Al Qur’an, Tak Sekedar Bacaan

photo by tumblr
photo by tumblr

Beberapa hari yang lalu, di kampus saya diselenggarakan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) tingkat Universitas. Namanya MTQ pasti yang diperlombakan adalah bacaan Al-Qur’an, hafalan, dsb. Selain itu, masih ada kaligrafi, debat Al Qur’an dan karya tulis. Acara ini emang rutin tiap tahun dilaksanakan oleh pihak kampus. UAKI (Unit Aktivitas Kerohanian Islam) universitas juga berperan dalam acara ini. Sebelum maju sebagai perwakilan fakultas di tingkat universitas, tiap fakultas mengadakan seleksi MTQ di fakultas masing-masing. Dari perwakilan inilah yang kemudian berlaga di kompetisi MTQ universitas. Namun sayangnya acara ini tidak terlalu banyak yang antusias. Yah, dimana-mana orang yang nonton konser mesti lebih banyak. Sedih juga sih karena mayoritas di kampus adalah kaum Muslimin. Tapi, partisipasi mereka untuk Islam hampir gak ada.

Ngomong-ngomong soal Al Qur’an, Alhamdulillah sekarang makin banyak yang tertarik untuk membacanya. Apalagi para artis. Dan sekarang kampanye ke arah Islam semakin meluas. Misal aja nih ada ODOJ dan sebagainya. Mungkin selain ODOJ masih ada lagi. Di satu sisi, saya senang dan mengapresiasi. Adanya MTQ yang rutin dilaksanakan pun sebenarnya menunjukkan harapan kaum Muslimin terhadap Islam masih ada. Tapi, Al Qur’an kan diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Namanya petunjuk berarti tidak hanya dibaca tapi juga diamalkan. Sayangnya, sekarang banyak aturan dari Al Qur’an yang belum dilaksanakan. Seperti contoh ekonomi. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Tapi, faktanya sistem ekonomi hari ini ditopang oleh riba. Misal lagi, pembunuh yang membunuh dengan sengaja harus di qishash. Tapi, faktanya tidak diterapkan. Padahal, hukumnya sama wajibnya dengan puasa pada bulan Ramadhan. Contoh lain, laki-laki dan perempuan yang berzina harus dirajam atau dicambuk. Faktanya, banyak sekali yang sudah berzina tapi bebas-bebas saja berjalan dalam kehidupan ini padahal zina adalah dosa besar. Sama halnya dengan riba. Contoh lain, mengurusi jenazah adalah fardhu kifayah tapi banyak sekali jenazah yang tidak diurusi akibat tidak dikenali kerabatnya siapa atau tidak ada yang mau bertanggung jawab karena harus bayar macam-macam. Padahal, fardhu kifayah itu jika tidak ada yang melaksanakan maka seluruh kaum Muslimin berdosa. Di dalam Al Qur’an sendiri jelas terdapat seluruh aturan di seluruh aspek kehidupan. Mulai dari hubungan dengan Allah, diri sendiri sampai kenegaraan. Namun, saat ini kaum Muslimin masih belum banyak yang sadar bahwa Al Qur’an adalah solusi atas seluruh permasalahan.

Di dalam Al Qur’an juga Allah berfirman bahwa membuat hukum hanyalah hak Allah, tapi hari ini hukum dibuat oleh manusia. Sistem yang memperbolehkan hal itu bernama Demokrasi. Dan kaum Muslimin (masih) mengamininya. Maka wajar jika hari ini kaum Muslimin hanya mengambil Al Qur’an seluruhnya untuk dibaca. Sementara hukumnya yang seharusnya dijalankan secara kaffah hanya diambil sebagian-sebagian saja. Al Qur’an begitu diagungkan namun hanya sebatas bacaan. Setelah dibaca, ia disimpan di lemari dan tidak direnungi serta dijadikan acuan ketika ada masalah. Untuk masalah negeri ini, para pemimpin negeri ini sekalipun Muslim, mereka hampir tidak pernah melirik Al Qur’an untuk dijadikan solusi. Sungguh ironis. Padahal, mereka meyakini Al Qur’an berasal dari Allah.

Namun, ada orang-orang yang tidak ingin Al Qur’an hanya sekedar menjadi bacaan. Mereka ingin menerapkannya. Tapi, ternyata hal tersebut tidak mudah. Karena orang-orang tersebut justru dilarang oleh mereka yang setiap harinya membaca Al Qur’an. Ya, orang-orang yang mengagungkan Al Qur’an dengan membacanya setiap hari justru menghalangi orang yang ingin menerapkan isi Al Qur’an dalam kehidupan. Apakah orang yang membaca Al Qur’an itu bukan Muslim? Tentu saja tidak. Mereka Muslim. Dan tidak sedikit yang memiliki ilmu tentang Islam. Namun, mereka membenci orang yang ingin menerapkan Al Qur’an.

Saya sendiri juga heran. Kenapa membaca Al Qur’an yang sunnah mengalahkan penerapan Al Qur’an yang sudah jelas-jelas wajib? MTQ selalu diselenggarakan. Tetapi, ketika isi Al Qur’an ingin diterapkan di seluruh penjuru dunia, mereka ramai-ramai melarang. Sebegitu menyeramkannyakah hukum yang berasal dari Tuhan Semesta Alam? Ataukah memang ada pemikiran lain yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi hipokrit?

Ya, Sekulerisme itu nyata kawan. Dan untuk membunuhnya, lawanlah dengan pemikiran yang menjadikan Allah tidak hanya Pencipta tetapi juga Pengatur. Tidak lain dan tidak bukan adalah Islam. Islam Kaffah. Bukan Islam moderat. Karena Islam tidak mengenal kata kompromi.

Allah SWT berfirman

“Hai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah ikut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Al Baqarah : 208)

So, tidak ada gunanya masih menerapkan Demokrasi yang hanya menjadikan Al Qur’an sebagai bahan bacaan tanpa penerapan. Saatnya mengganti dengan Khilafah, sistem pemerintahan yang diwariskan Rasulullah dan para Shahabat, yang menjadikan Al Qur’an dan as Sunnah sebagai pilarnya.

 

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Shelter, May 10th 2014. H-20 menuju KIP.

 

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s