Father

Ada dua orang yang sangat saya hormati di dunia ini. Bapak dan Kakek (dari pihak ibu). Kakek di urutan pertama, setelah itu Bapak. Setelah apa yang terjadi dalam keluarga saya beberapa waktu yang lalu, saya nyaris tidak pernah lagi mencantumkan Bapak dalam daftar orang yang saya hormati. Saya pernah membencinya. Saya pernah menganggapnya sudah mati. Bapak yang dulu saya hormati. Bapak yang dulu saya kagumi.

Setelah perceraian mereka, saya berusaha keras menerima kenyataan. Meski mereka bercerai di usia saya yang sudah lewat 20 tahun, rasa sakit dan tidak terima tetap saja ada. Sulit sekali rasanya mengikhlaskan. Ribuan kali saya bertanya pada diri saya. Ribuan kali pula saya menjawab sendiri dan berusaha menyadarkan diri saya bahwa saya harus ikhlas bagaimana pun keadaannya. Dan setelah melalui proses yang panjang, saya berusaha untuk kembali belajar menghormati Bapak. Saya berusaha untuk kembali mencari sosok Bapak yang saya kagumi meski saya tahu sulit sekali mencari alasan untuk itu setelah semua yang terjadi.

Setelah semua kekacauan yang terjadi dalam hidup saya selama beberapa tahun terakhir dan setelah berusaha mencari alasan untuk bisa kembali menghormati Bapak, saya terpikir bagaimana saya bisa berbicara lebih lama dengan Bapak meskipun hanya lewat telepon. Dan setelah menonton sebuah drama (lagi-lagi karena drama :D) saya akhirnya menyadari betapa berat hidup yang dijalani Bapak sebagai seorang tentara. Saya akhirnya tahu dari mana karakter diri saya berasal. Salah satunya adalah dari Bapak.

Bapak dulunya adalah seorang tentara. Bapak TNI Angkatan Darat. Mungkin, orang-orang sering penasaran, bagaimana rasanya jadi anak TNI. Bagaimana rasanya punya orang tua dengan background militer. Keren? Menakutkan? Iri? Tapi, bagi saya sama saja. Semua Bapak mungkin sama. Mereka terlalu kaku untuk mengungkapkan isi hati mereka. Apalagi Bapak seorang tentara. Mereka bergerak dengan perintah. Mereka tidak bisa sembarangan melanggar perintah. Komandan berkata A dan mereka akan bergerak dengan perintah tersebut. Layaknya Angkatan Darat pada umumnya, Bapak pernah ikut perang melawan Portugis, tapi itu sudah lama. Bapak juga mengikuti sekolah militer. Sayangnya Bapak tidak sampai jenjang perwira sehingga Bapak hanya pensiun di pangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda). Mungkin karena itu Bapak sangat kaku dan tidak pernah bisa mengungkapkan sayang di hadapan anak-anaknya, berbeda dengan Mama yang perawat yang bisa dengan mudah menunjukkan kasih sayangnya. Bapak bergerak dengan anggota badannya. Dan mungkin itu juga yang membuat saya pandai menyembunyikan perasaan saya. Saya mudah menangis tapi tidak di hadapan banyak orang. Saya selalu berusaha terlihat lebih kuat agar orang lain tidak panik dan berusaha untuk bisa diandalkan agar orang lain menjadi kuat. Saya berusaha berani meski sebenarnya saya takut. Saya selalu berpikir, Bapak adalah seorang tentara. Tentu tentara akan lebih sering berhadapan dengan resiko terburuk. Maka saya pun harus berani menghadapinya. Saya sangat menghargai persahabatan dan loyal terhadap orang-orang yang saya percaya serta orang-orang yang mempercayai saya. Dan saya akan berusaha untuk melakukan sesuatu sampai akhir. Meskipun di tengah jalan kadang sifat pecundang saya keluar.

Saya berpikir, mungkin sekarang Bapak kesepian. Tidak ada yang mengajaknya bercerita karena kami semua sudah jauh dari Bapak. Lalu, saya pun menelpon Bapak beberapa hari yang lalu. Seperti biasa percakapan kami adalah menanyakan kabar dan apa yang sedang dilakukan. Lalu saya terpikir drama yang sedang saya tonton. Drama itu bercerita tentang kehidupan militer, khususnya tentang kehidupan pasukan khusus dimana mereka adalah pasukan yang disiapkan untuk misi-misi yang berbahaya di luar negeri. Saat saya mulai bertanya tentang susunan pangkat (yang sampai sekarang masih belum bisa saya hafalkan padahal Bapak sudah memberitahu saya sejak SMP) kemudian sekolah militer dan sampai dimana jenjang sekolah militer yang diambil Bapak dulu, suara Bapak terdengar lebih ceria dan bersemangat. Dan itu pertama kalinya kami mengobrol lebih lama. Saya terus bertanya karena saya tidak mengerti dan Bapak berusaha menjelaskan sebisanya. Pasti Bapak merindukan saat-saat itu.

Dulu Bapak ingin saya atau adik saya menjadi tentara. Tapi, apa daya saya tidak mau dan memang tidak punya kemampuan untuk itu. Saya pun tidak menyesal. Karena Bapak tidak memaksa. Saya pikir itu wajar. Biasanya orang tua punya ekspektasi tinggi pada anaknya. Dan saya berencana akan menonton drama itu lagi bersama Bapak saat saya pulang. Saya harus bisa keluar bersama Bapak untuk berbicara tentang banyak hal, termasuk memberitahukan Bapak tentang aktivitas saya sebagai seorang pengemban dakwah Islam. Sebagai seseorang yang berusaha menyelamatkan banyak orang dari sistem jahat bernama Kapitalisme dan tentu saja saya akan bercerita tentang Khilafah kepada Bapak. Jika Khilafah tegak dan Bapak masih hidup, mungkin saja Bapak bisa berjihad dan semoga itu bisa menghapuskan dosa-dosa Bapak di masa lalu.

Saya merasa bersalah karena terlambat menyadari apa yang Bapak butuhkan saat ini. Tapi, saya juga bersyukur setidaknya saya masih bisa berbicara dengan Bapak untuk hal yang Bapak sukai. Semoga Bapak sehat dan semoga kita bisa bertemu lagi. Sampai ketemu dua bulan lagi, Pak. Pak, instead calling you “Daddy”, I prefer call you “Father”. Pak, I miss you a lot. And love you in Allah as always.

Malang, 2016. 04.14. 11:07 AM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s