One Night in Another Edge of World

Aku berjalan menembus batas malam di bawah lautan bintang, nyaris selangkah menjejak langit, menuju kota mutiara.

Perjalanan adalah waktu terbaik untuk berpikir dan merenung. Mengagungkan kebesaran Sang Pemilik Semesta bahwa di hadapanNya kita bukan siapa-siapa kecuali Hamba yang lemah dan terbatas serta serba kekurangan. Karenanya, terikat kepada aturanNya secara totalitas adalah sebuah keniscayaan dan ridhoNya adalah satu2nya cita2 tertinggi dalam kehidupan. Maka kewajiban2 dan larangan dariNya bukanlah sesuatu yang memberatkan, namun semuanya adalah hal yang mengajarkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Pun dengan dakwah ini. Tanpanya, hidup hanyalah kumpulan cerita rasa nano-nano namun selalu getir. Dan dengannya, bahkan setiap rasa sakit pun terasa nikmat saat menyadari bahwa Dia selalu ada di sini, membersamai dan akan selalu memberi pertolongan di saat yang tepat.

Jazakillah khoir, Kholish for kidnapping me that time. A journey with a thousand meanings.

Kaki gunung Arjuno, February 21-22, 2015

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s