Belajar dari Isra’ Mi’raj

“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (TQS. Al Israa [17]:1)

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengalami kejenuhan yang cukup parah. Salah satunya adalah ketika melihat blog ini sudah tidak pernah saya kunjungi lagi. Berasa sarang jin 😀 Dan ketika pun pengen banget nulis rasanya tangan gak bisa gerak. Ibarat udah lama banget gak ngedance di keyboard tiba-tiba jadi kagok 😀 Akhirnya saya putuskan harus menulis bagaimana pun caranya dan apapun yang terjadi (lebay dah gue -_-)

Biasanya kalo lagi bosan atau jenuh banget pasti bawaannya pengen jalan-jalan. Meski hanya sekedar muter-muter naik motor atau jalan kaki keliling kampus. Kalua teman saya mengistilahkan cara menghilangkan kejenuhan adalah dengan “melarikan diri” or “escaping”. Ya, ada saat dimana saya juga merasakan itu. Merasakan ingin melarikan diri ke suatu tempat. Lalu saya teringat dengan peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW. Sebuah peristiwa luar biasa. Hanya dalam semalam Rasulullah bisa jalan-jalan sampai ke langit ketujuh.

Pastilah kita mengingat bagaimana latar belakang kenapa Rasulullah SAW diajak “jalan-jalan” oleh Allah SWT mulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa trus ke Sidratul Muntaha. Pada saat itu kondisi Rasulullah benar-benar terpuruk. Dakwah nyaris “stuck” karena kondisi masyarakat Makkah yang bebal, selepas pemboikotan nyaris tidak ada yang berubah, belum lagi paman dan istri beliau, dua orang yang beliau sayangi meninggal dunia di waktu yang berdekatan. Sebagai manusia, tentu Rasulullah amat sangat bersedih. Allah yang tahu bahwa Rasulullah ada manusia biasa sama seperti manusia pada umumnya, memilih sebuah cara untuk menghibur beliau, yakni mengajak beliau berjalan di malam hari. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai peristiwa Isra’ Mi’raj dan diabadikan menjadi sebuah surat di dalam Al Qur’an, yakni surat Al Israa.

Jeda untuk merenung atau berkontemplasi memang sesekali dibutuhkan. Jalan-jalan untuk menghilangkan kejenuhan juga terkadang dibutuhkan. Namun, alangkah bijak jika kita belajar dari perjalanan Rasulullah. Allah tidak sekedar ngajak Rasulullah jalan-jalan untuk menghibur dan menghilangkan kesedihan beliau. Allah membuat beliau mengubah fokus dari kesedihan menjadi fokus yang lain. Allah memberi beliau perintah lain dan memberi beliau jalan yang jauh lebih lapang dan lebih terang dari sebelumnya. Ya, Rasulullah menerima perintah sholat dan sepulang dari Isra’ Mi’raj, Allah memberi pertolongan berupa siapnya penduduk Madinah menerima Rasulullah tidak hanya sebagai Nabi tetapi juga sebagai kepala negara.

Allah mengajak beliau jalan-jalan untuk mengingatkan beliau akan kewajibannya, bukan mengajarkan beliau untuk melarikan diri dan jeda tanpa melakukan apa-apa. Allah mengajarkan beliau tentang menata perasaan dengan mengalihkannya pada kewajiban yang lebih penting. Setelah peristiwa itu, Rasulullah semakin kuat dan semakin kokoh keyakinannya kepada Allah. Dan setelah itu pula, akhirnya Daulah Islam berdiri di Madinah yang menjadi cikal bakal tersebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia.

Saya merasa tertampar dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Kenapa? Karena saya menjadikan jalan-jalan hanya sebagai ajang melarikan diri dari rutinitas yang melelahkan dan menjemukan. Padahal, saya sebenarnya paham bahwa aktivitas dakwah bukan sekedar rutinitas. Dakwah adalah kewajiban. Bukan sebuah pilihan. Capek memang. Lama-lama jenuh juga apalagi jika dakwah itu stagnan. Tapi, melarikan diri dengan jalan-jalan bukan solusi yang solutif. Harusnya jalan-jalan itu menjadi titik balik, sebagaimana peristiwa Isra’ Mi’raj. Perjalanan seharusnya mengingatkan akan kewajiban. Perjalanan seharusnya mengingatkan kepada Allah. Perjalanan harusnya menjadikan semakin dekat dan semakin yakin akan pertolongan Allah.

Persinggahan. 2015.12.26. Selamat Malam, Dunia.

 

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s