Menjadi Ummu Sulaim Abad 21*

Perempuan memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan. Bahkan dikatakan perempuan adalah tiang Negara, yang berarti kualitas suatu Negara ditentukan oleh kualitas kaum perempuannya. Kenapa? Karena dari perempuanlah lahir generasi-generasi yang akan meneruskan kepemimpinan suatu Negara.

Sejarah kegemilangan peradaban Islam pun tidak lepas dari peran perempuan. Ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul, orang yang pertama kali beriman kepada agama beliau adalah Khadijah yang tidak lain adalah istrinya. Khadijah adalah perempuan pertama yang memeluk Islam. Bahkan, orang pertama yang syahid di dalam Islam adalah seorang perempuan, yakni Sumayyah, ibunda Ammar bin Yasir. Tidak hanya itu, pada saat Rasulullah dibaiat menjadi kepala Negara Islam pertama kali, dua dari 75 orang yang berbaiat adalah perempuan. Selain itu, banyak perempuan-perempuan yang kemudian dikenal dengan sebutan shahabiyyah yang kemudian turut serta bersama Rasulullah mendakwahkan Islam dan menanggung penderitaan bersama beliau di jalan dakwah. Sebut saja Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Fathimah binti Khathab, Ummu Sulaim dan masih banyak lagi shahabiyyah yang namanya tercatat dalam sejarah.

Allah SWT menciptakan perempuan dengan keistimewaannya sendiri. Karena itu, dalam Islam perempuan memiliki posisi yang mulia. Islamlah yang pertama kali memuliakan perempuan di saat seluruh bangsa menghinakan perempuan. Dan Allah SWT memberikan sebuah keutamaan bagi perempuan dengan sebuah kewajiban yaitu Al Umm wa Rabbatul Bayt (Ibu dan pengatur rumah tangga). Kewajiban ini tidak akan sanggup dilakukan oleh laki-laki terbaik manapun di dunia ini. Hanya perempuanlah yang bisa melakukannya. Maka, tidak heran jika muncul kata-kata hikmah, seperti Al-Ummu madrasah al-ula (Ibu adalah sekolah pertama [bagi anak-anaknya]). Kata-kata tersebut benar adanya. Bahkan, sejatinya ibu juga adalah sekolah utama bagi anak-anaknya. Ibu yang membentuk karakter dan watak pada anak-anaknya sehingga jika ingin melihat orang-orang besar dan berpengaruh maka lihatlah ibunya.

Layaknya sekolah, ibu adalah gudang ilmu, pusat peradaban dan wadah yang akan menghimpun sifat-sifat dan akhlak mulia. Maka, kualitas generasi ditentukan oleh ibu yang tidak lain dan tidak bukan dijalankan oleh seorang wanita.

Salah satu wanita yang tercatat dalam sejarah sebagai ‘gudang ilmu’, ‘pusat peradaban’ dan ‘wadah’ yang menghimpun sifat-sifat akhlak mulia adalah Ummu Sulaim ra. Ia adalah Ibunda Anas bin Malik ra.Ummu Sulaim ra. termasuk wanita yang cemerlang akalnya. Ia juga penyabar dan pemberani. Ketiga sifat mulia inilah yang menurun kepada Anas ra. dan mewarnai perangainya.

Kecerdasan Ummu Sulaim ra. tampak, misalnya, saat ia hendak dilamar Abu Thalhah setelah suami pertamanya meninggal. Saat meminang dirinya, Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik. Karena itu Ummu Sulaim menolak pinangan Abu Thalhah sampai dia mau masuk Islam. “Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahi aku. Tidakkah engkau tahu, hai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu itu dipahat oleh budak dari suku anu,” sindir Ummu Sulaim. “Jika kau sulut dengan api, ia akan terbakar,” lanjutnya lagi.

Abu Thalhah pun berpaling dari rumah Ummu Sulaim ra. Akan tetapi, kata-kata Ummu Sulaim ra. tadi amat membekas di hatinya. “Benar juga,” gumamnya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keislamannya. “Aku telah menerima agama yang kau tawarkan,” kata Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim ra. Lalu berlangsunglah pernikahan mereka berdua. “Ummu Sulaim tidak meminta mahar apapun selain keislaman Abu Thalhah,” kata Anas ra. dalam suatu riwayat.

Dari Ummu Sulaimlah lahir seorang Anas ra. yang kemudian tercatat sebagai satu dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist. Ummu Sulaim telah sukses menjadi sekolah pertama bagi putranya sejak masih kanak-kanak.

Namun, saat ini pemandangan yang demikian sangat jarang dijumpai di masyarakat. Dalam konteks Indonesia, permasalahan ekonomi yang tidak kunjung selesai menyebabkan kesejahteraan semakin sulit diraih. Saat ini 37 juta perempuan Indonesia hidup dalam kemiskinan dan 64% dari mereka buta huruf. Selain itu, 57.02% pekerja perempuan di Indonesia berpendidikan rendah dan rawan menjadi korban kejahatan. Setiap tahun, 2.5 juta perempuan menjadi TKW meninggalkan anak dan keluarganya. Data Komnas Perlindungan Perempuan mencatat tahun 2012 terdapat 119.197 kasus kekerasan terhadap perempuan dan meningkat 13.05% dari tahun 2011.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah kemudian mencanangkan beberapa program, seperti penguatan arus gender, yakni meningkatkan kesadaran perempuan untuk meraih hal yang sama dengan pria khususnya di sektor publik. Selain itu, dicanangkan pula program pemberdayaan perempuan atas saran dari PBB. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh fakta keterbelakangan perempuan, yakni ketidakmampuan perempuan untuk mandiri secara materi sehingga saat ini dibukalah kesempatan besar bagi perempuan untuk memiliki pendidikan sampai jenjang pendidikan tinggi kemudian dibuka pula akses modal dan kesempatan kerja (berkarir) bagi perempuan dengan harapan perempuan akan mampu membiayai hidupnya sendiri dan membantu suaminya menafkahi anak-anak. Tidak hanya itu, pemerintah juga membuka kuota 30% bagi perempuan untuk menduduki kursi di parlemen dalam rangka memperjuangkan hak-hak perempuan dengan harapan perempuan tidak merasa terdiskriminasi oleh kaum pria.

Namun, alih-alih mengubah nasib perempuan, kebijakan-kebijakan tersebut justru membuat dampak baru yang lebih besar. Kesempatan perempuan berkarir di publik membuat sebagian besar perempuan lupa akan kewajibannya yakni sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ketika perempuan dieksploitasi sebagai mesin pencetak uang maka anak-anak pun terlantar. Anak-anak kehilangan tempat melabuhkan persoalan dan sumber kasih sayang mereka. Akibatnya muncullah kerusakan generasi dan tatanan sosial dalam masyarakat. Rusaknya struktur keluarga, padahal keluarga adalah benteng pertahanan terakhir yang dimiliki oleh individu. Selain itu, meningkatnya kegagalan dalam rumah tangga, dimulai dengan kekerasan dalam rumah tangga berujung pada perceraian yang mengakibatkan semakin tingginya angka single parent. Hal tersebut mengakibatkan depresi pada anak sehingga tidak heran banyak remaja yang melampiaskan kekecewaannya dengan menjadi pengguna narkoba, melakukan pergaulan bebas dan berujung pada aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan dan sebagainya. Begitupun di parlemen. Perempuan hanya dijadikan tameng oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan pribadi sehingga tidak jarang banyak perempuan dalam parlemen yang juga ikut terjebak kasus seperti korupsi yang membuat mereka harus mendapat hukuman dan meninggalkan anak-anak mereka.

Jika kita ingin menelaah lebih dalam, kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan saat ini tidak hanya sekedar persoalan sulitnya perempuan untuk mendapatkan kesejahteraan karena materi semata yang jika diselesaikan dari sisi ekonomi akan membawa akhir yang bahagia bagi mereka. Ada hal mendasar yang kadang terlupakan bahwasanya permasalahan perempuan hanyalah cabang dari permasalahan yang sebenarnya. Dibalik semua itu, terdapat sebuah sistem kehidupan yang tidak disadari diterapkan dalam seluruh sendi kehidupan sampai Negara sekalipun. Maka tidak heran jika hari ini kita melihat Negara seolah berlepas tangan dari tanggung jawabnya kepada rakyatnya. Sejatinya, Negara seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya. Kesejahteraan tersebut bisa diukur dengan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, yakni sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Namun, alih-alih bertanggung jawab terhadap hal tersebut, Negara malah mengembalikan semuanya kepada individu dan mengeluarkan kebijakan yang tidak relevan dengan permasalahan yang sebenarnya.

Kita juga tidak bisa memungkiri bahwa saat ini di tengah-tengah kita diterapkan sebuah sistem yang mengukur segala sesuatu dengan materi. Sistem yang dilandaskan pada pemisahan agama dari kehidupan yang membuat Negara mengabaikan urusan rakyatnya dengan mudah, yakni sistem Kapitalisme. Ekonomi Kapitalistik membuat harta berputar hanya kepada mereka yang memiliki modal besar. Sumber daya alam yang berlimpah ruah yang seharusnya bisa dikelola oleh Negara untuk kesejahteraan rakyat justru diberikan dengan murah kepada pihak asing dengan alasan kekurangan teknologi dan sumber daya manusia untuk mengelola.

Padahal, jika kita kembali kepada hakikat keberadaan kita sebagai seorang Muslim yang meyakini bahwa Allah SWT adalah Rabb yang menciptakan kita, alam semesta dan kehidupan ini serta meyakini bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah serta uswatun hasanah bagi kita akan kita dapati bahwa Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW merupakan sebuah pedoman hidup yang sempurna, tidak hanya bagi kaum Muslimin tetapi juga bagi seluruh alam.

Allah SWT berfirman:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiyaa [21]: 107)

Maka Islam datang untuk menjadi solusi atas seluruh permasalahan manusia. Islam tidak membedakan antara perempuan ataupun laki-laki. Islam memandang bahwa perempuan dan laki-laki memiliki potensi yang sama di dalam kehidupan sehingga permasalahannya pun sama.

Allah SWT berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat [49]:13)

Permasalahan yang seringkali terlupakan saat ini adalah hanya memandang bahwa permasalahan yang dialami perempuan adalah permasalahan perempuan saja bukan permasalahan perempuan sebagai manusia sehingga solusi yang seringkali ditawarkan adalah solusi yang bersifat parsial. Padahal, Islam menawarkan solusi tuntas dan menyeluruh terhadap permasalahan yang terjadi saat ini. Islam bukanlah sekedar agama ritual yang hanya mengurus masalah spiritual dan peribadahan saja, melainkan seperangkat aturan kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Rabbnya (ibadah), mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (akhlak) dan mengatur hubungan manusia dengan sesamanya (muamalah). Maka, Islam pun memiliki konsep bernegara. Negara di dalam Islam dinamakan Khilafah Islamiyyah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin untuk menerapkan syari’at Islam secara sempurna dalam kehidupan serta mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Islam memandang bahwa negaralah yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, Negara wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, yakni berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan sistem yang diterapkan hari ini dimana Negara hanya menyediakan wilayah untuk rakyatnya tetapi berlepas tangan atas kebutuhan pokok mereka. Islam mewajibkan setiap laki-laki yang sudah baligh untuk bekerja. Jika suami tidak mampu bekerja, maka kerabatnya wajib menolong. Jika kerabatnya pun tidak bisa menolong, maka Negara yang akan menanggung semuanya. Sehingga di dalam Khilafah Islamiyyah tidak ada perempuan yang terpaksa keluar dari wilayah domestiknya dan meninggalkan perannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya untuk mencari nafkah sebagaimana halnya suami.

Maka sejatinya, perempuan-perempuan cerdas, shalihah, dan berkepribadian kuat seperti Ummu Sulaim ra. dan shahabiyah lainnya yang sukses menjalankan kewajibannya sebagai al umm wa rabbatul bayt, yakni sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya terlahir dari sistem yang tidak menjadikan materi sebagai tolak ukur, tetapi menjadikan keimanan sebagai landasannya. Dan sistem tersebut hanya bisa diwujudkan oleh Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyyah.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

*Tulisan ini pernah diikutkan lomba menulis tingkat universitas

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s