Jalan Pulang

Jalan pulang itu selalu terasa lebih dekat [Ditri Ayu R.A.L]

 Bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang sangat berharga bagi kita? Bagaimana jika kita sudah tahu bahwa beberapa jam yang lalu adalah saat terakhir kita bersamanya? Atau mungkin sebaliknya? Bagaimana jika beberapa saat yang lalu adalah saat terakhir kita melihatnya tersenyum kepada kita? Lalu, beberapa saat kemudian, ia telah pergi untuk selamanya.

Ini adalah kesekian kalinya saya mendengar berita kematian dari orang yang saya kenal. Dan rasanya sama. Lemas dan tidak bisa berkata apa-apa. Namun, satu hal yang pasti. Itu akan terjadi kepada setiap yang bernyawa. Dan Allah telah menyebutkannya berkali-kali di dalam Al Qur’an. Saya kemudian berpikir, bagaimana jika itu terjadi pada saya? Bagaimana jika Bapak atau Ibu saya yang meninggal? Bagaimana jika Kakak atau Adik saya yang meninggal? Atau mungkin jika beberapa saat lagi saya dipanggil oleh Allah melalui malaikat Izrail? Apa yang akan saya lakukan?

Saat ini banyak orang yang belum bahkan tidak siap dengan kematian. Mungkin saya juga seperti itu. Entah karena ada yang merasa masih banyak urusan di dunia ini ataupun yang lain. Atau mungkin masih banyak amanah yang belum ditunaikan, dsb. Namun, ajal itu akan menghampiri siapa saja tanpa bisa dimundurkan atau dimajukan.

Maka Umar bin Khattab berpesan, cukuplah mati sebagai sebaik-baik pengingat. Karena setelah mati, kita tidak akan bisa hidup kembali. Setelah mati, kita akan bertanggung jawab terhadap seluruh pilihan kita di dunia. Seluruh perbuatan kita. Siapapun dia yang predikatnya manusia.

Hari ini saya melihat orang lain meninggal. Besok, bisa jadi saya yang mengalaminya. Lalu, bagaimana dengan mereka yang ditinggalkan? Tentu saja perasaan sedih sebagai manusia itu ada karena itu manusiawi. Pastinya itu berat bagi mereka. Maka bersabar adalah pilihan yang pasti terasa sangat pahit. Namun, di sisi Allah ada balasan yang besar. Karena Allah takkan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya.

Hari ini saya diuji masih dengan perkara yang sama. Perkara yang melemahkan saya yang datang dari diri saya sendiri. Masih di situ. Sedangkan orang lain sudah melewati tahapan ujian yang satu tingkat di atas saya. Mereka diuji lewat orang terdekatnya. Maka, ujian saya belum ada apa-apanya.

Mido Chan, semoga Ayahmu mendapat tempat yang terbaik di sisiNya dan semoga kelak kalian berkumpul bersama di surgaNya. Mido Chan, maafkan temanmu ini yang tidak bisa membantu lebih selain mendoakan beliau. Semoga Allah menguatkan jiwamu. Mido chan, kamu punya Ayah yang luar biasa. Jadilah anak shalihah untuknya.

Shelter, July 3rd 2014. 09:24 PM.

Dedicated to Mido’s Father and kak Eko Irwanto.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s