Bukan Hanya Aku

Ini ceritaku dan dia. Hari ini akhirnya aku menyadari bahwa bukan hanya aku yang merasakan penderitaan luar biasa ini. Merasakan betapa tidak enaknya menjadi seorang anak korban broken home. Untuk beberapa saat sampai aku mendengar ceritanya yang nyaris sama persis dengan ceritaku. Hanya berbeda di beberapa bagian. Saat itu aku merasakan dua hal sekaligus. Pertama aku bersyukur. Sangat bersyukur. Kedua aku merasa bersalah.

Rasa bersyukur itu datang karena ternyata Allah masih sudi memberiku pelajaran tentang hidup ini. Allah kembali menunjukkan padaku bahwa bukan hanya aku yang merasakan pahit dan sakitnya menjadi anak broken home. Melihat kedua orang tua masih saling membenci bahkan setelah perceraian mereka. Berulang kali berpikir lebih baik mati daripada harus memilih salah satu, ayah atau ibu. Berulang kali membenci semuanya. Membenci kenapa harus aku dan kedua saudaraku yang merasakan seperti ini. Bahkan air mata sudah habis untuk menangisi semua ini.

Aku merasa bersalah. Karena dia akhirnya menangis saat bercerita. Meski aku tahu bahwa dia tidak bermaksud menangis. Baru kali ini aku merasa benar-benar bisa memahami orang lain. Aku seolah bisa merasakan semua yang dia rasakan. Kekhawatiran, kekecewaan, kebingungan dan harapannya. Semua itu juga ada padaku.

Aku berpikir, mungkin ini salah satu sebab mengapa Allah membenci perceraian meski Dia menghalalkannya. Kami tersakiti. Hati kami hancur berkeping-keping. Namun, aku berterima kasih pada Allah yang sudah mempertemukanku dengannya. Karena dia jauh lebih kuat dan lebih tangguh dariku. Aku merasa benar-benar menjadi pecundang dengan menganggap bahwa dirikulah yang paling menderita.

Sekali lagi aku ingin berterima kasih kepadaNya untuk hari ini. Untuk hari dimana seseorang yang memiliki luka yang sama denganku mengajarkanku tentang kekuatan dan ketabahan. Semoga Allah mengganti air mata yang mengalir itu dengan sesuatu yang lebih baik di kemudian hari. Mungkin, suatu hari kita akan berterima kasih kepada Allah atas kejadian yang menimpa kita.

Aku bersyukur mengenalmu. Aku bersyukur menjadi temanmu. Aku bersyukur bisa berbagi denganmu. Mari bersama membangun semangat. Sekarang, kita akan menjadi tulang punggung. Mari bersama belajar. Sekarang, kita adalah pemimpin. Mari bersama melayakkan diri. Sekarang, kesempatan itu ada di genggaman kita. Semoga kita bisa menjadi yang terbaik di sisiNya. Seperti katamu, menjadi anak shalihah. Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk orang tua kita.

 Cerita di waktu Dhuha. 20 November 2015.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s