Prahara “Ibu Rumah Tangga”

“Bundaaa, jangan pergi..!! Bundaaa, ikuuuttt!!,” kata seorang anak perempuan berusia sekitar 3-4 tahun kepada ibunya saat ibunya akan melangkah masuk ke sebuah fakultas yang ada di kampus. Saya melihat pemandangan itu dengan senyum getir. Saya tiba-tiba ingat masa kecil saya.

Saya terlahir dalam kondisi keluarga dimana kedua orang tua saya bekerja. Ayah saya TNI dan ibu saya seorang praktisi kesehatan. Pekerjaan kedua orang tua saya seringkali membuat iri banyak pihak karena bagi mereka dua profesi itu sangat mengagumkan. TNI yang bertugas melindungi Negara dan praktisi kesehatan yang peduli terhadap orang lain. Namun, saya tidak besar dalam lingkungan militer. Meski bapak saya TNI, beliau tidak mendidik kami dengan cara militer. Saya hanya main ke kantor Bapak beberapa kali, itupun saya juga takut dengan teman-teman Bapak yang tampangnya serem-serem, padahal aslinya mereka baik. Saya justru besar di lingkungan profesi Mama. Mama memang pernah tinggal di asrama Kompi (sebutan untuk asrama TNI) namun memang begitulah bertetangga, mesti ada cekcok. Dan saat saya kecil sampai menginjak usia 9 tahun, saya besar di lingkungan puskesmas. Sejak kecil saya familiar dengan rumah sakit, obat dan pasien. Sesuatu yang sangat dihindari orang-orang kebanyakan. Tempat bermain saya adalah puskesmas tempat Mama bekerja. Koridor ruang rawat inap, puskesmas tua tempat gudang obat yang baunya amat menusuk hidung dan gelap gulita bahkan saat siang hari serta ruangan kantor Mama menjadi tempat saya tumbuh. Buku-buku mengenai kesehatan lingkungan menjadi bacaan wajib saya sebelum TK. Bahkan buku itu yang duluan saya cari saat kembali dari sekolah ketika saya SD. Saya bahkan sering melihat orang meninggal karena penyakit yang tidak tertolong di puskesmas yang jaraknya sekitar 100 m dari rumah tempat saya tinggal.

Namun, ada masa dimana saya merindukan Mama. Masa dimana saya menginginkan Mama di rumah saja. Melihat Mama ketika saya pulang sekolah. Apalagi ketika Mama harus ke desa karena proyek atau ke kota yang jaraknya 6 jam perjalanan dari tempat saya tinggal. Kota yang sekarang menjadi rumah saya. Belum lagi kalau Bapak juga harus ke luar kota. Kami hanya bertiga bersama Kakak. Namun, di rumah seringkali hanya ada saya dan adik. Ya, Cuma berdua dan kami pun akhirnya bermain sesuatu yang bisa kami mainkan berdua. Dan semua semakin menjadi-jadi ketika Mama sekolah ke luar kota. Jarang pulang ke rumah. Saya bahkan menangis berhari-hari karena menahan rindu dan tidak mengatakannya. Saya tidak ingin Mama sedih dan tidak fokus sekolah. Ya, saya mengagumi Mama karena meskipun Mama bekerja, Mama sangat perhatian pada kami. Hanya saja, semua akan berbeda ketika Mama menjadi ibu rumah tangga. Saat SMA pun ketika Mama baru bekerja di Puskesmas kecamatan saya juga merindukan Mama apalagi ketika mama shift jaga pagi, siang, malam. Saya pikir, saya dan saudara-saudara saya akan baik-baik saja. Namun, ternyata itu menyisakan luka tersendiri jauh di lubuk hati kami. Dengan seperti itu kami terbiasa dengan hidup kami masing-masing. Terbiasa memendam perasaan kami masing-masing. Puncaknya adalah ketika kami ingin mengutarakan isi hati kami, semua kacau. Ujung-ujungnya pasti berakhir dengan gebrakan meja atau suara keras karena pintu dibanting. Semua terjadi berulang-ulang hingga pada akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tua saya akhirnya harus berpisah. Termasuk menanggung semua cibiran dari keluarga dan tetangga. Label anak broken home tersemat pada saya dan kedua saudara saya. Label sampah dan anak-anak tidak berguna pun ikut menjadi embel-embel di belakang label broken home.

Namun, Mama tetap ingin saya dan Kakak menjadi wanita karir. Mungkin Mama tidak ingin kami menderita jika hanya hidup mengandalkan suami. Apalagi ketika saya mengatakan saya tidak terlalu terobsesi untuk bekerja karena saya sudah memahami kewajiban hakiki dari seorang perempuan, yakni menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. Saya tidak menyalahkan Mama. Apa yang Mama pahami adalah buah dari sistem yang diterapkan saat ini. Saya tidak membenci orang tua saya karena mereka bercerai. Saya pikir juga lebih baik seperti itu. Daripada bersama tapi justru bermaksiat pada Allah. Namun, saya tidak ingin berpandangan bahwa ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan sepele. Justru, ibu adalah orang dibalik kesuksesan suami dan anak-anaknya. Ibu adalah sumber kasih sayang dan guru pertama bagi anak-anaknya. Dan saya pun ingin menjadi seperti itu kelak. Menjadi guru dan sumber kasih sayang bagi anak-anak saya. Ketika pun saya harus bekerja, saya tidak ingin keluarga saya mendapat bagian sisa dari waktu yang saya miliki. Idealis memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Namun bagi saya, menjadi ibu dan pengatur rumah tangga adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa tidak dan mau tidak mau harus dijalankan seoptimal mungkin.

Sistem Kapitalisme-lah yang menjadi penyebab semua kekacauan hari ini. Sistem Kapitalisme-lah yang menculik ibu dari anak-anaknya, merebut istri dari suaminya, menyeret anak dari orang tuanya. Sistem inilah yang harus dikubur segera dan diganti dengan sistem yang benar, yakni sistem yang berasal dari Allah, Syariat Islam. Dan satu-satunya yang bisa menerapkan Syariah secara kaffah adalah Khilafah. Inilah yang saya perjuangkan hari ini, kembalinya kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.

Shelter, April 30th 2015. 09:57 PM. Bersama kenangan yang membayang.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s