Sabar dan Penantian

Pagi yang berangin di kampus. Berasa di pantai, padahal ini di daerah pegunungan. Ah, iya pertanda sebentar lagi musim kemarau tiba. Salah satunya adalah musim angin (yang berhawa dingin).

Sekarang saya sedang menunggu adik-adik kesayangan saya, para bidadari shalihah (in syaa Allah) plus salah satu adik mentor saya. Daripada bosen, mending nulis. Sekalian melepas penat #hadehapapulaini

Ngomong-ngomong soal judulnya, dua kalimat di atas emang lagi jadi trending topic dalam kepala saya. Ya, saya mempertanyakan tentang dua kalimat yang seperti punya jalinan takdir itu. Sabar dalam penantian atau menanti dalam sabar. Saya tidak tau frasa mana yang lebih tepat.

Beberapa waktu ini seolah kesabaran dan penantian adalah hal yang mendominasi pikiran. Beberapa ujian yang mengharuskan saya untuk kembali bersabar dalam penantian sekaligus menanti dalam kesabaran.

Setelah curhat sambil nangis-nangis (ah, saya masih perempuan juga rupanya) ke salah seorang sahabat saya, dia berpesan.

Aku paham kok perasaanmu, Dit. Aku juga pernah merasakannya. Merasakan perasaan jadi fresh graduate. Gak mudah emang. Tapi, satu hal yang kupelajari setelah lulus ini, Dit. Hidup itu sawang sinawang. Kita selalu melihat orang lain itu lebih baik dari diri kita padahal belum tentu yang kita kira baik dari diri adalah yang sebenarnya. wolessss….

Begitulah adanya. Ada perasaan iri (envy) saat melihat beberapa teman sudah menemukan fokusnya. Sudah tau gambaran mereka di masa depan seperti apa. Sudah menemukan passion-nya. Sedangkan saya? Saya bertanya dan bertanya. Apa hal yang ingin saya lakukan? Kenapa hidup saya stagnan begini? Kenapa saya belum menemukan passion saya? Kapan saya akan menemukannya? Apa yang harus saya lakukan? Hanya itu yang saya lakukan. Apalah artinya seorang saya. Saya merasa seperti butiran pasir di pantai. Saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Mungkin orang di luar sana akan bilang, hei Dit! Kamu lebay banget. Kamu tuh gak seperti apa yang kamu pikirkan. Coba deh kamu berpikir lebih positif, bla, bla, bla. Iya, sepertinya saya lebay. Tapi ini cukup menguras pikiran saya dan pastinya bikin perasaan saya sedikit kacau.

Lalu, beberapa hari yang lalu saya coba buka salah satu kita yang saya kaji. Betapa malunya saat saya tau kalo saya tidak lulus ujian lagi dari Allah. Lebih tepatnya belum lulus. Ya, belum lulus ujian keimanan.

Allah SWT berfirman:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan sempurna dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al Baqarah: 155-157)

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan dirimu”. (Ali Imran: 186)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az Zumar: 10)

Ayat-ayat di atas menjadi tamparan keras bagi saya. Belum lagi di ayat yang lain bahwa cukuplah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.Hasbunallah wa ni’mal wakiil. Ni’mal mawla wa ni’man nashiir.

Bersabar sejatinya tidak sekedar menunggu tanpa berbuat apa-apa. Tapi, bersabar adalah berupaya mencari jalan keluar dengan sebuah keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang. Kesimpulannya, saya harus berpikir lebih keras dan berpikir lebih positif.

Wahai diri, selamat belajar lagi untuk bersabar dalam penantian dan menanti dalam kesabaran.

Malang, 14 Mei 2016. Selamat datang musim baru.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s