Yuk, Berubah!

Sneakers-sneaker-free-shipping-shoes-canvas-sneakers-canvas-shoes-sports-shoes-cheap-casual-for-girls-and
source : google

Dulu waktu SMP saya pernah ditanya apa hal yang tidak saya sukai dan saya menjawab saya tidak menyukai perubahan dan perpisahan. Kenapa? Karena kebanyakan orang berubah itu kea rah yang buruk. Beberapa teman saya seperti itu sehingga saya jadi antipati sama perubahan. Kalo perpisahan karena itu bikin sakit hati (tapi yang ini gak usah dibahas lah ya, kan temanya berubah :D) Kalo diingat-ingat lagi, saya jadi malu sendiri. Bagaimana bisa saya membenci sesuatu yang sebenarnya adalah sebuah keniscayaan di dunia ini? Ya, karena manusia itu dinamis. Dalam hidupnya manusia senantiasa mengalami perubahan dari masa ke masa. Dan perubahan yang saya garisbawahi di sini adalah perubahan menuju kebaikan. Kalo bahasa kerennya di dalam kitab sih “kebangkitan”. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka ia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia termasuk orang yang celaka” (Al Hadist) Allah SWT berfirman : “….Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (TQS. Ar Ra’d [13] : 11) Dilihat dari ayat di atas tentu sudah jelas bahwa perubahan itu datang dari diri sendiri. Perubahan tidak ujuk-ujuk ada pada seseorang kecuali dia telah memutuskan untuk berubah. Tentu, ini adalah sebuah proses. Karena tidak mudah untuk berubah. Pasti banyak resiko yang akan dihadapi ketika seseorang memutuskan untuk berubah. Kita yang sekarang adalah hasil pilihan kita di masa lalu. Kita menjadi seperti sekarang tentu dengan perjuangan dan pertentangan. Pertanyaannya, perubahan seperti apa yang seharusnya diambil? Apakah hanya sekedar berubah tanpa tujuan, berubah untuk sebuah tujuan jangka pendek atau lebih dari itu? Sebelum melangkah lebih jauh, saya pengen nanya dulu nih. Pernah gak sih memikirkan (atau paling gak terbersit) pertanyaan-pertanyaan seperti “darimana saya?”, “mau ngapain saya di dunia ini?” trus setelah itu “akan kemana saya setelah mati?” Kenapa saya bertanya seperti ini? Karena ini adalah modal awal untuk bertolak menuju perubahan. Imam Syafi’ie mengatakan bahwa tugas utama seorang manusia ketika sudah baligh adalah berpikir dan jika tidak dilakukan maka ia dianggap tidak ada di dunia ini (baca : mati). Allah berfirman : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (TQS. Ali Imran [3] : 190) Ini adalah jawaban yang akan ditemukan oleh orang-orang yang berpikir. Ya, sebuah tanda. Tanda bahwa dunia ini tidak ada dengan sendirinya. Ada Pencipta yang menciptakannya. Dan kita yang Muslim meyakini bahwa Pencipta itu adalah Allah SWT. Jadi, aktivitas berpikir akan mengantarkan pada keimanan. Kok bisa? Ya, karena dengan berpikir itulah kita mampu menemukan keberadaan Allah sebagai Pencipta. Tapi, apakah Allah hanya sekedar menciptakan saja seperti pembuat jam menciptakan jam yang setelah dipasangi baterai dibiarkan jalan begitu saja sampai mati sendiri? Allah berfirman : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (TQS. Adz Zariyaat [51] : 56). Ayat di atas jelas menerangkan bahwa Allah menciptakan kita untuk tujuan tertentu yakni beribadah kepadaNya. Dan beribadah di sini bukan sekedar pada ibadah spiritual tapi juga ibadah yang mencakup seluruh aspek kehidupan kita. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa Allah tidak hanya berperan sebagai Pencipta tetapi juga sebagai Al Mudabbir (Pengatur). Lalu, kenapa kita kok diatur? Jawabannya sederhana, karena setelah ini kita akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita. Rasulullah SAW bersabda : “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.”  (HR. At-Tirmidzi) So, berubah itu perlu, Kawan. Bahkan itu penting. Seperti sabda Rasulullah di awal tadi. Tentu gak mau kan jadi orang yang merugi? Dan berubahnya seorang Muslim itu bukan sekedar berubah karena apa atau (si)apa, tapi semata karena keimanan kepada Allah. Jadi, perubahan seorang Muslim itu disesuaikan dengan aturan Allah bukan atas dasar hawa nafsu atau mindset pribadi karena ia paham bahwa di dunia ini dia harus beribadah kepada Allah, Penciptanya sekaligus Pencipta jagad raya ini. Tunggu apalagi? Yuk berubah jadi lebih dekat dengan Islam. Berubah untuk bisa masuk ke dalam surgaNya. Kalo bukan sekarang, kapan lagi? Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Shelter, June 13th 2015. 09:14 PM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s