Marhaban Yaa Ramadhan

Alhamdulillah, bulan Ramadhan kembali datang. Ramadhan emang selalu jadi momen spesial untuk seluruh kaum Muslimin, dimanapun. Kalo di negeri yang mayoritas Muslim kayak Indonesia, momen Ramadhan selalu punya cerita.

Kalo ditanya arti Ramadhan buat saya, Ramadhan itu momentum. Momentum untuk banyak hal. Ramadhan itu titik balik. Momen sebulan yang khusus Allah siapkan untuk siapapun yang ingin meraih pahala sebanyak-banyaknya. Momen untuk siapapun yang ingin berubah menjadi lebih takwa. Momen untuk belajar menjadi Muslim seutuhnya. Ya, Ramadhan adalah momen untuk lebih dekat dengan Allah, dekat dengan Syariat-Nya.

Ini adalah tahun keenam saya mengawali Ramadhan di tanah perantauan. Tapi, selalu banyak momen menyenangkan pas Ramadhan di perantauan. Salah satunya adalah safari ke masjid-masjid fakultas seantero kampus. Sholat tarawih bersama teman-teman seperjuangan dan tentu saja itikaf yang tidak banyak dilakukan orang-orang di daerah saya. Semua itu hanya bisa saya rasakan di sini, di tanah perantauan.

Tantangan terberat di bulan Ramadhan? Hmm, kalau menurut saya tantangan terberatnya adalah rutinitas. Ya, ketika Ramadhan hanya sekedar menjadi rutinitas. Ini sudah Ramadhan ke berapa? Ketika spirit Ramadhan hanya terasa di awal-awal. Ketika sudah di pertengahan menuju akhir, spirit itu menguap berganti menjadi persiapan menuju Hari Raya atau udah terlanjur malas dan yah, hanya sekedar rutinitas. Para shahabat aja menyiapkan Ramadhan jauh sebelum Ramadhan itu tiba sehingga mereka sudah full prepared saat Ramadhan. So, menurut saya membuat target perubahan selama Ramadhan itu penting. Evaluasi apa yang belum optimal di Ramadhan sebelumnya, dioptimalkan di Ramadhan kali ini. Atau bisa juga mempersiapkan hal yang ingin dibiasakan sampai setelah Ramadhan, maka bisa dimulai sejak Ramadhan. In syaa Allah akan lebih clear dan bikin kita gak terjebak rutinitas.

Oiya, satu lagi. Ramadhan dalam sistem Sekuler seperti sekarang memang seolah mengondisikan kita untuk menjadikan Ramadhan hanya sebagai rutinitas karena dalam sistem Sekuler, agama itu hanya untuk personal, bukan ruang publik. Tapi, sebenarya dari Ramadhan kita belajar bahwa harusnya menjadi seorang Muslim yang taat tidak hanya pada bulan tertentu, waktu tertentu atau kondisi tertentu. Jadi seorang Muslim yang taat itu ya kapanpun dan dimanapun. So, jangan sampai kita terjebak mindset ini akhirnya jadi taat hanya pas Ramadhan. Setelah itu, balik lagi. Padahal, momentum Ramadhan itu untuk menjadikan kita taat sampai 11 bulan berikutnya.

I wish a great Ramadhan for everyone. Stay istiqomah till we reach takwa and be better after this holy month.

So many wishes for this Ramadhan. One of them is I wish the unity of Muslim all around the world under Khilafah. Aamiin…

Malang, 1 Ramadhan 1437 H. 6 Juni 2016. 10:48 AM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s