U-Turn; Let’s (Re)turn

Kehidupan layaknya kepingan-kepingan mozaik yang akan sempurna pada suatu titik tertentu. Dalam perjalanan kehidupannya, setiap manusia akan belajar dari setiap keping mozaik itu. Setiap kepingannya merupakan episode dalam kehidupan seorang manusia. Dan keseluruhan pecahan mozaik itu bermula dari tiga pertanyaan besar yang muncul dalam benaknya ketika akalnya telah sempurna.

Darimana aku? Untuk apa aku hidup? Dan akan kemana setelah kehidupan ini? Sadar atau tidak, dalam perjalanan kehidupannya, manusia akan berusaha untuk menjawab tiga pertanyaan ini. Dari sanalah tercipta kepingan mozaik yang disebut sebagai episode kehidupan.

Titik balik. Aku menyebutnya dengan istilah “U-Turn”. U-Turn di sini bukan berarti kembali pada kondisi sebelumnya, yakni terpuruk pada suatu keadaan tertentu. Titik balik di sini adalah titik kesadaran akan siapa diri ini sebenarnya dan hakikat kehidupan di dunia ini. Setelah sekian lama hidup dan melalui perjalanan panjang, perenungan yang tak berakhir beserta terpaan badai kegalauan yang serasa tak kunjung berakhir, maka titik balik adalah titik dimana aku menyerah kepadaNya. Kepada Dia, tempat dimana semua ini berawal dan tempat dimana semua ini bermuara.

Setelah sekian lama berjalan dalam egosentris diri yang berada di atas garis normal. Mencoba membohongi diri padahal tahu bahwa itu adalah sebuah kezhaliman. Dan kuputuskan aku akan mengambil titik balik itu. Titik untuk kembali kepadaNya. Kembali menyadari bahwa aku hanyalah seorang yang lemah dan amat terbatas. Aku takkan berarti apa-apa tanpaNya. Aku kembali menyadari bahwa aku ada untuk beribadah kepadaNya karena nanti aku akan bertanggung jawab atas segala amalku di dunia, termasuk apa yang sekarang kujalani.

Hidup dalam nuansa perjuangan memang berat. Banyak tuntutan dan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Hidup dalam perjuangan mungkin tak sedikit menguras tenaga, pikiran dan air mata termasuk materi. Dan tidak semua orang akhirnya menikmati jalan ini. Tapi, aku ingin belajar menikmatinya. Menikmati jalan perjuangan ini sebagai salah satu kepingan mozaik yang akan menyempurnakan episode kehidupanku. Karena aku tak ingin kembali pada keadaanku semula. Aku tak ingin kembali dalam keadaan seperti saat aku belum ada di sini, seperti saat aku belum menyadari siapa diriku dan apa hakikat hidup ini.

Manusia tempatnya lupa dan salah. Namun, manusia memiliki akal sehingga mereka bisa belajar dari kesalahannya dan tidak jatuh dalam kesalahan yang sama berkali-kali. Hidup pasti memiliki banyak tantangan, banyak masalah, banyak ujian. Tapi, sejauh apapun melangkah, Allah adalah sebaik-baik tempat kembali. Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar. Karena dariNya semua berawal dan kepadaNya semua bermuara.

Al Mustanir. 16 Oktober 2015. 06:28 AM. Selamat datang Muharram.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s