. Allah adalah sebaik-baik tempat mengadu dan bersandar. Allah adalah satu-satunya tempat meminta. Aku kurang bersyukur dan kurang sabar dalam menghadapi hidupku. Aku kurang sabar dalam menghadapi diriku. Dan tentu saja semua itu karena aku kurang bersyukur, entah karena lupa atau karena sibuk mengejar dunia. Aku masih dengan kebiasaan lamaku. Dan mulai sekarang aku harus sering-sering mengingatkan diriku bahwa semua harus terus diserahkan kepada Allah. Aku harus berharap hanya kepada-Nya. Aku harus berubah meskipun itu tidak mudah.

Kalau dipikir-pikir lagi, Allah yang mencukupi segalanya dalam kehidupan manusia. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana seseorang bisa hidup dengan kehidupan yang begini dan begitu? Nyatanya, mereka masih bisa tertawa. Jadi, sebenarnya siapa membuat hidup itu sulit? Pastinya bukan Allah. Memang Allah akan menghadapkan kita pada kondisi-kondisi tertentu dimana kita akan merasa bahwa itu adalah kondisi yang sulit. Namun, keputusan tetap ada di tangan kita. Tetap bahagia atau sebaliknya.

Apa sih yang mudah di dunia ini? Gak ada. Semua butuh proses. Semua butuh perjuangan. Tapi, apa ada yang terlalu sulit? Gak juga. Asal diperjuangkan dengan sungguh-sungguh karena akan selalu ada jalan keluar selama kita mencarinya. Allah sudah mengatur semuanya. Allah sudah menyiapkan agar semua hamba-Nya berhasil menjalani kehidupannya dengan selalu yakin kepada pertolongan-Nya.

Ngomong emang gampang. Tapi, apa bisa mempertahankan pikiran positif seperti itu? Sulit pake banget. Gimana gak sulit? Sekarang kita semua dihadapkan pada kenyataan, sedangkan realistis dan pragmatis itu beda tipis. Dan kebanyakan kita terjebak pada pragmatisme. Fakta yang menjadi sumber hukum. Realistis itu perlu, tapi terlalu realistis bikin kita pragmatis dan materialistis. Di sanalah kesalahannya. Ketika kita tidak lagi menjadikan uang sebagai wasilah. Ketika kita tidak lagi menganggap nikmat-nikmat kecil sebagai rizki. Ketika kita sudah terperangkap dalam jebakan bahwa uang adalah hal yang pertama dan utama dalam kehidupan hari ini. Ketika kita tidak lagi menyadari bahwa kebahagiaan yang sejati adalah kembali kepada Allah dan aturan-Nya.

Saat kembali kepada Allah, kebahagiaan itu akan selalu dekat. Kita akan mudah bersyukur dan bahagia dengan hal-hal kecil. Kita akan kuat dan punya cita-cita besar. Kita akan selalu bangga saat berpihak pada kebenaran dan dengan senang hati berjuang untuk menegakkannya. Kita akan selalu tenang dalam menjalani kehidupan karena kita percaya bahwa Allah akan selalu berada di sisi kita. Dari sana, kita akan menyadari betapa Allah selalu menyayangi kita. Bagaimana pun kondisi kita. Sejauh apapun kita lari, Allah takkan pernah meninggalkan kita. Allah akan selalu memanggil kita ke sisi-Nya. Selalu.

Dan satu-satunya cara untuk bertahan dalam kehidupan Kapitalis seperti ini adalah terus mengumpulkan kesadaran untuk istiqomah dalam Syariat Allah.  Dengan begitu, kita takkan pernah berhenti untuk mendekat kepada Allah. Kita akan selalu mencari cara untuk dekat dengan-Nya. Salah satunya adalah dengan terus semangat belajar Islam, mengamalkan dan memperjuangkannya. Suatu saat kita akan keluar dari kehidupan menyesakkan ini, tentunya dengan perjuangan. Kita harus berjuang. Harus. Meski mungkin apa yang kita anggap salah dan benar tidak dianggap sama oleh orang lain. Tapi, perjuangan ini adalah bentuk loyalitas kita kepada Allah kan? Bukankah karena itu kita berusaha mewujudkan Khilafah yang akan menerapkan aturan dari Allah? Bukankah karena itu kita harusnya loyal pada negara yang seperti itu saja? Bukan negara bangsa yang sudah memecah-belah kita. Bukankah kemerdekaan adalah ketika kita terbebas dari segala bentuk penjajahan? Dan hanya Islamlah yang mampu membebaskan umat manusia dari segala penjajahan itu.

Kendari, 15 Dzulqa’dah 1437. 18 Agustus 2016. 11:06 PM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s