They Are The Spring

Musim semi. Kalo ngomongin musim semi pasti yang ada di bayangan orang-orang adalah satu kata, indah (bukan nama teman se-rumah saya lho ya :D) ya, musim semi memang indah. Apalagi buat saya penggemar negeri-negeri beriklim subtropis. Di musim semi udara akan menjadi sejuk dan hangat, bunga-bunga bermekaran. Kalo di Jepang, orang biasanya piknik sama keluarga di bawah pohon sakura. Istilah kerennya Hanami. Tapi, sebenarnya bukan itu yang pengen saya bahas. Saya pengen cerita tentang tiga orang anak manusia (ceileh bahasanya) yang sedang mencari jati diri. Mereka adalah adik-adik dari SMK di kota tempat saya belajar yang kebetulan magang di kampus saya.

Setiap Jumat, saya dan teman-teman dari Muslimah Hizbut Tahrir Chapter Kampus biasanya mengadakan pengajian umum. Selama saya berkecimpung di dakwah kampus, kajian jumat ini mengalami pasang-surut. Bagi saya, inilah romantika perjuangan. Dari sana pun saya banyak belajar. Tidak terkecuali dari tiga orang adik magang ini. Beberapa bulan yang lalu saya sempat terkejut ketika mereka pertama kali ikut kajian. Awalnya mereka diajak oleh seorang teman yang juga bekerja di stasiun TV kampus saya. Waktu itu saya sempat tidak percaya. Anak SMK ikut kajian yang kajiannya itu tidak biasa. Kenapa tidak biasa? Karena kajian di kampus memang fokus kepada permasalahan yang ada di masyarakat, seperti politik, ekonomi, hukum, sosial, dsb. Berbeda dengan dakwah remaja yang fokus membahas hal-hal yang memang sedang menjadi permasalahan kaum remaja. Dengan wajah polos mereka dan tak satupun maklumat tsabiqoh yang mereka punya, mereka dengan serius mengikuti kajian. Seingat saya waktu itu kajiannya membahas tentang Feminisme dimana alurnya juga agak sedikit ribet. Tapi, subhanallah mereka mengikutinya dengan khidmat dan terkesima karena itu baru bagi mereka. Setelah kajian usai, mereka sibuk bercengkrama. Tidak sedikitpun keluar keluh dan terlihat wajah mengkerut setelah pembahasan yang berat itu. Mereka justru terlihat excited dan terkesima. Sampai salah satu dari mereka mengatakan, “coba ada kajian kayak gini di sekolah ya?” dan yang satu lagi menimpali (waktu itu masih dua orang saja yang ikut), “iya. Pengen deh ngadain kajian yang kayak gini di sekolah. Tapi, gimana ngomongnya ya?” kemudian mereka tersipu. Saya pun tersentuh dan kemudian saya menghampiri mereka kemudian menyemangati mereka untuk terus ikut kajian agar maklumat mereka bertambah dan mereka bisa perlahan-lahan menyampaikan apa yang sudah mereka dapatkan. Mereka kemudian terlihat bersemangat setelah itu.

Dua minggu kemudian, mereka datang dengan dua teman baru. Namun, yang satu lagi di minggu berikutnya tidak pernah datang dan jadilah hanya mereka bertiga yang istiqomah hadir di kajian (di luar peserta mahasiswi). Satu hal yang membuat saya salut, mereka tidak pernah bosan untuk menyimak sekalipun pembahasannya berat. Bahkan, tidak semua mahasiswi suka membahas terkait politik. Namun, berbeda dengan tiga anak SMK ini. Mereka tidak pernah bosan hadir di kajian dengan senyum tersungging dan menyimak dengan seksama. Mereka juga selalu bertanya saat forum ukhuwah meskipun masih dengan pertanyaan polos ala anak sekolah. Misalnya, “kok pemerintah gak mikir ya, nyabut subsidi?” atau “Kok bisa sumber daya alam diserahkan kepada asing?”, dan sebagainya. Saya hanya tersenyum menghadapi kepolosan mereka sembari menjelaskan dengan bahasa yang paling ringan dan mudah mereka pahami. Bahkan ketika saya menanyakan apakah diantara mereka ada yang pacaran, salah satu dari mereka menjawab iya dan betapa terkejutnya saat saya bilang bahwa di dalam Islam pacaran itu haram dan berdosa. Dia kemudian malu tetapi tidak sama sekali terlihat bahwa pernyataan saya adalah pernyataan menghakimi dia. Dan alhamdulillah dia masih istiqomah ikut di sela-sela aktivitas magang yang menguras waktu dan tenaga. Bersama dua orang temannya. Dan salah satu hal yang membuat saya terharu adalah salah satu dari mereka sudah ada yang berjilbab. Tidak terlihat malu ataupun asing dengan pakaiannya padahal jilbab syar’ie (yang gak banyak model-modelnya) masih belum familiar di lingkungan rektorat, kecuali hanya beberapa orang saja itu pun dengan jilbab yang sudah ada brandingnya. Dia juga sudah berencana untuk menjadikan seragam sekolahnya berbentuk jilbab agar tetap bisa memakai jilbab meskipun di sekolah.

Mereka adalah musim semi itu. Di tengah tandusnya kondisi generasi muda muslim, mereka seperti musim semi yang menghangatkan. Mereka adalah tunas-tunas baru bagi dakwah ini. Kelak di pundak merekalah amanah dakwah ini akan diteruskan. Menyampaikan kepada teman-teman sebaya mereka akan pentingnya kembali kepada Islam, kembali kepada syariat Allah di bawah naungan Khilafah.

Semoga istiqomah ya, Adik-adik. Uhibbukunna fillah ❤

Perpustakaan, may 6th 2015. 04:17 PM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s