Yang Terakhir…

Beberapa waktu ini saya menikmati saat-saat terakhir saya di perantauan, khususnya dua minggu terakhir. Setiap kali mengingat masa-masa yang sudah saya lewati, air mata saya tidak berhenti mengalir. Setiap kali mengingat bahwa hari ini akan menjadi hari terakhir saya di kota ini karena besok saya akan kembali ke kampung halaman juga menjadi penyebab air mata saya tumpah. Setiap kali melewati jalan yang selalu saya lewati beberapa tahun yang lalu saya menangis. Pun ketika sholat tarawih di masjid kampus saya juga menangis. Sebelum tidur saya juga menangis. Saya tahu hari ini pasti datang dan ini adalah hari terakhir saya di sini.

Memang, setiap yang berawal pasti akan berakhir. Setiap akhir adalah awal yang baru. Namun, tetap saja perpisahan akan menyebabkan kesedihan sekali pun itu tidak selalu diinginkan.

Lalu, bagaimana jika yang terakhir itu adalah waktu kita di dunia? Andai kita tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir kita di dunia, apa yang akan kita lakukan untuk menghabiskan hari ini?

Sebuah kabar mengejutkan kembali menampar diri saya. Salah seorang saudari seperjuangan dan seumuran dengan saya kemarin dipanggil Allah ke sisi-Nya. Saat saya sedang membayangkan apa yang akan saya lakukan di rumah, apa yang akan saya lakukan untuk masa depan saya, apa yang akan saya kejar selanjutnya, dia menjemput saat terakhirnya. Bagaimana jika saya ada di posisinya? Saya pikir, saya tidak akan sepenuhnya siap meski saya sering mengingatkan diri saya tentang kematian.

Saya kembali berpikir. Bagaimana jika ini adalah hari terakhir saya di dunia? Bagaimana jika ini adalah Ramadhan terakhir saya? Bagaimana jika kemarin adalah kali terakhir saya halaqah dan mengisi halaqah? Bagaimana jika kemarin niat saya bergeser? Bagaimana jika ini kesempatan terakhir saya untuk bersungguh-sungguh dalam amanah? Bagaimana jika ini adalah tulisan terakhir saya? Siapkah saya bertanggung jawab akan semua hal yang sudah saya lakukan selama hidup saya? Bagaimana saya mempersiapkan ketika hari itu datang? Sudahkah saya serius dan sungguh-sungguh menyiapkannya?

Jika hari ini saya bisa menangis tatkala ingat bahwa hari ini adalah hari terakhir saya di kota ini, lantas tidakkah diri ini harusnya lebih pantas menangis karena belum optimal dalam menyiapkan kematian? Dan saya pun teringat kalimat Umar bin Khattab ra. bahwa cukuplah mati sebagai sebaik-baik pengingat. Kenapa? Mati adalah akhir dari segala kesempatan. Mati adalah saat untuk beristirahat menunggu tibanya masa kita untuk diadili. Maka kita pun pasti akan menuju ke sana, karena mati adalah proses kehidupan. Semua berawal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Teruntuk saudariku, Siska. Selamat jalan, Ukhty. Engkau telah mengakhiri episode kehidupanmu dengan amat sangat luar biasa. Engkau meninggal sebagai seorang pahlawan. Engkau telah memberikan pengorbanan terbesar yang bisa kau berikan untuk dakwah ini, yakni nyawa. Betapa malunya kami karena belum bisa sepertimu. Semoga Allah mudahkan jalanmu ke sisiNya. Semoga Allah sayangi Engkau dengan menempatkanmu pada tempat terbaik di sisiNya. Semoga kami bisa mengikuti jejakmu, mengakhiri episode kehidupan kami di jalan dakwah.

Malang, 12 Ramadhan 1437 H. 17 Juni 2016. 06:27 am.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s