Kegalauan (Salah Seorang) Akademisi

Hari Kamis kemarin saya berkesempatan menjadi moderator dalam seminar proposal teman saya. Alhamdulillah berbekalkan modal bahasa Inggris yang pas-pasan *udah lama gak speaking* akhirnya seminar tersebut saya lewati. Padahal, sebenarnya saya bukan anak Sastra Inggris. Saya jurusan sebelah. Sastra Jepang. Haha, tapi gak tau kenapa dia ngotot minta saya yang jadi moderator. Selamat buat Maryam. Selamat ngerjain hasil 😀

Tapi, ada yang menarik di seminar proposal kemarin. Hal yang membuat saya sendiri juga cukup tercengang.

Teman saya itu kan meneliti tentang analisis linguistik tentang headline di Koran Kompas dan Jawa Pos terkait Pemilu 2014. Dua dosen pembimbing mengatakan topik tersebut sangat menarik dan sangat pas dengan momen tahun ini. Nah, ketika sampai pada sesi komentar dan saran dari dosen pembimbing, ibu dosen tersebut memberikan masukan kemudian seolah curhat pada kami yang ada dalam ruangan tersebut. Berikut (kurang-lebih) pernyataan beliau.

“Sekarang ini saya melihat media tidak lebih dari timses (Tim Sukses). Namanya timses pasti akan mendukung mati-matian capresnya. Dan timses itu, salah atau benar calonnya, yang ditampakkan adalah kebaikannya. Semua tentang kebaikan capres tersebut. Akhirnya, saya mencari stasiun televisi yang lebih objektif jika melihat berita. Padahal, salah satu dari stasiun tersebut dulu menjadi stasiun favorit saya karena kualitas presenter dan pemberitaannya. Namun, sejak medianya condong kepada salah satu calon, saya akhirnya kecewa. Saya yakin, siapapun Presidennya, jika udara (broadcasting) telah dikuasai oleh dua capres tersebut, Indonesia ke depan akan kembali di zaman Orde Baru, dimana media menjadi alat untuk menampilkan kebaikan penguasa dan menutup-nutupi dosa mereka. Itulah yang saat ini dilakukan media. Jujur, saya bingung harus bertanya kepada siapa lagi tentang hal ini. Karena sekarang pihak-pihak yang seharusnya netral pun menjadi tidak netral. Agamawan, media, bahkan akademisi sekelas professor sudah tidak netral lagi. Dan jujur saya katakan bahwa saya termasuk dalam golongan yang masih bingung menentukan pilihan”.

Begitulah pernyataan yang beliau lontarkan yang membuat kami yang berada di dalam ruangan tercengang. Untuk orang sekelas beliau saya sendiri juga baru menemukan. Dengan tegasnya beliau mengatakan demikian. Meskipun nadanya curhat, saya sangat menghargai isi pikiran beliau. Dan memang wajar bagi seseorang yang masih meluangkan waktunya untuk sedikit mendalami fakta yang terjadi hari ini.

Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan kedua Capres dari individu. Namun, saya lebih condong kepada sistem yang akan diterapkan nantinya. Dan jika dilihat lebih jeli lagi, Pemilu mendatang hanya sebatas mengganti rezim (orang) dengan meneruskan sistem yang sudah ada. Sistem rusak yang sebenarnya sudah tidak bisa lagi diperbaiki namun terus dipaksakan kepada rakyat atas nama rakyat. Mereka berusaha menarik simpati rakyat hanya sebatas pada perkara teknis namun tetap membiarkan asing dengan bebas keluar-masuk Indonesia.

Selama sistemnya masih dalam bingkai Demokrasi, harapan Indonesia Hebat dan Indonesia Bangkit seperti jargon yang dilontarkan di publik hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. Saya tidak bermaksud su’uzhann. Selama ini Indonesia sudah sering berganti pemimpin dengan visi-misi yang hampir sama, namun hasilnya tetap sama. Bahkan saat ini lebih parah.

Dalam hati saya hanya bisa berkata sambil memandangi beliau dengan tersenyum.

“Bu, pilih Khilafah aja. In syaa Allah barokah”.

Bersambung…

Shelter, June 27th 2014. 09:43 PM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s