Dokkiri

Beberapa waktu yang lalu saya sempat iseng nonton (lagi) serial Live Action Detective Conan “Challenge for Shinichi Kudo” (bener gak sih ini judulnya? Ya, kurang lebih begitu deh judulnya). Waktu itu sih ceritanya mau nostalgia sama bahasa Jepang. Kebetulan di salah satu episode ada satu hal yang menarik buat saya, yaitu episode dimana Shinichi ditantang di stasiun televisi untuk berhadapan dengan seorang pria yang katanya punya tenaga dalam. Orang itu bersikeras kalau dia punya kekuatan super yang semua bisa dibantah secara ilmiah oleh Shinichi, termasuk Shinichi juga membongkar kedok acara televisi tersebut yang ternyata hanya ingin mempermalukan si pria tadi. Jadi acara televisi tersebut semacam Jebakan Batman kalo di Indonesia. Istilah di sana disebut Dokkiri.

Kemudian kasus pembunuhan di ruang tertutup terjadi. Seperti yang sudah-sudah, pembunuhan itu dilakukan oleh orang terdekat korban karena motif pribadi. Si MC jahat akhirnya meninggal diracun oleh penata riasnya. Trus, hal menarik dimana? Hal menariknya pas Kogoro Mouri mengatakan sesuatu yang lain tentang Dokkiri. Menurut Mouri, hidup itu seperti Dokkiri. Ada episode dimana kita menjadi bahan tertawaan orang-orang, dipandang rendah dan bagi sebagian orang kita tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi, jika kita sabar pastilah ada episode lain yang lebih indah yang menanti kita setelahnya. Kalo kata pepatah, hidup itu seperti roda. Kalo kata saya, hidup itu pergiliran.

Allah menggilir kondisi dalam hidup kita agar kita bisa mencicipi setiap rasa dari kehidupan, hmm bahasa keren saya adalah taste of life. Hidup adalah sebuah proses. Proses belajar tanpa henti agar kita menjadi dewasa dan bijaksana karena dua hal itu adalah pilihan. Menjadi tua itu niscaya tetapi menjadi dewasa dan bijaksana itu adalah pilihan. Masa-masa yang kita lewati selama hidup adalah ujian kesabaran dan ujian menuju proses kedewasaan.

Allah SWT berfirman:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (TQS. Al Mulk: 2).

Begitulah Allah jadikan kehidupan untuk menguji siapa yang layak memasuki surga-Nya. Merekalah orang-orang yang sabar dan menjalani proses kehidupan mereka di jalan yang benar. Menyerah bukan jalan keluar. Kadang, kita perlu mencari jalan lain untuk menyambut episode baik yang menanti kita. Never lose hope. Always keep the faith in Allah. Because Allah always know the best.

Malang, 4 Ramadhan 1437 H. 9 Juni 2016. 08:20 PM

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s