U.S.T.A.D.Z.A.H.

“Assalamu’alaikum wr wb. Ustadzah rahimakumullah….”, kalimat yang tertera di layar ponsel saya membuat saya sedikit terkejut. Pasalnya, saya hampir tidak ingat sejak kapan panggilan saya berubah menjadi “Ustadzah”. Serius ini? Gue? Gue yang begini sekarang jadi ustadzah? Waah, it’s no joke, Man. Igo jangnan aniya.

Ya, sekarang saya adalah seorang guru. Seorang Pembina, meski banyak hal yang harus saya pelajari dan saya benahi dari diri saya. Meski cita-cita itu tidak langsung muncul sejak saya kecil. Saya baru bercita-cita jadi guru sejak awal kuliah. Itupun ketika saya mencoba ternyata tidak mudah. Berkali-kali saya gagal, bahkan saya sudah memberi label pada diri saya bahwa saya tidak pantas jadi guru. Jadi guru itu sulit, dsb. Namun ternyata, amanah jadi Pembina sekarang ada di pundak saya. Jatuh-bangun membina orang sudah saya rasakan sendiri. Teringat bagaimana dulu saat saya yang dibina. Bagaimana dhablek-nya saya dan semua kesalahan yang saya lakukan. Bagaimana sabarnya guru-guru saya membimbing, membina dan mendidik saya. Dan beberapa kali saya mengutuk diri saya karena merasa tidak ada perubahan meski sudah bolak-balik dikasih tau ini-itu.

Sekarang pun saya mengalami hal serupa. Menjadi Pembina lebih sulit dari yang saya bayangkan. Sebenarnya menjadi guru pun akan seperti itu, karena tanggung jawab moral guru sangat besar. Tidak hanya mengajar agar anak didik tahu ilmu tertentu, tapi lebih dari itu. Seorang guru adalah seorang Pembina, seorang pendidik. Tidak saja mengubah orang bodoh jadi pintar, tapi juga mengubah orang jahat jadi orang baik. Namun sayang sejuta sayang, pendidikan hari ini tidak menawarkan hal seperti itu, Permasalahannya sudah teramat sangat kompleks. Ya, semua tidak bisa dilepaskan dari sistem. Bagaimana tidak? Hari ini guru nyaris tidak diperhatikan. Kesejahteraannya tidak terjamin. Bagaimana mungkin mereka bisa fokus mendidik murid jika mereka juga berpikir bagaimana agar keluarga mereka bisa makan? Akhirnya, jadilah anak didik tidak terdidik secara kepribadian. Sungguh miris.

Maka sesungguhnya menjadi seorang pendidik adalah sebuah kemuliaan. Karena tidak gampang mengubah seseorang. Tidak mudah untuk memahami dan membantu mereka yang mau berubah untuk benar-benar berubah. Menjadi pendidik berarti mengeluarkan segala apa yang dimiliki. Keikhlasan, kesabaran, komunikasi, kepekaan dan yang pasti keyakinan hanya kepada Allah. Dan meskipun sekarang saya masih kurang sana-sini, saya tidak akan menyerah begitu saja. Tidak akan.

 

Shelter, April 30th 2015. 10:26 PM. Catatan Musyrifah “Rock n Roll”

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s