Antara Albothyl dan Kematian

Alhamdulillah, setelah sekian lama hiatus dari jagad per-blog-an, finally, I’m back! Rasanya udah lama sekali gak meracau di blog sendiri 😀 Ini adalah gabungan cerita beberapa waktu yang lalu pas saya lagi sakit dan cerita beberapa hari yang lalu. Judulnya mungkin rada alien seperti biasanya. Tapi, isinya tetap membumi kok #ceileh

Entah kenapa saya rajin kedatangan penyakit bernama sariawan. Sebuah penyakit yang membuat mood menguap entah kemana. Membuat saya tiba-tiba menjadi Princess Hours karena semua melambat dalam waktu sekejab. Makan, minum, sikat gigi, dsb. Saya kurang vitamin C? Sepertinya gak juga. Saya jarang sikat gigi? Itu juga bukan. Tapi, hampir tiap musim saya pasti terserang penyakit ini. Dan baru kemarin saya mencoba pake obat kimia bernama albothyl (biasanya pake herbal dan sembuhnya lama. Ngomong-ngomong, saya punya alasan kenapa saya jadi pake albothyl dan itu bukan karena saya gak sabaran, meskipun ada dikit hehehe). Kata teman-teman yang sudah mencoba, efek albothyl ini luar biasa. Maksimal dua kali pemakaian sudah sembuh sariawannya (saya pakainya 4 kali). Namun, ternyata sebelum bisa merasakan kesembuhan, ada harga yang harus dibayar. Apa itu? Mati. Saya bilang mati. Kenapa? Rasanya menyakitkan dan memang seperti mati. Dan ini pertama kalinya saya merasakan sakit itu. Sakit pake banget dan nyoba sampe 4 kali itu rasanya seperti mati trus hidup lagi trus mati lagi. Ya, mungkin ini bunuh diri versi saya. Tapi, Alhamdulillah setelah itu sariawan saya perlahan menghilang dan tidak membuat saya lebih menderita.

Kalo saya bisa mengatakan lebih jauh tentang pelajaran dari albothyl ini, saya akan mengarah kepada sebuah kata bernama kematian. Kata ini seringkali luput dari kita, para jiwa-jiwa yang masih merasakan yang namanya kehidupan. Padahal, sebenarnya kita juga bisa mati kapan saja. Tinggal nunggu alarm berbunyi dan malaikat Izrail akan menjalankan tugasnya. Ngeri. Iya, emang. Tapi, itulah cara untuk bisa mendapatkan kehidupan yang sebenarnya. Terlepas dari apakah akan berada di negeri yang indah tiada tara bernama Surga atau sebaliknya, di negeri api (bukan avatar lho ya) bernama Neraka. Bagi orang hidup, mati itu adalah sesuatu yang jauh. Kenapa? Karena seolah masih banyak pekerjaan yang belum selesai di dunia. Kuliah, kerja, nikah, punya anak, punya cucu, menikmati jerih payah pekerjaan, dsb. Padahal, gak harus tua untuk bisa mati. Beberapa hari yang lalu, adik tingkat saya (beda fakultas) ada yang meninggal di usia 22 tahun. Selain dia, masih banyak lagi yang meninggal di usia muda. Dan betapa sering Allah dan RasulNya mengingatkan kita tentang kematian. Sungguh banyak ayat dalam Al Qur’an maupun hadist yang mengingatkan kita tentang itu, bahwasanya ajal itu tidak bisa dimajukan atau diundur. Ketika sudah tiba masanya, setiap orang pasti akan mati. Jika banyak ketidakpastian di dunia ini, ingatlah bahwa mati itu pasti. Terkadang, seseorang merisaukan sesuatu yang tidak pasti dan melupakan hal yang sudah pasti.

Dalam sebuah Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang itu sedang bergelak-ketawa. Maka berkata Izrail: ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak ketawa’.”
Seorang sahabat pernah bertanya:
“Wahai Rasulullah, Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”
Rasululloh SAW menjawab:
“Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling: baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” [HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy]

Dunia ini hanya sebentar. Di sini bukanlah kehidupan yang sebenarnya. Setelah ini masih ada kehidupan lain. Kehidupan abadi yang menanti kita. Dan untuk sampai ke sana, kita harus merasakan kematian terlebih dahulu, setelah itu kita akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas seluruh amal kita selama kita hidup di dunia. So, dunia ini adalah ladang tempat kita menanam dan akhirat adalah masa dimana kita akan memanen seluruh amal perbuatan kita. Di sanalah tempat kita yang sebenarnya ditentukan. Surga atau Neraka.

Berkaryalah. Berkaryalah sebelum mati. Siapkanlah pertemuan yang terbaik denganNya. Persembahkanlah amal terbaik untukNya. Karena dengan mati, kita selangkah lebih maju untuk bertemu denganNya. Rabb semesta alam, Allah azza wa jalla.

Ya Allah, Dzat yang menggenggam jiwa kami. Matikanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah. Matikanlah kami di jalan orang-orang shalih. Matikanlah kami sebagai pejuang tegaknya kalimatMu di muka bumi. Matikanlah kami dalam keadaan istiqomah mengemban mabda dan dakwah untuk menyebarkan mabda ini. Aamiin yaa rabbal ‘alamin.

Shelter, January 30th 2015. 06:10 AM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s