Terjebak Rutinitas

Dakwah bukanlah aktivitas yang mudah. Banyak resiko dan pengorbanan. Dakwah tidak hanya menuntut pengorbanan kecil, tapi semua hal yang bisa dikorbankan oleh pengembannya.

Tidak semua orang mampu berdakwah. Apalagi berdakwah dalam sebuah jamaah. Menghadapi berbagai karakter orang juga tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Salah satu jebakan berbahaya dalam dakwah adalah jebakan rutinitas. Faktornya bisa banyak. Keimanan yang kurang dipompa, aktivitas yang padat dan tekanan untuk menyelesaikan banyak hal dalam waktu yang bersamaan kadang membuat seorang pengemban dakwah terjebak dengan rutinitas. Dakwah tidak lagi diemban dengan kesadaran, tapi hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Sebenarnya tidak hanya dakwah, tetapi dalam seluruh aktivitas yang sudah dilakukan dalam waktu yang lama. Padahal, sebelum memutuskan pilihan tersebut, tentu kita sudah siap dengan segala resikonya.

Ketika dakwah hanya sekedar menjadi rutinitas, seolah tak ada lagi pelajaran yang bisa didapatkan ketika berdakwah. Kontak ide terasa berat, menghubungi kontakan pun rasanya malas. Mengisi halaqah setengah hati, dan memikirkan anggota halaqah maupun tim juga sama. Akhirnya yang terjadi adalah aktivitas lain meningkat. Tentu saja aktivitas yang tidak berhubungan dengan dakwah. Melarikan diri dengan alasan “Me Time”, merenung dan sebagainya tetapi kenyataannya semua itu tidak membawa kepada kesadaran yang utuh untuk kembali melaksanakannya dengan optimal dan penuh tanggung jawab.

Saat saya merasakan hal seperti ini, saya berpikir keras, pasti ada yang salah. Pasti ada yang keliru dengan mindset saya. Pasti ada hal yang belum saya lakukan. Pasti hubungan saya dengan Allah belum benar.

Benar. Ada hal yang saya lupakan. Saya lupa diri. Saya lupa bahwa saya adalah Hamba Allah yang diberi akal. Dengan akal itu saya bisa berpikir dan memompa kesadaran saya untuk berbuat karena Allah saja, bukan karena yang lain. Maka penting untuk selalu menghadirkan ruh dalam setiap aktivitas, yakni kesadaran akan hubungan dengan Allah. Kesadaran bahwa diri ini adalah hamba yang harus terikat dengan Syariat Allah, salah satunya adalah dakwah. Apalagi aktivitas dakwah itu adalah sebuah pilihan yang diambil dan sebuah janji kepada Allah untuk menjadi seorang penjaga Islam yang terpercaya.

Last but not least, kesadaran tidak didapatkan dengan cara apapun selain berpikir. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 190:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal (berpikir)”

Malang, 30 Maret 2016. 07:15 PM. Di antara keramaian.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s