Ting Mama De Hua*

Dari judulnya emang itu bukan bahasa Indonesia. Tapi juga bukan bahasa planet Mars. Itu ungkapan dari Cina. Artinya dengarkan apa kata Mama. Tadi sempat keinget kalo ini masih momen Hari Ibu, meskipun ternyata kalo ditelisik lagi, Hari Ibu kental dengan perayaan agama Nasrani. Semoga Allah mengampuni saya karena kemarin saya sempat mengucapkan itu ke Ibu saya. Dan sebenarnya bagi saya pribadi, kasian juga ibu kita dikasih selamat Cuma sehari, udah gitu akhir tahun pula. Lalu, selama ini apa? (Ma, maafkan anakmu. That’s not what I mean. Geuge anira. Sonna koto nai)

Oke, balik lagi ke pembahasan Ting Mama De Hua ini. Kalo lihat kalimat ini saya juga jadi agak merinding. Kenapa? Karena saya juga calon ibu. Mau gak mau dan suka gak suka, saya yang nantinya harus mendidik anak saya. Tanggung jawab itu ada di pundak saya dan itu kewajiban dari Allah SWT. Kalimat itu tidak salah. Karena emang ibu pasti pengen yang terbaik untuk anaknya. Maka, peran ibu sangatlah besar bagi anak, bagi generasi dan bagi peradaban umat manusia. Dan Ibu adalah perempuan. Dan saya juga perempuan. Itu berarti saya juga harus siap dengan tanggung jawab itu. Tapi, masalahnya adalah manusia itu bukan seperti robot. Manusia punya naluri juga. Punya perasaan. Namanya perasaan, takarannya akan berbeda di tiap-tiap orang. Makanya butuh sebuah timbangan. Apa itu? Betul sekali anak-anak. Akal. Timbangan yang paling rasional dan objektif adalah akal. Dari sana juga akhirnya kita bisa menerima kebenaran.

So, kalo menurut saya pribadi, ungkapan Ting Mama De Hua ini tidak bisa selalu cocok di setiap kondisi. Tergantung mindset ibunya juga. Contoh kecil aja hari ini. Kita bisa melihat betapa generasi itu jauh dari harapan. Kenapa? Karena sistem hari ini merusak para perempuan. Merusak ibu. Sistem Neoliberal yang berorientasi hanya pada 3D, duit, duit dan duit serta meminimalkan peran Negara dalam mengatur rakyatnya membuat para perempuan juga terjebak dalam jeratan imperialisme gaya baru ala sistem Neolib. Sistem Neolib beranggapan bahwa setiap yang bernyawa harus berdaya. Berdaya dari sisi materi maksudnya. Dan hari ini yang terlihat belum berdaya adalah perempuan. Maka, perempuan dituntut untuk bisa berdaya. Perempuan yang tugas utamanya menjadi ibu dan pendidik generasi akhirnya disibukkan dengan aktivitas mencari nafkah karena penghasilan suami (ayah) tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di sisi lain, perempuan yang masih muda diberikan mimpi-mimpi dan sebuah gagasan bahwa perempuan hebat itu adalah perempuan yang berkarier. Dimana? Di luar rumah pastinya. Maka berbondong-bondonglah para perempuan bersekolah setinggi-tingginya dan mengejar karier yang serupa kemudian lupa akan tanggung jawab yang harus ia pikul nantinya. Maka, sebuah keniscayaan dan kewajaran saat ini banyak perempuan yang lebih betah berlama-lama menikah. Kalopun menikah, berlama-lama gak punya anak. Kalopun punya anak, gak mau menyusui dan masih banyak lagi keengganan yang lainnya. Nah, ini juga yang akhirnya melahirkan generasi matre. Generasi alay dan kurang kasih sayang. Dari sisi materi mungkin tercukupi bahkan lebih, namun dari sisi mental, generasi hari ini bisa dibilang sakit. Kenapa? Semua kembali kepada ibunya. Seorang ibu yang punya mindset mengikuti mindset orang-orang kebanyakan hari ini pastilah menginginkan anaknya untuk lebih baik dari dia terlepas bagaimanapun caranya. Apakah itu halal atau haram. Dari ibu yang matre lahirlah generasi matre meskipun gak semua, tapi kebanyakan seperti itu. Gak hanya itu, generasi broken juga banyak yang lahir dari kondisi Kapitalistik hari ini. Maka, penting bagi seorang perempuan untuk memiliki ilmu sebelum menjadi istri apalagi menjadi ibu. Ilmu yang utama adalah ilmu agama. Islam pastinya, karena Islam hadir sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan manusia. Maka seorang Muslimah harus paham betul posisinya ketika nanti menjadi seorang ibu. Ia juga harus punya gambaran mau dididik seperti apa anaknya nanti. Apa yang akan diajarkan dan anak seperti apa yang ingin dibentuk. Setiap kita jelas harus punya bekal. So, Ting Mama De Hua emang harus ada standarnya. Bukan standar materi atau perasaan semata. Tapi, lebih dari itu. standar yang benar dan sudah ditetapkan, yakni standarnya Allah SWT. Semua itu sudah diwujudkan dalam Syariah Islam. Kenapa? Karena nanti semuanya akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah. Tapi emang susahnya, hari ini Islam hanya dianggap sebatas agama ritual. Yang penting rajin sholat, puasa, bisa baca Al Qur’an, menutup aurat, udah. Perkara dia bekerja, mengambil riba atau tidak, pacaran atau tidak, dsb udah gak dihitung. Nah, ini juga perkara yang keliru. Namanya Sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan sosial. Dan Allah jelas melarang keras hal tersebut.

Allah SWT berfirman

“Wahai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah dan jangan ikut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu”.  (TQS. Al Baqarah : 208)

Sesungguhnya, Islam sangat memuliakan wanita karena tugas mereka yang begitu besar. Rasulullah SAW bahkan menganjurkan untuk taat pertama kali ke ibu. Beliau sampai mengulangi sabdanya sebanyak 3 kali baru kemudian menyebutkan ayah. Rasulullah SAW juga mengumpamakan perempuan shalihah adalah sebaik-baik perhiasan. Dan ini adalah tamparan keras bagi saya. Bukan saatnya saya bermain-main lagi dengan masa saya hidup sekarang, meskipun saya gak tau sampai kapan saya hidup. Namun, persiapan menjadi ummu warabbatul bayt haruslah dipersiapkan dari sekarang karena pasti nantinya juga akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Buat sisters yang udah pengen menikah, segeralah persiapkan diri menjadi ibu karena menikah itu untuk melestarikan keturunan bukan saja semata hidup dengan pangeran impian. So, mari segera berbenah yuk dengan mengkaji Islam. Tapi, gak Cuma perempuan aja. Laki-laki juga. Karena tugas laki-laki adalah mendidik istri dan anaknya. So, for the men out there, watch out. You’re under His order.

Nah, ada satu lagi nih yang sering kelupaan. Realita hari ini sesungguhnya gak ujuk-ujuk terjadi. Tapi, ada hal yang memang menyebabkan semua ini terjadi dan itu bukan semata karena individu. Kenapa? Karena kalo masalahnya ada di individu, gak mungkin efeknya berjamaah kan? Sesungguhnya, ada biang kerok dari semua ini. Apa itu? Jawabannya sudah saya jelaskan tadi, yakni adanya sistem yang tidak Islami di tengah-tengah kita. Sistem yang diterapkan dan dipaksakan atas kita kaum Muslimin. Sistem itu tidak lain dan tidak bukan adalah sistem Kapitalisme-Demokrasi yang membuat perempuan, ibu dan generasi hari ini jauh dari kata “baik”. Dan ini PR kita, kawan. PR kita untuk mengembalikan kehidupan Islam itu dalam sebuah institusi yang akan menerapkan hukum Allah secara kaffah yakni Khilafah Islam. So, tunggu apalagi? #Let’sMoveOn #YukNgaji #YukDakwah

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Perpus Kota, 23 December 2014

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s