True Friends Never Die

Sebelum saya memulai untuk menulis, izinkan saya mengutip firman Allah berikut ini (apa-apaan ini? Tiba-tiba saya jadi serius banget :D)

“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) akan menjadi musuh bagi yang lain kecuali persahabatan karena ketakwaan” (QS. Az-Zukhruf [43] : 67)

Sebelumnya saya pernah menulis tentang sahabat di salah satu akun SNS saya (ecieee eksis banget akun SNS-nya bejibun :D). Tapi kali ini saya benar-benar serius menuliskannya. Tiba-tiba banget. Ya, emang karena inspirasi saya menulis sukanya muncul tiba-tiba. Sayangnya, saat inspirasi itu muncul saya gak langsung menuliskannya jadi kesannya gak orisinil lagi (fresh from the oven?? :D) tapi gapapalah, selagi saya menuliskannya toh ini juga bakal dibaca, setidaknya mereka yang saya cantumkan namanya di sini ^_^

Yup, udah ketebak. Seperti judulnya, saya bakal cerita tentang teman-teman terbaik saya. Bahasa kerennya BFF (Best Friend Forever, In syaa Allah) ^_^ Seperti ayat di atas, saya bertemu mereka secara kebetulan tapi dalam sebuah bingkai yang indah, bingkai ideologi Islam. Alhamdulillah.

Dulu, waktu kecil saya bukan termasuk anak yang supel. Saya gak tau caranya berteman. Saya cuma punya teman sedikit, tapi Alhamdulillah mereka peduli dengan saya. Namun, itu gak berlangsung lama karena setelah itu saya sering gonta-ganti teman (apaan coba?). Sampe ada yang bilang kalo cewek itu emang karena dominan perasaan seringnya nyari yang cocok akhirnya kesannya moody. Beda sama cowok. Kalo mereka udah temenan, dari TK bisa ampe tua. Awalnya saya percaya dengan statement yang saya juga gak tau datangnya dari mana. Tapi untuk orang-orang ini, mereka berbeda. Ya, they’re different. Mereka beda dengan teman-teman saya sebelumnya, bukan karena teman-teman saya sebelumnya kurang asik, bukan juga karena teman-teman saya sebelumnya kurang peduli sama saya atau bukan karena teman-teman saya sebelumnya gak bisa diajak seru-seruan. Jawabannya sederhana, karena ikatan diantara saya dengan mereka berbeda dengan ikatan yang saya bangun dengan delapan orang spesial ini 😀

Oke deh, daripada penasaran saya kenalin satu-satu deh.

Fitri Inda. Dia teman saya sejak kelas 1 SMP. Pertama kali kenalan di dalam angkot pas mau daftar ulang SMP. Satu ruangan pas MOS, satu kelas sampai kelas 3 bahkan kelas XI dan kelas XII juga sekelas. Sama-sama di Rohis sampe lulus SMA. Bahkan janjian masuk fakultas dan universitas yang sama, tapi apa daya kita berdua tidak masuk ke sana dan berada di jurusan yang berbeda jauh. Sepertinya dia adalah orang pertama yang jadi fans saya (haha pede banget gue :D). Tapi emang bener sih, sejak saya terkenal karena diseret nyanyi ke kelas-kelas pas MOS SMP, dia akhirnya selalu request dinyanyiin tiap kali ketemu. Saking ngefansnya dia sampe bela-belain telpon berjam-jam. Dia salah satu sahabat terbaik saya. Orang yang gak pernah bosan ngajarin saya pelajaran hitung-hitungan bahkan ketika otak saya udah gak mampu mencerna. Dia yang selalu membantu saya saat saya pusing ngurusin organisasi. Dia juga yang selalu mentraktir saya es krim kala saya menemaninya ke toko buku. Meski kadang nyebelin karena saya sama dia sama-sama keras kepala, saya tau dia menyayangi saya lebih dari yang saya tahu. Dia selalu mengalah saat saya memarahinya, menasehatinya atau memuhasabahinya dan terkadang saya jarang mengangkat telponnya ketika dia ingin menelpon saya. Dan dia satu-satunya yang paling rajin menelpon saya dengan satu alasan, rindu. Saya seringkali menjawabnya dengan tertawa. Tapi sebenarnya saya juga merindukannya. Merindukan saat-saat berkelana bersamanya mencermati sudut-sudut kota, atau hanya sekedar melihat apa saja buku terbaru yang ada di toko buku terbesar di kota kelahiran kami. Alhamdulillah, rasa syukur tiada tara saat dia menjadi salah satu bagian dari pejuang agama ini. Bersama beberapa teman kami yang lain, kami menggarap organisasi kerohanian Islam di sekolah. Menangis bersama, tertawa bersama, letih dan lelah bersama. Kami bahkan selalu rutin ikut lomba mewakili sekolah dan tidak jarang memenangkan lomba tersebut dengan satu harapan, uang yang kami dapatkan dapat kami infakkan untuk kegiatan Rohis karena kami tidak mendapatkan uang jajan yang cukup untuk berinfak. Dia mengajari saya tentang sebuah ketulusan, sebuah keyakinan dan kerja keras. Semoga kamu gak lupa, ukh. Beban menjadi koass karena kamu sanggup menanggungnya. Jangan nyerah, ya. Allah pasti kasih jalan jika kita tetap istiqomah di jalanNya. Uhibbuki fillah, love you in Allah as always.

Nur Mala Sari. Saya mengenalnya sebagai seorang anak yang super tomboy perwakilan olahraga badminton dari kelasnya saat Pekan Olahraga dan Seni sekolah sejak SMP. Sebenarnya saya mengenalnya sejak SMP, bahkan kelas 3 SMP kami pernah sekelas namun tidak begitu akrab. Barulah SMA kami mulai saling mengenal apalagi saat kami berada dalam kelompok halqah yang sama. Tidak pernah terbersit dalam pikiran saya bahwa dia akan menjadi seorang pengemban dakwah. Ketika ada les tambahan di sore hari, saya masih ingat dia memakai kaos dan jeans selutut plus sandal jepit. Dan yang membuat saya terkesan, amat sangat terkesan adalah hari pertama ia memakai seragam sekolah berupa jilbab (gamis) lengkap dengan kerudungnya. Ya, semua orang bisa berubah. Hidayah itu datang kepada siapa saja yang mau menjemputnya. Jadilah kami mengkaji Islam bersama dan berada dalam kelompok halqah yang sama. Kami memang tidak pernah sekelas sejak SMA, namun karena ikatan akidah kami tetap bisa dekat meski tidak sekelas. Musholla sekolah selalu jadi tempat kami untuk beraktivitas. Rapat, pengajian umum hari jumat, membina adik-adik dan mengorganisasikan acara. Dia adalah orang yang paling sabar yang pernah saya temui. Jarang sekali saya mendengar dia mengeluh dalam keadaan sesulit apapun. Hanya sekali ketika memang dia benar-benar tidak kuasa menahan perihnya ketidakadilan yang dia terima. Namun, saya tahu dia lebih kuat dari saya. Saya masih ingat beberapa hari sebelum pengumuman SNMPTN yang membuat saya harus berpisah dengannya. Kami berlari di tengah hujan usai halqah dan menyadari bahwa kami akan segera berpisah. Seperti Fitri, kami pernah tertawa dan menangis bersama saat kami berjuang untuk mempertahankan jilbab kami pada saat pelajaran olahraga, menghadapi tatapan aneh teman-teman sekelas dan cibiran sinis dari beberapa guru yang sentimen dengan kami. Dan kami telah melaluinya. Dan setelah itu, ikatan diantara kami semakin kuat. Dialah yang selalu menanyakan kabar saya, mengirimkan SMS tausiyah, menyemangati dan mendengarkan keluh kesah saya padahal kondisi dia tidak lebih baik dari kondisi saya. Namun, dia selalu menghadapi semua dengan tersenyum. Terkesan bodoh tapi memang begitulah keadaannya. Dan saya selalu merindukan senyumannya. Senyuman yang membuat saya memahami kenapa dia begitu kuat dalam menjalani semua kepahitan dalam hidupnya. Dan betapa bahagianya saya saat kami bertemu di momen Muktamar Khilafah dua tahun yang lalu. Meski hanya sebentar saya senang bisa bertemu dengannya secara langsung. Dia juga selalu menanti kepulangan saya. Dan saya tahu dia pasti selalu mendoakannya sekalipun dia tidak mengatakannya. Chai, I miss you. Love you in Allah as always ^_^

Miftahul Jannah. Kami bertemu dalam sebuah organisasi perkumpulan Rohis seantero kota tempat kami tinggal. Pertemuan pertama tidak begitu berkesan. Namun, anaknya yang ceria dan selalu mampu memberikan spirit dalam setiap pertemuan membuat saya merasa bahwa dia istimewa. Karena kami tidak satu sekolah saat SMA, kami baru dekat beberapa waktu yang lalu, ketika kepulangan saya di tahun 2013. Itu juga karena Mala yang sudah lebih dulu dekat dengannya. Kehebohannya selalu membuat saya merindukannya. Dia bahkan tidak pernah komplain saat saya memarahinya karena sikapnya yang tidak tepat, dsb. Bahkan dia meminta untuk diomeli sejadi-jadinya ketika dia sadar melakukan hal yang tidak tepat. Parahnya, saya benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk memarahinya, menasehatinya berjam-jam dengan chat yang super panjang atau lewat telpon. Tapi, dia selalu berterima kasih untuk itu. Salah satu hobinya adalah mencari quote untuk di repost di akun SNS-nya dan beberapa dari quote itu adalah omelan-omelan saya untuknya. Dia adalah seorang fotografer yang berbakat tapi seringkali dia tidak percaya diri dengan kemampuannya. Saat itulah saya akan mengomelinya dan menyemangatinya, tentu saja. Satu hal yang takkan pernah saya lupakan adalah perkataannya kepada saya bahwa dia pasti akan mendengarkan semua keluhan saya. Karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk saya sebagai seorang teman. Dan bagi saya itu lebih dari cukup. Bahkan kalimat, “Ren, I know you’re strong,” saja sudah membuat saya merasa beban saya sedikit berkurang. Seringkali saya merasa egois karena dia selalu berhasil menyembunyikan perasaannya bahkan ketika dia butuh penyemangat. Dan saat itu saya menyadari bahwa menyayangi seseorang itu terkadang menyebalkan saat tahu saya tidak bisa melakukan sesuatu untuknya. But now, she’s more mature than before. Waktu memang selalu punya cara tersendiri untuk mendewasakan seseorang. Begitu pun dengan dia. Meski kenangan kami tidak banyak, namun dia selalu mampu membuat suasana yang mendung jadi cerah. Darinya saya akhirnya belajar bagaimana menjadi seorang pendengar, tidak hanya seorang pembicara. Tapi kadang kalo saya tiba-tiba diam, dia jadi bingung soalnya biasanya langsung ngomong 😀 Semoga kita bisa bertemu lagi, ya…. Uhibbuki fillah, Aoi Chan 😀

Fitriyani Thamrin. Fitri yang kedua. Ya, saya memiliki tiga orang teman yang namanya Fitri. Salah satunya adalah dia. Karena memang tanggal mereka tidak jauh. Tahunnya pun sama. Seperti Maret-April 1992 adalah momen Idul Fitri sehingga nama mereka bertiga ada Fitri-nya. Dia adalah teman satu sekolah sejak SMP. Saya pernah beberapa kali berkunjung ke sekolahnya saat pertandingan. Dan saya tidak pernah menyangka dia juga akan menjadi bagian dari perjuangan ini. Saat SMP dan SMA dia cukup populer karena kemampuannya di bidang seni. Dia pandai bernyanyi, bermain gitar dan dia juga termasuk dalam anggota club teater sekolah. Tidak hanya itu, dari segi akademis dia juga cukup menonjol. Kelas 2 SMP saya sekelas dengannya. Begitu pun kelas XI dan kelas XII. Namun, kami baru benar-benar berteman ketika kuliah semester 4. Waktu itu saya tahu kabar dari teman bahwa dia telah berhijrah dan ceritanya benar-benar membuat saya terkesan. Namun, sampai sekarang dia masih belum menceritakan detail ceritanya kepada saya. Masih rahasia, katanya. Mau ditulis jadi cerita dan nanti saya yang mengeditnya. Saat itulah baru saya boleh baca. Saya harap dia masih mengingat pembicaraan kami selepas sholat ashar tiga tahun yang lalu. Sekarang dia masih aktif di dakwah kampus meski sudah berstatus sarjana pendidikan. Dia juga merangkap sebagai tim infokom di kota kelahiran kami. Tentu pengalamannya lebih banyak dari saya. Tidak hanya itu, kemampuan menulisnya juga lebih baik dari saya (yang lebih memilih koar-koar lewat blog hehehe :D). Darinya saya belajar tentang komitmen, tentang prinsip yang harus dipegang dalam kondisi apapun, tentang keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang dan tentang sebuah visi yang harus diwujudkan. Mungkin kami tidak selalu bisa cocok, tapi dengan itu kami belajar untuk saling memahami satu sama lain. Saya belajar bersabar dan belajar memahami. Senang bisa menjadi salah satu temanmu, ukh. Uhibbuki fillah, Mido Chan ^_^

Amirah Puspadewi. Dia adalah teman saya sejak kuliah semester 1. Penampilannya mengingatkan saya pada Mala ketika SMA. Tapi karakternya mengingatkan saya pada Fitri. Dia adalah orang yang sabar mengajarkan saya dasar-dasar bahasa Jepang saat saya tidak tahu apa-apa tentang bahasa Jepang. Dia juga memperkenalkan saya dengan hal-hal berbau Jepang untuk membantu saya belajar. Mulai dari band Jepang, lagu Jepang, anime, dsb. Kami sering berbagi tentang banyak hal. Satu lagi, dia punya banyak hal mengagumkan dalam dirinya. Dia suka menggambar. Dia juga suka menulis, terutama puisi dan saya selalu suka puisinya. Saya masih ingat ketika kami sering berbalas surel saat liburan, berbalas tweet, berbagi note di facebook dan sebagainya. Sampai akhirnya saya memperkenalkan Islam kaaffah kepadanya. Butuh perjalanan panjang sampai dia akhirnya menjadi seperti sekarang. Dan saya percaya dia akan lebih hebat lagi di masa depan. Saya sempat berpikir, jika dia seorang pria, kami pasti akan jadi best couple, hehehe. Dia salah satu alasan saya mengagumi orang-orang bergolongan darah O 😀 Meski kadang kami bertolak belakang tapi kami selalu bisa saling melengkapi. Dia yang kocak, suka ngocol, jarang serius, usil, dan lebih sensitif dari saya yang cuek, kaku, gak punya selera humor tapi selalu ketawa kalo dekat-dekat dia. Pokoknya, apapun kalo sama dia pasti jadi seru. Saya sampai berpikir mungkin saya akan mempertimbangkan kriteria seperti dia ketika akan memutuskan menikah nantinya (apa-apaan ini? :D) Mulai dari makan es krim bareng, ngobrol di kolam perpus kampus, ngobrol pas perjalanan pulang dari halqah atau sekedar main ke kontrakan saya. Banyak hal yang bisa saya lakukan dengannya yang tidak bisa saya lakukan dengan teman-teman yang lain. Tapi, kebanyakan tidak bisa saya ungkapkan. Pertama, karena dia gampang ge-er dan kedua saya gak mau diusilin terus-menerus (takut ketularan, hehehe peace bro :D). Kami sepaket. Saudara seakidah, saudara seperjuangan dan dia juga adalah guru yang mengajarkan saya tentang banyak hal. Keep istiqomah ya, Bro. Uhibbuki fillah 😀

Siti Khadijah Nur Maryam. Lain Ami, lain Maryam. Saya dengan Ami adalah dua karakter yang saling melengkapi. Tapi, saya dengan Maryam adalah dua karakter yang totally different. Ya, saya sampai menyematkan kata Rectoverso padanya. Herannya, banyak orang yang mengira kami dekat. Padahal, kebetulan aja karena kami sering bareng. Ya, anak ini kalo ada apa-apa saya selalu diajak dan berujung pada kekesalan saya karena keanehannya. Tapi, daripada nyebut dia aneh, saya lebih suka menyebut dia “ajaib”. Itu bukan sinonim dari kata aneh. Saya memang merasa dia ajaib. She’s one of a kind. Sejak awal bertemu dengannya, saya merasa dia mengagumkan. Dia berkarisma. Dia juga cerdas dan mandiri. Meski kadang dia bisa tiba-tiba berubah dan bikin saya bingung, tapi dia selalu bisa bikin saya terkesan. Pertama, namanya yang super bagus itu karena dia mengambil nama dua perempuan paling mulia se-jagad raya. Kedua, karena dia seorang pekerja keras. Ketiga, karena dia selalu punya pemikiran yang berbeda dengan saya. Dan karena dia juga sering bikin saya kesal. Rasanya hidup saya belum lengkap kalo belum ngerasa sebel karena “ajaib”-nya dia. Saya bahkan dapat satu panggilan khusus dan dia tiba-tiba sering nyebut-nyebut nama itu kalo lagi panik, galau atau lagi bosan. Tapi, dia selalu bisa bikin saya berpikir dan berpikir lagi tentang kata-kata saya sendiri. Cuma dia yang selalu berseberangan dengan apa yang saya pikirkan. Dan Cuma dengan dia saya bisa adu argument sambil teriak, “Iam, kamu nih!” Jika sedang di rumah, pasti dia akan meminta saya mengirimkan surel kepadanya dengan special request. Surat berbentuk artikel. Ekspektasinya pada saya terlalu besar (Maaf Iam, aku belum bikin surat artikelnya hehehe. Semoga ini bisa  masuk hitungan, ya :D). Mari berteman, satu kalimat darinya yang selalu saya ingat. Satu kalimat yang membuat saya bersusah payah mengeliminasi sisi egois saya pelan-pelan. Karena dia saya jadi ingin berteman dengan banyak orang. Congraduation Iam 😀 I thank Allah for making you one of the part of my life.

Lailatul Fitriyah. Ini Fitri yang ketiga. Pertama kali berkenalan dengannya karena sebuah ketidaksengajaan. Kami berkenalan lewat SNS dan ternyata dia temannya teman halqah saya. Jadilah kami sering berkomunikasi meski waktu itu smartphone belum populer karena masih dalam kategori barang tersier. Tapi, semenjak ada smartphone kami jadi lebih sering berkomunikasi dan bertukar pendapat dan berbagi banyak hal. Saya suka mendengar suaranya meski hanya lewat Voice Note. Hal yang membuat saya terkesan adalah ketika saya mengirim surat kepadanya dan dia membalas dengan surat beserta hadiah. Saya benar-benar kaget ketika itu padahal kita baru saja kenal dan tidak terlalu akrab karena hanya berkomunikasi via SNS. Tapi, dari sana saya semakin memahami bahwa akidah tidak akan terputus hanya karena jarak. Justru bersahabat karena akidah yang akhirnya selalu membuat kami bisa berdekatan. Sekarang, dia pun akhirnya bisa kenal dengan teman-teman saya yang lain. Dengan Jannah, Ami dan Ziza. Semoga suatu saat kita bisa ketemu ya, Fit. Aku yang ke Bogor atau kamu yang ke Malang 😀 Jazakillah khairan katsir for making me the part of your life. Making me your friend. Uhibbuki fillah ^_^

Kamila Aziza Rabiula. Saya mengenalnya juga karena tidak sengaja. Salah satu kebiasaan (jelek) saya adalah salah mengidentifikasi orang. Dan dia adalah salah satu korban saya (sorry, Zico) Tapi dari situ akhirnya kami bisa kenal dan berteman bahkan bisa dekat seperti sekarang meski belum pernah bertemu. Dan ternyata saya pun banyak kesamaan dengan dia. Pertama, kami lahir di bulan dan tahun yang sama, hanya tanggal saja yang berbeda. Dia dulu atlet basket dan saya sangat suka basket meski gak pernah bisa main lebih dari dua quarter. Style-nya tidak jauh berbeda dengan saya. Simple tapi syar’i. Satu lagi, kami sama-sama punya cita-cita menjadi EO Islamic Wedding 😀 Dan saya pun dengan cepat bisa akrab dengannya. Dia seorang desainer dan fotografer meski dia kuliah di jurusan keperawatan. Orangnya sangat peduli dengan orang lain. Itu membuktikan kalo dia peka. Meskipun dia kadang sungkan kalo mau duluan. Kalo nanya itu pasti detail dan panjang tapi saya suka dengan gayanya. Dan saya tau dia orangnya rame dan asik. Ya, bisa diajak ngobrol apa aja kayak Ami. Dan kebetulan saya, dia, Ami, Jannah dan Fitri menyukai dunia fotografi dan desain grafis. Jadilah rame kalo sudah ketemu di dunia maya. Tapi saya senang karena bisa kenal dengan dia. Senang juga dia bisa kenal dengan teman-teman saya. Dia juga salah satu orang yang saya kagumi meski belum pernah bertemu. Dan semoga suatu saat kami bisa bertemu. Zicoo, love you in Allah, Bro! 😀

Nila Indarwati. Saya sudah menganggapnya seperti saudara saya sendiri. Begitu juga dengan keluarganya. Jika saya jarang membubuhkan kata “say” saat berbicara dengan orang, tapi saya selalu membubuhkan kata itu di belakang. Kesannya lebay tapi saya sering seperti itu dengan dia. Dan jarang-jarang saya yang cool ini bisa kayak gitu (jiaaaahhhh :D) Kenalan sama dia juga gak sengaja. Lewat SNS tapi Alhamdulillah bisa ketemu karena tempat kita dekat. Saya jadi punya alasan ke Surabaya juga karena dia. Karena dia juga saya jadi kenal banyak orang. Entah kenapa dia amat sangat supel. Temannya banyak banget. Kayaknya hampir gak ada yang gak dia kenal. Kalo saya tanya, tau ini gak? Dia jawab dengan santai, “Oh, itu. Tau. Yang itu kan? Yang gini? Yang gitu? Bla bla bla”. Saya Cuma bisa terheran-heran sambil membatin, “Nih anak udah kayak Wikipedia aja”. Dia teman sekaligus saudara saya. Saudara seakidah, saudara seperjuangan juga. Orang yang suka tiba-tiba nelpon hanya karena dia kepikiran saya atau karena saya ditanyain sama ibunya. Orang yang suka tiba-tiba lebay dan bikin saya ketawa. Orang yang bikin saya betah pake bahasa Jawa selama dia telpon (padahal bahasa Jawa saya gak fasih sama sekali). Dan yang pasti, dia juga salah satu orang yang saya rindukan. Miss you, Nilaaa…. Aku pengen ke rumahmu lagi. Ketemu Ibu, Bapak, Pak Po, Pak Dhe dan saudara-saudaramu 😀 (berasa anak angkat kalo di rumahnya Nila ^_^)

Punya teman adalah salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup saya. Apalagi punya teman-teman seperti mereka. Teman-teman yang meski tidak selalu bersama dalam suka dan duka, tapi mereka ada dalam setiap doa yang diam-diam dipanjatkan. Saling mengharapkan yang terbaik bagi satu sama lain meski terpisah jarak, meski belum pernah bertemu. Saling menguatkan dan saling mendukung dari jauh. Memberi senyuman kepada satu sama lain. Dan saya takkan bisa mendapatkan seperti mereka di manapun. Saya percaya, setiap orang memiliki tempat khusus di hati orang lain. Begitu pun mereka untuk saya. Meski saya tidak tahu saya berada di tempat yang mana di hati mereka. Bagi saya, mereka adalah sahabat saya. Sahabat yang mampu mengajarkan saya tentang hidup ini, mampu menyemangati saya untuk taat dan istiqomah menggenggam Islam.

Ya Allah, jagalah sahabat-sahabatku dalam ketaatan kepadaMu. Berilah keberkahan dalam setiap langkah dan urusan mereka. Sayangilah mereka dan berikan mereka keteguhan serta kokohkanlah pijakan mereka di jalan dakwah ini. Dan pertemukanlah kami di surgaMu kelak. Aamiin…

Shelter, June 1st 2015. 10:54 PM. Welcome June ^_^

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

8 thoughts on “True Friends Never Die

  1. aih…so sweet nya dah 😀
    jadinya speechless pas baca mpe akhirnya ada namaku disitu wahh berasa dapat penghargaan hahaha…
    ditunggu traktirannya yah karena sudah nulis ini 😀 😛 ^_^

  2. 😀 😀 aduh aduh pasti nih ujung2nya materi *kapitalis menghunus tajam 😛
    emg aku bilang nraktir itu kudu pke duit gitu??
    hmm…my lovely sista,,tanya dulu napa mau ditraktir apa gitu nah… -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s