Mutiara yang Hilang Itu Bernama Khilafah

Nyesek banget ngeliat pemandangan tiap hari. Ketika semua orang sibuk dengan kepentingannya masing-masing dan memilih untuk tidak peduli. Hidup dalam zona nyaman dengan pikirannya masing-masing. Seolah gak ada niat sama sekali untuk sedikit melirik kehidupan sekitar.

Setidaknya itulah pemandangan yang gue lihat seumur hidup gue sampai gue akhirnya tau kenapa semua bisa begini. Dan Maret ini. 3 Maret 2014, tepat 90 tahun sudah sebuah institusi sekaligus jantung kaum Muslimin runtuh. Diruntuhkan oleh seorang agen Inggris bernama Mustafa Kemal. Dalam sejarah dia disebut sebagai pahlawan. Tapi, buat gue dia adalah seorang penjahat besar. Karena ulahnya dan yang pasti dibantu oleh tuannya, yakni Inggris dan Sekutunya waktu itu, akhirnya kaum Muslimin dan seluruh umat manusia kehilangan pelindung. Dan siapa aja bisa lihat kalo semakin hari kehidupan ini semakin mengerikan. Gak heran kalo angka bunuh diri naik terus setiap tahun.

90 Tahun Dunia Tanpa Khilafah

Sejak sistem Khilafah dihapuskan, masalah mulai bermunculan silih-berganti seperti hujan badai yang tidak kunjung reda. Kekacauan terjadi dimana-mana. Kezhaliman merajalela, perampasan hak, kemiskinan yang tersistem, distorsi moral yang luar biasa, hingga hilangnya sifat kemanusiaan pada diri seorang makhluk hidup yang selalu disebut sebagai sebaik-baik makhluk.

Setidaknya, untuk negeri sendiri, sudah banyak sekali kekacauan yang terjadi di negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Sumber daya alam yang banyak namun rakyat justru mengemis di negeri sendiri. Tadi, seorang Bapak yang masih produktif meminta sumbangan di kontrakan saya dengan sedikit memaksa yang berakhir pada pendiaman saya bersama seluruh penghuni rumah. Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Tapi berkali-kali. Seluruh manusia seolah bergerak hanya untuk bisa bertahan memenuhi kebutuhan perut. Dengan modus apapun. Termasuk memaksa dan tak jarang memaki jika tidak mendapat seribu atau dua ribu Rupiah. Pengemis seolah menjadi pekerjaan tidak resmi di negeri ini. Yang lebih mengerikan lagi, seks pun dikomersialkan hingga ada sebutan PSK (Pekerja Seks Komersial) bagi mereka yang menjajakkan kehormatan dirinya. Dan itu biasa. Jika tidak seperti itu, mau dapat uang darimana untuk makan? Sekolah? Jangan ditanya. Tak semua orang yang berusia di usia sekolah mampu bersekolah. Kenapa? Karena mereka tidak punya biaya yang cukup untuk mengenyam pendidikan di bangku formal tersebut. Karena tingkat pendidikan rendah, mereka pun hanya bisa kerja serabutan. Tapi, seperti saat ini sarjana pun sulit sekali mendapat pekerjaan. Akhirnya, orientasi pendidikan pun berubah. Bukan untuk menimba ilmu dan mengabdi pada masyarakat, tetapi untuk bekerja mencari uang dan membiayai anggota keluarga yang lain. Di sisi lain, arus kebebasan terus digulirkan. Generasi muda dirusak dengan narkoba, pergaulan bebas, hiburan yang membius dan sebagainya. Mereka lebih bangga menjadi anak gaul yang kerjaannya hura-hura, nonton konser, pacaran, ngerayain Valentine Day, Tahun Baru, karaoke dan masih banyak aktivitas yang sia-sia lainnya. Tidak ada semangat belajar di jiwa generasi muda. Masa depan bagi mereka adalah arus terakhir dari kehidupan mereka yang mereka biarkan mengikuti arus. Pun dengan mahasiswa yang sering dianggap sebagai agent of change. Mereka sudah terlalu sibuk dengan kehidupannya. Para aktivis pun teralihkan dengan berbagai macam kegiatan yang tidak berkorelasi dengan perbaikan bangsa ini. Mungkin karena perkuliahan terlalu mencekik dengan sistemnya yang membuat mahasiswa senantiasa sibuk dengan tugas, tugas dan tugas. Sehingga ketika membuat acara, mereka akan membuat acara olahraga dan hiburan untuk menghilangkan stres. Boro-boro disuruh mikir urusan masa depan bangsa, mereka udah terlalu capek dengan banyaknya tugas. Bergabung dalam pergerakan pun hanya sekedar mencari teman tanpa tau visi bergabung dalam pergerakan sebenarnya apa. Atau bahkan mereka yang menjadi pengokoh sistem rusak karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan mereka menganalisa akar permasalahan. Begitulah daur kehidupan ini terus berputar selama tidak kurang dari 90 tahun.

Dunia pun 11-12 dengan kondisi negeri ini. Dunia Islam khususnya, setiap kali saya melihat berita tentang apa yang terjadi pada kaum Muslimin di belahan bumi lain, sulit rasanya untuk tidak menangis. Bagaimana tidak, kaum Muslimin senantiasa menjadi bahan permainan orang-orang kafir. Di Suriah, anak-anak harus menanggung penderitaan di usia mereka yang masih kecil. Namun, tak satupun yang peduli. Di Afrika Tengah, kaum Muslimin yang minoritas dibantai dan dimakan mayatnya oleh orang-orang kafir yang membenci Islam. Di Palestina, Chechnya, Rusia, Uzbekistan, Afghanistan, Irak dan masih banyak lagi tempat dimana kaum Muslimin menjadi sasaran orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Hanya karena mereka Muslim, nyawa mereka diambil tanpa belas kasih.

Kaum Muslimin dikerat-kerat menjadi lebih dari 50 negara kecil di seluruh dunia. Dan Negara mereka dipimpin oleh boneka-boneka yang sudah disiapkan oleh musuh-musuh Islam. Menggunakan sistem Demokrasi sebagai penopang dan mendandaninya secantik mungkin agar tetap mempesona di mata kaum Muslimin. Selama 90 tahun pula Demokrasi dipuja-puja dan telah menghipnotis kebanyakan kaum Muslimin. Hingga mereka rela menanggalkan kebanggan mereka terhadap Islam. Mereka lebih bangga disebut modern dengan mengikuti Barat, daripada disebut Islami dengan berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah.

Ide Nasionalisme telah berurat akar dan mendarah daging dalam jiwa mereka. Sekulerisme telah mengotori benak mereka. Ditambah dengan hipnotis sistem Demokrasi. Dan diperkuat dengan Liberalisme. Lengkap sudah penderitaan Kaum Muslimin. Seperti orang yang sudah mati tetapi masih juga mayatnya dicabik-cabik. Bahkan lebih parah.

Maka benarlah Sabda Rasulullah SAW. Bahwa sepeninggal beliau kaum Muslimin seperti makanan lezat yang akan diperebutkan oleh serigala-serigala kelaparan. Bukan karena mereka sedikit, tetapi karena mereka seperti buih di lautan (tercerai-berai) dan mereka dijangkiti penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.

Beliau juga pernah bersabda bahwa simpul Islam akan terlepas sehelai demi sehelai. Dan yang pertama lepas adalah pemerintahan sedang yang terakhir adalah sholat. Dan benar, sejak Khilafah tidak ada, banyak sekali hukum Allah yang ditinggalkan. Yang halal berubah jadi haram, yang haram bisa dihalalkan. Padahal, sudah berkali-kali Allah berikan peringatan. Namun, tak juga kunjung membangkitkan kesadaran kaum Muslimin.

Ini Cuma sedikit cuplikan yang bisa gue tulis. Selain itu, masih banyak lagi yang gue gak mampu untuk nulis saking kepala gue berat dan hati gue sakit kalo nulisnya. Kondisi kaum Muslimin bener-bener sangat terpuruk. Karena mereka meninggalkan sebagian besar hukum Allah.

Dunia Menuju Khilafah. Saatnya Move ON dan Berjuanglah!

Miris memang. Namun, jika tidak ingin hanyut oleh arus yang mematikan, maka rubahlah keadaan. Ciptakan arus baru. Karena Allah dan RasulNya telah berjanji bahwa Islam pasti akan dimenangkan atas agama-agama dan ideology manapun di dunia ini. Sebagaimana sabda beliau SAW. Bahwa akan kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Itulah yang seharusnya diperjuangkan oleh kaum Muslimin saat ini.

Ideologi buatan manusia pasti akan tumbang. Dan saat ini, Kapitalisme Global sudah berada di akhir hayatnya. Demokrasi yang dipuja-puja semakin tampak kebusukannya. Saatnya Islam menggantikan. Dan Islam takkan tegak tanpa ada orang yang mau berjuang untuk menegakkannya.

Bukan saatnya lagi untuk meratapi keadaan. Saatnya buktikan bahwa Khilafah bukan semata romantisme sejarah. Bukan pula utopia yang melenakan. Karena Khilafah adalah janji Sang Pemilik Semesta, Allah SWT. Khilafah adalah sistem yang berasal dariNya. Sistem yang sudah dicontohkan oleh RasulNya yang mulia serta diwariskan untuk generasi kaum Muslimin.

Saatnya ambil bagian dalam perjuangan menegakkan Khilafah. Karena Demokrasi sudah terbukti rusak dan merusak. Allahu Akbar!

Khairunnisa, March 15th 2014. 02:26 PM. 

Alhamdulillah bisa ngeluarin sedikit uneg-uneg. Setelah beberapa waktu gak nulis.

Image

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

3 thoughts on “Mutiara yang Hilang Itu Bernama Khilafah

      1. tadi udah baikan, tp skrg drop lagi,,, baru rehat 2 hari udah ditanyain tugas lagi…. huhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s