Diary of Muslim Youth (Prolog)

Saya seorang perempuan yang terlahir sebagai seorang Muslimah. Ya, saya Muslim sejak lahir. Namun, seiring dengan berjalannya waktu saya tetap tidak tergambar bagaimana menjadi seorang Muslim yang sebenarnya. Belum lagi kedua orang tua saya yang tidak memiliki pengetahuan Islam yang mumpuni. Jadilah saya seperti orang yang tersesat. Saya hanya tahu bahwa Islam itu sebatas rukun Islam saja, yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Bahkan dulu saya sempat menganggap bahwa menutup aurat itu mubah alias pilihan dan tidak ada pikiran sama sekali dalam diri saya untuk menutup aurat seperti Muslimah seharusnya.

Lalu, sebuah pertanyaan menghantam benak saya seperti tsunami. Sebagai anak TNI, sedikit banyak jiwa patriotisme menjejak dalam diri saya. Namun, Kakek saya yang religius juga meninggalkan kesan tersendiri dalam diri saya tentang Islam. Oleh karena itu, semasa SD selain menyukai pelajaran IPA dan Matematika, saya juga menyukai pelajaran Kewarganegaraan (dulu sebutannya PPKn) dan pelajaran agama Islam. Saya kemudian mulai bertanya, dimana korelasi hukum negara dengan hukum agama (hukum Allah)? Jika kita nanti akan dihisab di hari kiamat, harusnya sejak di dunia kita mematuhi hukum Allah kan? Tapi, sekarang kan ada negara dan kita harus mematuhi hukum negara. Terus, dimana benang merahnya? Kalau sekarang hukum negara tidak sejalan dengan hukum Allah, sedangkan nanti dihisab pakai hukum Allah berarti di hari kiamat hukum negara ini tidak berlaku? Pertanyaan itu menggelayut dalam benak saya selama beberapa waktu saat saya kelas 6 SD.

Saat SMA, di sanalah saya memulai kembali perjalanan spiritual saya. Ternyata, terlahir sebagai seorang Muslim di negeri yang 80% penduduknya adalah Muslim tidak selalu menjadi berkah, tetapi juga banyak tantangan yang dihadapi.

Alhamdulillah, kelas 2 SMA saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya beberapa tahun sebelumnya. Saya menemukannya ketika saya memutuskan untuk mendekati Islam dan mengenalinya lebih dalam melalui halaqah. Dari aktivitas tersebut saya memahami bagaimana seharusnya menjadi seorang Muslim. Bagaimana posisi pemuda Muslim dalam membangun peradaban. Bagaimana Islam mampu menjadi solusi atas seluruh permasalahan kehidupan.

Allah SWTberfirman:

“Kitab (Al Qur’an) ini, tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. (Al Baqarah: 2)

Malang, 19 Mei 2016.

Dwi Putri Ayu Rizky Anggun Lestari

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s