Dari Diskusi Menuju Revolusi

ImageMungkin ada sebagian yang udah pernah denger slogan ini. Ya, termasuk saya salah satunya. Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti sebuah acara yang luar biasa. Muslim Intellectual Dialogue 2014. Nah, dalam acara itu di akhir sambutan, perwakilan panitia mengungkapkan bahwa perubahan negeri ini dimulai dengan pemudanya. Dari diskusi menuju revolusi. Ya, begitulah kira-kira pesan yang disampaikan oleh panitia acara tersebut.

Dari diskusi menuju revolusi? Mungkin bagi sebagian orang ini adalah sesuatu yang absurd, utopis dan mimpi belaka. Gimana bisa dari diskusi akhirnya bisa mewujudkan revolusi? Itu mah namanya OMDO atau NATO. Kalo mau revolusi ya aksi riil dong. Bukan cuma ngomong doang. Apalagi kalo ada aktivis Islam yang bilang kayak gini. Hadeh, saya turut berduka cita deh.

Saat ini, kalo ngomong perubahan apalagi perubahan sistem identik dengan mengubah dari dalam. Mengubah individu, mengubah pelan-pelan dan sebagainya. Banyak alasan dan banyak faktor. Tapi, semoga saja kita tidak lupa bahwa yang namanya sistem itu seperti rantai, tidak akan bisa diterapkan sedikit demi sedikit atau step by step. Yang namanya sistem ya diterapkan secara paripurna. Makanya wajar sih, yang awalnya niat mengubah sistem pas masuk sistem akhirnya banting setir milih setengah-setengah. Karena ngubah sistem itu lama, sulit dan masih banyak lagi rintangan-rintangan yang lain. Daripada langsung ngubah semuanya, ya ambil yang mudharatnya sedikitlah. Hitung-hitung ada kontribusi. Daripada sekedar ngomong dan gak ngapa-ngapain?

FYI, ngomong itu kata kerja. Jadi, orang yang ngomong itu sebenarnya melakukan aksi real. Gak bakal ada Revolusi Perancis, Revolusi Industri sampe Revolusi Bolshevik kalo gak ada orang yang memprakarsai. Dan gak mungkin langsung aksi. Awalnya pasti ngomong. Untuk apa? Ya menyalurkan ide agar satu visi dan satu misi. Jadi, maaf aja buat yang bilang kalo diskusi itu bukan aktivitas real. That’s real mamen!

Kedua, yang namanya perubahan itu pasti ngelawan arus. Namanya juga berubah. Pasti beda dari sebelumnya. Kalo ngerubah tapi ikut arus, dijamin perubahannya gak bakal bener-bener berubah. Yang ada jadi banci. Identitasnya gak jelas. Kayak negeri saya sekarang. Dibilang Negara agama gak sudi, dibilang Negara sekuler protes. Jadinya apa dong? Negara bukan-bukan?

Ketiga, disamping semua revolusi-revolusi yang terjadi di dunia, ada satu revolusi yang tidak berdarah-darah. Satu-satunya revolusi yang bikin dunia ini mulia setelah mengalami kehinaan. Revolusi itu dilakukan oleh seorang Pemuda Arab bernama Muhammad SAW. Seseorang yang diutus oleh Pemilik Jagad Raya untuk memberi kabar gembira dan peringatan bagi manusia. Revolusi yang dilakukan Rasulullah SAW juga bermula dengan diskusi. Rasulullah itu ngomong. Aktivitas yang sekarang kita kenal dengan dakwah. Apa jadinya kalo Rasullah diam? Atau Rasulullah langsung take action? Ya, bisa dipastikan Islam gak bakalan ada hari ini.

Ketika Rasulullah diangkat menjadi Rasul, saat itu Rasulullah mulai menyeru manusia kepada Allah dengan mengajak mereka masuk Islam. Mulai dari orang-orang terdekatnya seperti keluarga, sahabat, hamba sahaya kemudian kepada seluruh manusia. Gak hanya itu, beliau SAW membina orang-orang tadi sehingga keimanan mereka mantap dan sempurna. Membina dengan apa? Fisik? Gak. Rasulullah ngomong. Setelah orang-orang itu kuat, Rasulullah bersama mereka membentuk sebuah kelompok. Dan karena kelompok itulah, orang-orang Quraisy ketar-ketir karena ketakutan. Takut kekuasaan mereka diambil oleh beliau.

Rasulullah SAW dan kelompoknya (partai) tidak berhenti untuk terus berdakwah mengajak orang masuk Islam. Bahkan sekalipun mereka dihadang berbagai macam rintangan, mereka tetap maju dan tidak mundur selangkahpun. Padahal, cuma ngomong doang. Dan karena kekuatan ngomong tadi, mayoritas Madinah yang dulunya punya slogan “Senggol, Bacok” akhirnya menerima Islam lewat Mush’ab bin Umair. Dan saat Baiat Aqabah II, Rasulullah resmi menjadi kepala Negara Daulah Islam pertama di Madinah.

Itulah revolusi Rasulullah SAW. Revolusi putih. Dan semua bermula dengan diskusi. Dan karena itu pun kami takkan berhenti. Karena kami percaya, suatu hari ini akan bekerja. Diskusi yang kami lakukan dari satu orang ke orang lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu lembaga ke lembaga lain. And see, opini Khilafah semakin berkembang. So, we don’t just talk. But also walk. It means that we move.

Kami percaya bahwa janji akan tegaknya Khilafah adalah benar. Dan kami akan menyambutnya dengan suka cita. In syaa Allah.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Shelter, June 6th 2014. 12:06 AM. Menjelang rehat.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s