Konsep tentang Masyarakat dari Kacamata Ideologi Kapitalisme, Sosialisme-Komunis dan Islam

Dalam tulisan sebelumnya saya mengatakan bahwa dalam kehidupannya manusia akan mencari jawaban tentang 3 pertanyaan besar dan mendasar dalam dirinya. Darimana ia berasal, untuk apa dia diciptakan, dan kemana ia setelah kehidupan ini. Tiga pertanyaan ini akan menjadi jawaban yang menentukan arah tujuan manusia dalam kehidupan.

        Setidaknya ada tiga jenis jawaban yang berbeda dari 3 pertanyaan tersebut. Dan jawaban itu telah diungkapkan oleh 3 ideologi besar, yakni Kapitalisme, Sosialisme-Komunisme dan Islam. Karena tiga jawaban yang berbeda ini akhirnya lahirlah pandangan yang menyeluruh tentang kehidupan, berikut tentang apa yang ada di dalamnya, termasuk masyarakat.

        Kapitalisme memandang bahwa dunia dan seisinya diciptakan oleh Pencipta. Namun, dalam kehidupan Pencipta tidak memiliki peran sebagai pengatur sehingga aturan dikembalikan kepada manusia. Dan pada akhirnya manusia akan mati dan kembali kepada Pencipta. Hal ini bermula dari pergolakan antara kaum agamawan dan kaum cendekiawan di Eropa pada abad pertengahan. Pada masa itu, agama memiliki kekuasaan yang mutlak dan mengikat. Kekuasaan ini dimanfaatkan oleh kalangan orang-orang kaya (raja dan kaum bangsawan) untuk menghisap darah rakyat. Ilmu pengetahuan pun mati total. Setelah pergolakan yang panjang akhirnya lahirlah dua kubu. Pertama, kubu yang sepakat dengan agama namun memisahkannya dari kehidupan dan kedua yang menolak agama sama sekali (cikal-bakal Komunisme). Kapitalisme inilah kubu yang pertama dengan akidahnya yang Sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Ideologi ini menjunjung tinggi kebebasan individu yang menurut mereka merupakan hak dasar manusia, yakni kebebasan beragama, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkepemilikan. Dari sinilah lahir konsep tentang masyarakat.

        Kapitalisme sangat menjunjung tinggi individu. Makanya, masyarakat didefinisikan sebagai kumpulan dari individu. Aturan-aturan yang dibuat pun untuk menjaga agar kebebasan individu tetap terlindungi dan dijunjung tinggi. Maka, ideologi ini membangkitkan kembali Demokrasi yang sudah lama terkubur dalam sejarah orang-orang Yunani untuk menjaga kebebasan itu. Karena menurut mereka, Demokrasilah yang mampu mewujudkan kebebasan individu. Ideologi Kapitalisme tidak peduli dengan standar benar-salah, baik-buruk. Semua dikembalikan kepada kebebasan itu sendiri. Seorang individu bebas menjadi orang baik, pun bebas menjadi orang jahat. Jadi, seorang Muslim yang terkontaminasi pemikiran Sekuler ini akan menganggap bahwa tidak wajib menjadi Muslim yang baik. Maka tidak heran jika ungkapan, “tergantung individunya atau orangnya” menjadi ungkapan yang populer. Sama seperti ungkapan, “jika individunya baik, maka masyarakat akan baik”. Padahal, itu tidak akan pernah terwujud dalam ideologi ini. Karena sejatinya ideologi Kapitalisme hanya menitikberatkan pada kebebasan individu, bukan kebaikan individu. Kelemahan konsep ideologi ini tercermin dalam penerapan aturannya. Ideologi ini meniscayakan bahwa kesejahteraan hanya akan didapatkan oleh individu tertentu. Kehidupan adalah persaingan untuk mencapai kedudukan tinggi di masyarakat, yakni kedudukan secara materi, baik itu secara finansial maupun eksistensi diri. Maka orang-orang lemah akan tetap lemah. Orang-orang yang mencari kekuatan dan kedudukan akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kekuatan secara finansial. Dan negara bertugas untuk menjaga persaingan itu tetap terjadi. Oleh karena itu, takkan pernah terwujud keadilan dari pandangan tentang masyarakat yang seperti ini. Yang terjadi hanyalah perbudakan orang-orang lemah (miskin) oleh orang-orang kuat (kaya). Dari sini seharusnya dapat disimpulkan bahwa ideologi ini tidak akan melahirkan keadilan di tengah-tengah manusia.

        Selanjutnya ideologi Sosialis-Komunis. Ideologi ini menganggap bahwa jagad raya dan seisinya berasal dari materi. Kehidupan ini pun untuk materi dan nantinya manusia akan mati kembali menjadi materi (tanah). Ideologi ini terlahir dari tempat yang sama dengan ideologi Kapitalisme, yakni di Eropa pada abad pertengahan. Ideologi ini menolak secara tegas keberadaan Tuhan sebagai pencipta dan pengatur kehidupan. Ideologi ini menjadikan dialektika materialisme sebagai asasnya dalam memandang kehidupan. Begitu pula dalam memandang masyarakat.

        Solialisme-Komunis memandang bahwa masyarakat terbentuk dari alam, manusia dan interaksi manusia dengan alam itu sendiri. Manusia akan berkembang seiring dengan perkembangan alam (materi). Masyarakat diumpamakan sebagaimana perputaran gigi dalam roda. Maka, perkembangan manusia akan mengikuti perkembangan alam. Ideologi ini menyamakan manusia seperti mesin produksi. Ideologi ini tidak mengenal adanya kebebasan individu. Segala sesuatu berpusat pada keberadaan negara untuk menjaga agar masyarakat tetap berada pada jalurnya. Maka, jika keberadaan manusia mengganggu keseimbangan perputaran gigi pada roda (mengganggu keseimbangan dalam masyarakat), maka negara harus mengambil tindakan. Sama seperti mesin, jika mesin tidak bisa bekerja, maka mesin itu akan diganti dengan yang baru. Ini pernah terjadi di Jerman, ketika Hitler membunuh orang-orang lemah dan cacat. Begitu pula dengan tragedy Holocaust, yakni pembantaian orang-orang Yahudi oleh NAZI. Konsep seperti ini jelas tidak manusiawi. Hal ini justru akan mematikan potensi manusia, yakni naluri yang ada pada manusia. Manusia memiliki naluri untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Manusia pun memiliki naluri untuk mengagungkan sesuatu Yang Maha Besar. Namun, ideologi ini tidak mengakui dan justru mengingkarinya. Manusia dibuat hina dan diperlakukan sama dengan benda mati lainnya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep masyarakat dari ideologi ini jelas tidak akan melahirkan masyarakat yang manusiawi dan bermartabat.

        Ideologi yang satu ini nyaris tidak pernah dianggap sebagai sebuah ideologi. Ideologi ini hanya dianggap sebagai agama ritual yang disingkirkan di sudut-sudut kehidupan dan diposisikan tinggi oleh orang-orang yang hendak menjemput kematian. Islam. Sesuatu yang diagungkan oleh pemeluknya tapi jarang memahami letak keagungan yang sebenarnya dari Islam itu sendiri. Secara hati mereka mengagungkan Islam, tapi secara zahir mereka mengagungkan ideologi yang lain. Mereka memisahkan Islam dari kehidupan mereka. Seperti yang terjadi hari ini.

        Islam memandang bahwa segala sesuatu diciptakan oleh pencipta, termasuk manusia. Pencipta tersebut adalah Allah SWT. Allah menciptakan manusia dengan sebuah tujuan, yakni beribadah kepadaNya. Ibadah di sini bukan hanya sebatas ibadah spiritual sebagaimana agama pada umumnya. Tetapi ibadah di sini adalah terikat dengan seluruh aturan Allah dalam kehidupan. Karena setelah kematian, manusia akan dibangkitkan kembali oleh Allah untuk dimintai pertanggung jawaban atas seluruh aktivitasnya selama di dunia. Oleh karena itu, Islam tidak memisahkan kehidupan pribadi dengan kehidupan sosial. Begitu pun dengan masyarakat.

        Islam memandang bahwa individu adalah bagian integral dari masyarakat. Individu dengan masyarakat tidak bisa dipisahkan, layaknya tangan sebagai bagian dari anggota tubuh. Masyarakat dengan individu diibaratkan sebagai bagian tubuh yang saling melengkapi satu sama lain. Individu bisa saja memiliki posisi yang berbeda di dalam kehidupan, namun sejatinya individu dan masyarakat berjalan pada jalur yang sama, yakni ada pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama dalam kehidupan. Maka, tujuan yang akan dicapai di masyarakat dirumuskan berdasarkan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah sebagai pencipta dan pengatur manusia. Tujuan ini tidak pernah berubah dan selalu tetap keadaannya. Tujuan ini di antaranya, menjaga akal, kehormatan, jiwa, pemilikan, individu, agama, keamanan dan negara. Untuk menjaganya maka butuh sanksi-sanksi yang tegas. Oleh karena itu, negara di dalam Islam berfungsi untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut dengan menerapkan seluruh syariat Allah, termasuk sanksinya baik hudud (sanksi yang sudah ditetapkan oleh Allah) dan uqubat (sanksi pidana). Maka Islam takkan pernah sempurna tanpa adanya 3 pilar, yakni individu yang bertakwa, masyarakat yang peduli dan negara yang menerapkan Syariat Islam (Khilafah). Inilah ideologi yang akan memberikan kesejahteraan kepada umat manusia. Hanya Islam yang mampu mewujudkan tatanan kehidupan yang manusiawi dan bermartabat, karena Islam berasal dari Dzat yang menciptakan semesta dan seisinya, yakni Allah SWT. Islam tidak menafikkan adanya naluri dalam diri manusia. Baik naluri untuk menunjukkan eksistensi diri, naluri melestarikan jenis, maupun naluri mengagungkan sesuatu (beragama). Islam mengatur semuanya dalam sebuah tatanan yang sempurna dari paripurna, yakni dengan adanya Khilafah yang mengimplementasikan seluruh Syariat Islam dalam kehidupan.

Sumber :

Kitab Nizham Al Islam (Peraturan Hidup dalam Islam) karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

2 thoughts on “Konsep tentang Masyarakat dari Kacamata Ideologi Kapitalisme, Sosialisme-Komunis dan Islam

    1. Maksudnya gimana ya? Ideologi itu masing-masing berbeda. Kapitalisme berbeda dengan Sosialisme-Komunis, juga berbeda dengan Islam. Jadi, tidak akan bisa bercampur. Karena masing-masing sudah memiliki konsepnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s