Episode; Aku, Ramadhan dan Idul Fitri

Tumblr, apa kabar? Kayaknya udah berabad-abad yang lalu saya ngisi tumblr ini dengan postingan *healaah lebay pake banget lu* Dan gak kerasa sekarang udah hari keenam di bulan Syawal. Haha, udah dua bulan. Sejak Ramadhan saya tidak menulis lagi. Yaah, harus saya akui, saya jadi lebih sibuk sekarang jadinya gak bisa sering-sering posting di blog *ngeles tingkat dewa* hehe, mianhae uri saranghi Tumblr. Gomen ne 😛 Sebelum saya mulai tulisan saya yang pastinya bakalan panjang ini *sekalian beres-beres blog*, izinkan saya mengucapkan “SELAMAT IDUL FITRI 1435 H”. Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf untuk segala kesalahan ^^

Tahun ini adalah kedua kalinya saya tidak pulang kampung saat Idul Fitri. Pertama adalah di tahun 2010. Saat itu saya baru saja masuk Universitas. Dan tahun terakhir saya di universitas *in syaa Allah* juga saya akhirnya memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman. Banyak pertimbangan sebenarnya. Tapi, ada satu hal yang membuat saya benar-benar ingin menyelesaikannya di sini. Dan Alhamdulillah semua sudah selesai *I really hope so :D*

Sejak awal Ramadhan sampai detik ini banyak sekali peristiwa yang sudah saya alami *ya iyalah, Ditriii* dan ada beberapa yang tidak akan terlupakan saking spesialnya. Ramadhan dan Idul Fitri emang selalu jadi momen paling tidak terlupakan buat saya. Setidaknya sejak saya hijrah ke perantauan 😀 Salah satunya adalah ketika saya menyadari banyak hal yang sudah berubah, baik diri saya sendiri, lingkungan sekitar saya, kehidupan saya, meski sebenarnya tidak semua juga menyadari perubahan itu dan mungkin Cuma saya aja haha 😀 Yang jelas, saya merasakan banyak yang berubah sejak saya kuliah.

Beberapa kenangan yang gak terlupakan di Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini

KKN

Setelah sekian lama akhirnya saya bisa magang juga haha. Yah, emang periode sebelumnya adalah karena kegalauan saya yang gak nentuin tempatnya dari awal. Alhamdulillah bisa KKN di tempat yang bagus. Pimpinannya baik dan ramah. Supervisornya enak. Murid-muridnya juga seru-seru. Pengalaman paling seru adalah ngawas UAS. Bener-bener ujian kesabaran ngeliat anak-anak super bandel. Untung aja mereka bukan murid-murid saya.

Seperti kata Aoi Chan dan Chairo Chan, everything will come in the right time. And these what Allah has prepared for me. A sweet scene just for me. Minna san, happy Ied Mubarak. Ina, Putri, Pak Kus, Bu Ratri, Bu Rina, Pak Eko, dan murid-muridku ^^

Aksi Solidaritas Palestina

Seluruh dunia kembali tercengang dengan aksi brutal Israel *laknatullah alaih* ke Gaza di bulan Ramadhan. Bahkan hingga detik ini, aksi kejam itu juga belum selesai. Dan yang lebih keterlaluan lagi adalah kaum Muslimin di belahan bumi yang lain hanya menonton saja. Khususnya para pemilik kekuasaan. Seolah Israel itu sangat dihormati akhirnya mereka seperti di atas angin, berbuat sesukanya. Padahal, Allah yang melaknat mereka. Solidaritas kaum Muslimin mengalir seperti air bah. Bantuan berupa dana, pakaian, obat-obatan semua diberikan. Namun, tidak ada yang berubah. Semua hanya jadi obat. Namun tetap tidak ada yang bisa menghentikan kekejian Israel. Kaum Muslimin tidak berdaya. Bener-bener jadi pecundang di depan hidung orang kafir.

Kali ini kami hanya bisa melakukan aksi. Menyeru para penguasa untuk turun tangan. Menunjukkan kepedulian mereka sebagai kaum Muslimin. Menunjukkan bahwa kaum Muslimin punya taring yang bisa merobek kesombongan dan kebengisan orang-orang kafir. Kami pun menyerukan bahwa selain bantuan dana dan sejenisnya ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni persatuan kaum Muslimin di bawah satu kepemimpinan. Kepemimpinan seorang Khalifah dalam naungan Khilafah. Bukan karena Nasionalisme yang justru menjadi racun pemecah-belah kaum Muslimin.

Dan saya pun semakin sadar, tantangan perjuangan ini semakin besar. Makanya menegakkan Khilafah tidak pernah mudah. Saya sudah berlari sejauh ini, maka tidak ada alasan untuk kembali. Tidak ada alasan untuk kabur dari perjuangan ini. Sudah cukup saya melihat semua ketidakadilan dan kerusakan akibat penerapan Demokrasi-Kapitalis. Sudah cukup saya merasakan begitu banyak kepahitan, kesedihan dan duka yang mendalam karena sistem rusak dan merusak ini. Saya tidak rela bahkan sampai saya mati sekalipun ketika sistem ini masih diterapkan. Jika pun nanti saya mati sebelum saya bisa menumbangkan sistem ini, saya yakin akan banyak orang-orang setelah saya yang akan tetap memperjuangkan tumbangnya sistem ini dan tegaknya Khilafah. Di tengah banyaknya fitnah terhadap dakwah ini, semoga dengan thoriqoh dakwah yang sudah saya pelajari dan saya yakini, saya bisa tetap berpegang teguh padanya. Pada thoriqoh yang dijalani dengan sepenuh jiwa oleh Rasulullah SAW. Semua hanya masalah waktu. Maka kesabaran itu perlu. Dan nyalakan terus api keyakinan itu. Kita semua pasti dimenangkan oleh Allah. Karena Allah dan RasulNya tidak akan pernah ingkar janji.

Berburu bareng teman-teman seperjuangan

Udah jadi kebiasaan kalo Ramadhan pasti bakalan nyerbu masjid. Ya apalagi kalo bukan tarawih? Tapi, kalo sama Dewi, semua bakal jadi plus-plus. Buka puasa, sholat Isya dan Tarawih. Kenang-kenangan 15 hari terakhir Ramadhan bareng Dewi, Arin dan Nurul. And of course, congrats buat Arin yang akhirnya diberi kelulusan. Sekarang di belakang namanya udah ada titel *eaaa* Barakallah ya, Rin ^^

Itikaf di 10 malam terakhir

Ini juga jadi agenda yang gak kalah seru. Itikaf di 10 malam terakhir. Bener-bener jadi safari masjid akhirnya 😀 dan yang paling seru adalah itikaf bersama di Batu. Haha, unforgettable banget. Everything. Suasananya, materinya, pemandangannya dan kebersamaannya. Ya, inilah indahnya berjamaah. Selalu ada yang mengingatkan dikala futur menyerang, menguatkan dikala jatuh, melangkah bersama dalam jalinan dakwah dan ukhuwah menuju satu tujuan, yakni melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah. Karena dakwah ini juga saya tidak pernah merasa sendirian meskipun jauh dari rumah. Jamaah ini adalah rumah kedua bagi saya. Teman-teman seperjuangan adalah keluarga besar saya. Dan Alhamdulillah, meski kadang kesepian, saya tidak pernah benar-benar merasakan kesepian. Karena mereka selalu ada, selain karena Allah juga pastinya. Uhibbukum fillah ❤

Travelling sendiri ke Surabaya

Untuk pertama kalinya saya ke Surabaya naik kendaraan sendiri. Sebelumnya udah pernah, tapi waktu itu masih dijemput. Kali ini saya naik kereta, naik angkot dan sampai ke tempat tujuan sendirian. Haha, rasanya aneh sih travelling sendirian, tapi saya juga gak tau kalo saya pergi jauh mesti sendirian. Dan orang yang pertama kali nemenin saya travelling jauh adalah Nila 😀 Semoga aja suatu saat beneran punya teman travelling :p

Misskom di Hari Raya

Sebenernya kejadian ini rasa absurd dan memalukan buat diceritakan. Semua planning di awal berantakan. Hari Raya yang ternyata warnanya abu-abu. Tapi, Alhamdulillah saya punya teman yang berwarna lebih cerah. Jadi saya gak ada alasan untuk tetap mendung. Dengan kesederhanaan, kami mencoba mengukir senyuman. And it works ^^ Ziezie, Mbak Put, Balgis, Ani, thanks for the memories 😀

Travelling ke Blitar dan Tulungagung

Nila adalah orang pertama yang bersedia travelling bersama saya. Udah gak tau apa-apa, modal peta sama HP. Akhirnya saya berangkat ke Tulungagung. Pertama kalinya juga naik sepeda motor. Ternyata setelah saya hitung-hitung, sekitar 1-1,5 jam kalo gak nyasar haha. Waktu itu saya sempat nyasar. Apalagi Nila puasa. Afwan ya, Nil. Jazakillah khairan katsir udah nemenin muter-muter nyari makam. And finally, I made my promise. See? If you don’t come then I’ll come to you. Finally, I came to meet you. Even it’s just a silent grave. I hope you see. I hope you see. I hope you see. Now, everything will be alright. End of our story. A sad ending one, but it makes so much lessons for me and the other. Thanks for coming into my life, thanks for giving me so many lessons, thanks for changing me to be a better person, thanks for bringing such colorful memories, thanks for giving me so much love and care, thanks for everything.

Meet New Family in Blitar

Nila, Bapak, Ibu, Pak Po, Pak Dhe, Bu Dhe dan semuanya akhirnya jadi keluarga baru saya selama di Blitar. Haha, saya gak tau apa saya kesana untuk melarikan diri dari hantu bernama kesepian. Hitung-hitung refreshing dan menepati janji ke Nila. Makasih untuk Ibu dan Bapak yang udah peduli banget dan nganggap saya seperti anak sendiri. Diajakin ke rumah saudara dan dapat angpao pula. Haha, saya jadi malu. Udah segede gini masih dapat angpao. Makasih Pak Dhe ^^ In syaa Allah kalo ada kesempatan, saya sempatin ke Blitar lagi, ngunjungin Bapak, Ibu, Pak Po dan semuanya. Rasanya gak cukup hanya dengan kalimat. Dan ini sukses bikin saya nangis. Love you all in Allah. I hope we’ll meet again. Dan semoga bisa ke Tulungagung lagi, ke rumah Pak Dhe-nya Maryam *Iam, ayo cepet balik :P*

Tuh kan, kalo udah lama gak nulis, sekali nulis jadi panjang banget tulisannya. Ya, semoga siapapun yang baca bisa ngambil pelajaran. Happy Ied Mubarak, all ^^

 

Shelter, August 2nd 2014. 08:50 AM. Gak terasa pas sebulan lagi.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s