Tentang Perpisahan

Sebenarnya saya lagi gak (pengen) lebay. Tapi, setelah sebuah pesan kecil dari teman seperjuangan di kampus, orang yang juga seperti kakak sendiri, saya jadi tergerak untuk menulis ini. Bukan sesuatu yang spesial sih. Cuma pengen mengungkapkan isi hati yang terdalam (udah kayak galian tambang aja)

Perpisahan. Sebuah kata yang dulu bagi saya berkonotasi negatif. Kenapa? Karena perpisahan bagi saya adalah sebuah akhir. Ketika pertemuan begitu indah dan semua yang sudah dilewati bersama, maka saat perpisahan datang, segalanya seolah terjadi begitu cepat. Makanya, dulu saya tidak suka perpisahan. Ya, itu dulu. Waktu pemahaman saya tentang kehidupan masih cetek. Masih banyak hal yang belum saya sadari. Maklumat saya juga masih sangat sedikit. Jadi, wajar saya antipati sama yang namanya perpisahan.

Perpisahan bukanlah sekedar akhir. Setelah perpisahan, ada pertemuan lagi. Dan itu berarti ada awal yang baru. Pertemuan akan membawa kepada perpisahan. Setelah itu, akan kembali lagi bertemu dengan episode lain ataupun masa lalu yang kembali datang. Begitulah kehidupan ini mengajarkan manusia. Tentang waktu yang terus berputar. Berjalan tanpa menunggu siapapun di belakangnya. Setiap hari ada yang lahir. Ada pula yang meninggal. Ada yang tersenyum dengan pertemuan, ada pula yang berderai air mata karena perpisahan. Dan suatu saat, kita yang hidup pun akan mengalaminya. Saat dimana kita berpisah dengan dunia ini. Berpisah dengan seluruh penghuninya.

Dakwah, khususnya dakwah kampus juga mengajarkanku tentang perpisahan. Tentu semua diawali dengan pertemuan. Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, masing-masing mengucapkan salam perpisahan beserta segenap doa. Amanah yang bertambah atau prioritas yang mengharuskan untuk berpisah. Ada banyak yang datang, namun tidak sedikit yang pergi. Begitulah dakwah kampus. Seperti halte. Tidak selamanya orang akan berdiam di sana. Saya teringat apa yang disampaikan salah seorang guru saya bahwa dakwah kampus itu dinamis. Orang akan datang dan kemudian pergi dalam waktu hanya beberapa tahun. Karena kampus memang hanya sementara. Kampus adalah jalan menuju masyarakat yang sebenarnya. Maka, kampus adalah tempat mencetak orang-orang militan yang siap terjun ke masyarakat. Setiap mereka yang diamanahi dakwah di kampus harus siap menjadi orang yang meretas jalan bagi generasi selanjutnya untuk menjadi generasi tangguh yang siap menghadapi realita masyarakat yang sebenarnya. Menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Dan suatu hari nanti, saya sendiri pun akan kembali ke masyarakat dimana saya seharusnya berada. Membangun dakwah di sana dan menumbuhkan tunas-tunas pejuang dakwah yang baru.

Di jalan dakwah kita bertemu. Di jalan ini pula kita berpisah. Semoga dakwah senantiasa menjadi jalan hidup kita. Pun jalan kematian kita. Seperti Rasul dan para shahabat serta para pendahulu kita yang tidak hanya memilih hidup di jalan dakwah tapi juga mati di jalan tersebut. Semoga kita tetap istiqomah hingga khusnul khatimah. Aamiin…

Shelter, January 30th 2015. 06:37 AM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

5 thoughts on “Tentang Perpisahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s