Saya Pilih Siapa?

Saya juga gak tau apa karena sindrom libur atau karena akhir-akhir ini saya banyak kerjaan dan banyak pikiran, saya tiba-tiba lupa sama hari dan tanggal *lagaknya sibuk banget. Padahal, orang sibuk juga masih bisa bedain mana hari Senin mana hari Sabtu* Saya sih ingat kalo ini bulan Juli. Tapi, saya gak inget kalo hari ini sudah tanggal 7. It means that, dua hari lagi perhelatan paling gede di Indonesia Raya ini bakal digelar. Apa itu pemirsa? Jreng jreng jreng, ya Pemilu Presiden atau disingkat Pilpres yang jatuh pada 9 Juli mendatang.

Sebelum-sebelumnya, dunia heboh. Gak hanya di dunia nyata, tapi di dunia maya juga. Dan bisa jadi dunia jin juga dibuat gempar dengan Pilpres di Indonesia. Pasalnya, pertarungan dua Capres harapan (sebagian) penduduk negeri ini bertarung habis-habisan dan mati-matian demi mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia. Berbagai spekulasi bermunculan seperti sinetron yang episodenya ratusan yang pemerannya selalu muncul di sana-sini. Segala macam kampanye dilancarkan, mulai dari kampanye putih, abu-abu, sampai merah-kuning-hijau *emang Pelangi?* Tapi, whateverlah. Dan saking kudetnya, saya sampai gak tau nomor urut Capres *hellow Dit, kemane aje loe?* Entahlah, apakah subjektivitas saya terlalu parah atau seperti apa sampai saya tidak bisa melihat dengan mata hati *indigo kali* Serius, saya sama sekali tidak tertarik. Tapi, tenang. Saya punya alasan. Saya tidak sekedar membenci personal. Saya punya alasan. Dan yang jelas, inilah jawaban saya ketika saya ditanya, “Dit, kamu milih siapa tanggal 9 Juli besok?”

Sebagai seorang Muslim, tentu sebelum melakukan sesuatu saya harus bertanya dulu kepada Islam. Saya takut, kalau-kalau apa yang saya lakukan hanya baik menurut kepala saya, tapi menurut Allah -sebagai Pencipta dan Pengatur hidup saya- itu tidak baik. Saya gak mau mengorbankan surga hanya demi sesuatu yang mungki saya anggap baik. Karena ternyata tidak semua hal baik itu benar *nanti saja dibahas kalo soal ini* Nah, sekarang kembali ke permasalahan awal. Tentang Pilpres kali ini, saya memiliki sebuah pandangan tersendiri. Dan tentu saya berani mempertanggungjawabkan bahwa pandangan saya adalah sebuah pandangan yang islami. Bukan karena fanatisme buta terhadap kelompok tertentu atau karena saya punya niat jahat terhadap negeri ini.

Mengenai pemimpin, di dalam Islam mengangkat pemimpin adalah sebuah kewajiban. Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang melepaskan diri dari ketaatan, maka kelak ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan tanpa hujjah. Dan barangsiapa mati sedang di pundaknya tidak ada baiat kepada seorang Khalifah (pemimpin) maka matinya seperti mati jahiliyah” (HR. Muslim)

Namun, perlu diperhatikan di sini. Pemimpin yang disebut Khalifah itu juga bukan sembarang pemimpin. Di dalam Islam, untuk menjadi Khalifah, seseorang harus memiliki setidaknya tujuh kriteria.

Muslim
Laki-laki
Baligh
Berakal
Merdeka
Adil
Mampu
Mungkin dari kedua pilpres sudah memenuhi kriteria ini. Tapi, ternyata gak cukup hanya dengan kriteria ini. Ada lagi hal yang juga urgen namun seringkali terabaikan bahkan oleh kaum Muslimin sendiri. Apa itu?

Berbicara soal Negara maka pastilah Negara itu membutuhkan peraturan untuk mengatur urusan di dalam negerinya dan juga urusan di luar negeri. Maka, untuk mengangkat seorang pemimpin, jelas kita juga harus ngeliat aturan apa yang bakal diterapkan. Nah, syarat yang saya kemukakan di atas adalah bagaimana mengangkat pemimpin di dalam Islam. Dan tentu saja aturan yang dipakai pun aturan Islam. Okelah, dua capres udah memenuhi syarat-syarat menjadi Khalifah. Tapi, apakah aturan yang nantinya akan diterapkan oleh Presiden terpilih adalah aturan Islam? Oh, tunggu dulu. Mari kita lihat faktanya. Tapi, kan Negara kita bukan Negara Islam. Negara kita Cuma mayoritas. Mungkin ada yang berpendapat seperti ini. Atau ada lagi yang bilang, udahlah yang penting nilai-nilai Islamnya yang diterapkan. Kita ambil yang mudharatnya paling sedikit aja. Jujur, saya sudah pusing dengan kalimat-kalimat itu. Dari dulu juga selalu begitu tapi keberkahan tak kunjung datang di negeri ini. Yang ada justru sebaliknya. Semakin hari keadaan semakin bikin miris.

Ya, namanya juga Presiden. Gak mungkin sudi nerapin sistem Islam. Presiden itu kan istilah untuk menyebut pemimpin dalam sebuah sistem bernama Demokrasi. Dan seperti yang sudah diajarkan dari SD sampe kuliah, Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Ya, itulah yang selama ini dikampanyekan. Bahkan kaum Muslimin pun mengamini hal ini. Bayangkan saja, kita ngaku Muslim. Bersyahadat dengan sepenuh jiwa-raga. Tapi, ketika sistem yang diterapkan adalah sistem yang berasal dari akal manusia yang lemah dan terbatas, kita mengiyakan dan mengamini bahkan membelanya mati-matian. Lalu, syahadatnya ditaruh mana?

Allah SWT berfirman:

“Apakah hukum jahiliyyah yang kalian kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah [5] : 50).

Saya pikir firman ini sudah jelas sejelas-jelasnya, bahwa Allah hanya ridho jika aturanNya yang diterapkan. Bukan yang lain. Fakta hari ini adalah kaum Muslimin yang seharusnya memiliki seorang pemimpin (Khalifah) yang mengatur mereka dengan hukum Allahjustru memiliki banyak pemimpin yang mengatur mereka dengan hukum yang bukan berasal dari Allah. Bukankah itu sebuah pengkhianatan terhadap apa yang sudah diyakini sebelumnya? Bahkan, Rasulullah SAW pun tidak pernah mengatur kaum Muslimin dengan sistem selain Islam termasuk dalam politik sekalipun. Meski dulu Madinah tidak semua penduduknya adalah Muslim.

Saya juga heran, penyakit apa yang menjangkiti kaum Muslimin hari ini sampai mereka begitu malu jika mengatakan mereka ingin diatur dengan hukum Islam. Ketika ada sebuah gerakan yang mengajak untuk kembali kepada sistem Islam yang kaffah di bawah naungan Khilafah, mereka malah beramai-ramai menolak dan mengabaikan seruan tersebut dengan berbagai macam alasan. Plis deh, mau dipertahakan kayak gimana juga, Demokrasi tetap sistem rusak. Yang namanya sistem rusak bakal ngebawa kerusakan juga.

Jadi, kesimpulannya lu milih siapa, Dit?

Kesimpulannya, saya milih Khalifah yang akan menerapkan Islam di bawah naungan Khilafah dan mempersatukan seluruh kaum Muslimin serta mengatur mereka dengan SyariatNya. Bukan ingin memecah belah NKRI. Justru karena saya sangat mencintai negeri ini, saya tidak ingin negeri ini terus-terusan dijajah. Saya tidak ingin negeri ini menjadi negeri yang hancur berantakan dan menjadi sampah dalam sejarah peradaban umat manusia. Bukankah kita milik Allah? Dan bukankah Indonesia juga milik Allah? Lalu, alasan apa yang membuat kita menolak hukum Allah yang jelas-jelas membawa kepada keberkahan dan kesejahteraan? So, mikir lagi deh sebelum memilih. Masih ada dua hari. Dan ingat bahwa semua bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Bye, good night ^^

Shelter, July 7th 2014. 10:31 PM. 

 

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s