Berjalan Bersama Luka

Image“Kau tidak akan bisa menjadi seorang Kage jika kau belum bisa menanggung beban seorang Kage”. (Gaara kepada Naruto)

”Selama dunia Ninja masih dengan sistem seperti ini, selama itu pula dunia Ninja akan selalu diliputi oleh kebencian”. (Yondaime Hokage kepada Naruto)

Setiap orang pasti memiliki masa lalu kelam. Memiliki luka yang mereka tanggung dan sakit hati yang mereka bawa dalam hidupnya. Setiap luka dan kesendirian selalu meminta tempat untuk berteduh. Dan setiap orang mencari tempat untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit dari hatinya.

Allah SWT. Berfirman :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal beum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah [2] : 214)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (Al Baqarah [2] : 155)

Rasulullah SAW. Bersabda :
“Para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih kemudain generasi setelahnya dan generasi setelahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-hentinya ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun” (HR. Ahmad)

Dan benarlah hadist Rasulullah. Bahwa seseorang diuji berdasarkan kadar keimanannya. Dan yang tentu merasakan luka yang paling dalam dan sakit yang paling berat adalah para Nabi dan Rasul. Diantara mereka pun masih ada yang lebih berat lagi, yakni Ulul Azmi dimana salah satunya adalah Rasulullah SAW. sendiri. Dan benar pula bahwa manusia tidak akan berhenti diuji hingga ia berjalan tanpa kesalahan sedikit pun dan itu berarti tidak mungkin hidup manusia tidak diliputi dengan ujian. Namun, tentu terdapat perbedaaan antara orang-orang yang kuat imannya dengan yang tidak.

Orang yang kuat keimanannya kepada Allah, percaya bahwa ujian berupa luka dan rasa sakit merupakan bukti cinta Allah dan tempaan Allah untuk menjadikannya semakin kuat dan tangguh. Ia sadar bahwa ujian akan membuatnya menjadi orang yang lebih baik sehingga ia berusaha mencintai setiap ujian yang datang padanya meski itu berupa luka dan rasa sakit. Berbeda dengan orang yang tidak kuat keimanannya kepada Allah. Ia akan membenci ujian dan berusaha menyalahkan apapun yang bisa ia salahkan. Berlari dan terus berlari dari kenyataan hingga ia tidak menemukan jalan keluar selain jebakan kebencian yang tidak ada habisnya.

Hal tersebut wajar karena saat ini jebakan kebencian itu berada dalam sebuah jebakan yang lebih besar lagi, yakni sistem Demokrasi-Kapitalisme. Jebakan kebencian ini muncul dari segala penjuru tanpa peduli siapa yang terjebak di dalamnya. Dan akhirnya tak ada yang berpikir untuk keluar dari jebakan ini. Karena cinta dan benci adalah dua hal yang tidak jauh berbeda. Dua-duanya dapat bermuara pada luka dan menimbulkan rasa sakit. Semakin seseorang mencintai, kemungkinan dia terluka akan semakin besar. Hingga akhirnya dia tidak bisa memilih kecuali membenci. Namun, rasa sakit karena mencintai tidak sama dengan rasa sakit karena membenci.

Di luar sana, ada orang-orang yang berusaha menghancurkan kutukan kebencian ini dengan menghancurkan sistem Demokrasi-Kapitalisme dan menegakkan sebuah sistem baru yang akan memberikan cinta kepada semua orang, yaitu Khilafah. Mereka berdakwah tanpa henti. Dan berjalan bersama luka karena sistem dan luka yang harus mereka rasakan sebagai seorang pengemban dakwah. Itulah luka karena cinta. Namun balasannya tentu tak terkira. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Allah SWT berfirman :
“Allah tidak akan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya…” (Al Baqarah [2] : 286)

“…Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”. Mereka itulah orang yang mendapat keberkahan sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Baqarah [2] : 155-157)

Besi kuat karena tempaan. Manusia kuat karena ujian. Tak seorang hebat pun yang tidak lahir dari luka dan rasa sakit. Maka seseorang yang beriman tentu tak takut dengan luka. Karena luka adalah penghapus dosa. Dan sisi Allah mereka akan mendapatkan tempat terbaik, yakni Surga. Karena Allah tidak akan ingkar janji.

“Aku percaya, suatu saat akan ada masa dimana semua orang bisa saling memahami satu sama lain” (Jiraiya Sensei)

Shelter, May 18th 2014. 10:25 AM. Membayangkan langit di luar sana.
Backsound : Utsusemi an instrument by Takanashi Yasuharu

picture from : equinoxeles.blogspot.com

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

4 thoughts on “Berjalan Bersama Luka

    1. Un, hisashiburi ne, Amel Chan. Antatachi no egao hontou ni aitakatta…

      Haha, itu karena udah lama mak gak nulis lagi nak…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s