Indonesia Milik Allah

Indonesia. Tidak ada yang memungkiri keindahannya. Bahkan, negeri ini bergelar Zamrud Khatulistiwa  dengan semboyan Gemah Ripah Loh Jinawi. Ya, itulah Indonesia. Negeri dengan belasan ribu pulau yang terbentang dari Sabang-Merauke. Terletak diantara dua Samudera yakni Pasifik dan Hindia. Indonesia juga disebut sebagai Jalur Sutera karena letaknya yang sangat strategis. Negeri ini pun dan kaya akan sumber daya alam. Tidak ada satupun yang tidak ada di Indonesia. Jika Timur Tengah dominan dengan tambang minyak, di Indonesia tidak hanya ada tambang minyak, tetapi lebih dari itu. Di Indonesia terdapat tambang emas, tembaga, nikel, dan sebagainya. Terdapat pula gas alam, uranium dan lain-lain. Selain itu, seperti Negari-negeri di Asia pada umumnya, Indonesia juga adalah negeri agraris. Sampai ada lagu yang menyatakan bahwa tanah Indonesia adalah tanah surga. Tongkat ditanam tumbuh pohon. Ya, itu saking suburnya negeri ini. Tidak hanya itu, pada 2025 Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi yakni kondisi dimana penduduk usia produktif lebih besar jumlahnya daripada penduduk yang sudah lanjut usia. Jika dilihat secara kasat mata, tentu negeri ini sangat sempurna. Sumber daya alam melimpah ruah, sumber daya perairan tak kalah banyaknya, di bidang agraria pun tidak diragukan, sumber daya manusianya juga banyak. Ditambah lagi, Indonesia adalah negeri dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Namun, negeri ini dipenuhi paradoks yang membuat hati miris. Bagaimana tidak? Negeri ini kaya akan sumber daya alam, tapi kemiskinan merajalela bahkan kemiskinan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi. Jutaan orang tinggal di kolong jembatan atau di belakang rel kereta api. Dan mirisnya, rumah mereka hanya dibuat dari kardus. Dulu, saya hanya melihat itu di televisi. Namun, saat berkunjung ke Jakarta tahun lalu, saya benar-benar melihat fenomena tersebut. Inikah negeriku? Di tengah kota berdiri mall, apartemen, dan gedung-gedung pencakar langit, namun di belakangnya jutaan rumah-rumah tak layak huni berjejeran. Seolah tak ada yang peduli. Tanahnya subur namun petani sulit untuk bisa hidup layak. Negeri agraris tapi banyak anak-anak yang busung lapar hingga tak sedikit yang meninggal karena kelaparan. Ibarat ayam yang mati di lumbung padi. Tidak hanya itu, generasi yang seharusnya dididik dengan pendidikan justru harus mengais rupiah untuk bertahan hidup. Bukan karena mereka tidak memiliki cita-cita, bukan karena mereka malas belajar, tetapi karena biaya pendidikan terlalu tinggi. Boro-boro sekolah, makan aja susah. Itulah yang sering mereka katakan. Jutaan sarjana hanya menjadi pengangguran bukan karena mereka malas mencari pekerjaan tapi karena minimnya lapangan pekerjaan. Kerusakan moral generasi yang tak bisa diatasi. Seks bebas, narkoba, tawuran, tindakan kriminal bahkan prostitusi menjadi warna di negeri ini.

Dari sisi politik, negeri ini terkenal dengan korupsinya yang membudaya. Mulai dari pejabat nasional sampai tingkat desa. Bahkan di lingkungan pendidikan sekalipun. Yang lebih miris lagi, di negeri ini Kementrian Agama adalah kementrian terkorup. Naudzubillahi min dzaliik. Tidak hanya krisis ekonomi dan moral, tetapi juga krisis kepemimpinan. Berkali-kali Pemilu namun negeri ini tak kunjung lebih baik. Justru sebaliknya, kian hari negeri ini kian terpuruk.

Lalu kemana semua aset negeri ini? Semua dibawa ke luar negeri. Nyaris seluruh sumber daya alam negeri ini dikuasai oleh pihak luar. Orang-orang ahli pun dibawa dan dipekerjakan di luar negeri. Bukan Indonesia tak punya tenaga ahli untuk mengelola sumber daya alam, namun semua lebih memilih tinggal di negeri orang karena merasa tak dihargai di negeri sendiri.

Inilah fakta Indonesia hari ini. Ketika seluruh aturan dikembalikan kepada hawa nafsu segelintir orang yang sukses menjadikan negeri ini sebagai Negara Korporasi. Demi menguntungkan korporasi, penguasa negeri ini mengorbankan rakyatnya. Janji dalam kampanye Pemilu hanya jadi sekedar janji ketika kursi sudah diduduki.

Lalu, harus dibawa kemana Indonesia? Maka yang perlu kita ingat adalah bahwasanya Indonesia adalah milik Allah SWT. Indonesia dan seluruh isinya adalah karunia dari Allah. Nyawa penduduk Indonesia pun milik Allah. Jika seluruh semesta ini milik Allah, maka begitupun dengan Indonesia. Dan Allah tentu tidak hanya menciptakan semua itu kemudian membiarkannya. Untuk menjaganya Allah pun membuat aturan. Karena Indonesia milik Allah, maka tentulah aturan yang harusnya diterapkan di Indonesia adalah aturan yang hanya berasal dari Allah, karena Allah yang Tahu apa yang terbaik untuk Indonesia pun bagi orang-orangnya. Jika manusia saja tak tahu apa yang terbaik bagi dirinya, bagaimana bisa dia mengetahui apa yang terbaik bagi orang lain?

Indonesia milik Allah, saatnya Indonesia diatur menggunakan aturan dari Allah.

*Nemu tulisan sebelum KIP 2014 😀

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s