AKU CANTIK *Unofficial Title*

-Cantik adalah nama yang Ayah dan Bunda berikan sebagai rasa syukur karena bisa memiliki anak perempuan. Cantik itu adalah harapan semoga bukan hanya kecantikan yang ada di fisik saja, tetapi juga kecantikan dalam kepribadian-

-Cantik bukan karena semua orang bisa melihat keelokan tubuhmu. Cantik bukan dilihat dari tinggi yang semampai, kaki yang indah, tubuh yang langsing, kulit yang putih dan mulus atau wajah yang memesona. Cantik itu karena ketaatan. Ketaatan yang lahir dari keimanan-

***

Namaku Cantik. Sampai saat ini aku masih tidak mengerti mengapa Bunda memberiku nama itu. Setiap kali kutanya, jawabannya hanya, “Masa Kakak sama Adek yang dinamain kayak gitu? Kan gak lucu”. Menurutku, nama itu sangat tidak sesuai dengan diriku. Sampai saat ini pun aku masih beranggapan seperti itu.

Aku memandangi diriku di cermin. Mencari alasan untuk membenarkan pendapat Bunda. Aku lalu membayangkan teman-teman sekelasku di kampus. Mereka lebih pantas dengan nama itu, masih menurutku. Mungkin lebih tepatnya aku masih tidak percaya diri dengan nama yang kusandang itu. Aku juga membayangkan majalah Korea milik mereka yang hampir setiap edisi menampilkan girlband yang cantiknya terlalu sempurna untuk ukuran manusia. Sebut saja SNSD, After School, T-Ara, Fx, Miss A dan masih banyak lagi yang tidak bisa kusebutkan saking banyaknya. Dan sekarang yang sedang disukai oleh kaum adam termasuk adik bungsuku adalah JKT48. Fiewh, sepertinya negara ini sukses mengeksploitasi tubuh-tubuh cantik wanita.

Aku memutar badanku. Lalu bergumam.

“Cantik darimananya sih? Muka biasa aja. Tinggi cuma segini, langsing gak. Putih mulus juga gak segitunya. Biasa aja. Apanya yang cantik coba?”

***

Aku dikagetkan oleh suara pintu kamarku yang dibuka dengan cukup keras. Masih dengan keadaan mematung di depan cermin.

“Egyyyyyyy!!! Bisa gak sih ketuk pintu dulu?,” kataku kesal. Adikku yang satu ini sangat suka seenaknya sendiri.

“Hehe, sorry Kak. Egy ulang lagi ya?,” dia lalu keluar dan menutup pintu lalu mengetuknya.

“Udah telat. Ada apa? Mau minta apa lagi?,” kataku padanya.

“Idiieeh, jutek banget sih Kakak ini. Udah bagus namanya Cantik, tapi jutek. Ntar susah jodoh lho. Contoh tuh Kak Farah. Udah cantik, baik, sholehah pula. Pantes aja Kak Ezy jatuh cinta. Lha, Kak Cantik juteknya minta ampun,” katanya dengan ekspresinya yang menurutku sangat menyebalkan. Kalau saja dia bukan adikku, sudah kutendang dia dari rumah.

“Berisik. Cepat, ngomong. Mau ngapain? Kakak lagi sibuk, kalau mau minta bantuin ngerjain PR, minta bantu sama Kak Elang aja,” balasku ketus.

Wajahnya langsung berubah.

“Ah, Kakak gak asik! Kak Elang lagi keluar. Kan Egy gak mungkin minta tolong sama Kak Ezy,” kata Egy.

“Manja banget sih kamu. Anak cowok itu gak boleh manja. Besok-besok PRnya dikerjain sendiri. Kalo udah bener-bener gak bisa baru minta tolong,” kataku lagi.

“Oke deh Kakak. Kalo gitu, Kakak jadi cantik kayak Princess,” kata Egy.

“Tapi gak mungkin bisa ngalahin JKT48 kan?,” sindirku.

“Hehe, tau aja,” Egy tersenyum malu.

“Huuu, dasar!,” aku lalu melemparnya dengan bantal.

“Oya, Kakak tadi ngapain ngelamun di depan cermin? Mau tanyain siapa cewek tercantik di jagad raya?,” Egy mulai lagi.

“Heh, mau dibantuin gak PRnya? Kalau mau dibantuin jangan berisik!,” ancamku padanya sambil menyembunyikan rasa malu karena ketahuan adikku yang satu itu.

***

Rumahku bisa dibilang cukup ramai. Semua saudaraku laki-laki. Kakakku yang pertama baru saja menikah. Dan Kakakku yang kedua berada dua tahun di atasku. Menurutku, dua Kakakku itu aneh. Kak Ezy, Kakakku yang pertama menikah dengan cara yang menurutku sangat tidak masuk akal. Orang-orang kebanyakan pasti punya pacar sebelum menikah. Tapi, Kak Ezy tidak melakukan itu. Katanya, “Ngapain pacaran kalo gak serius ke arah pernikahan?” Dan benar, sekali ketemu sama Kak Farah, istrinya, langsung dilamar dan menikah. Waktu itu Ayah dan Bunda sedikit shock dengan keputusan Kak Ezy.  Menurut mereka, Kak Ezy terlalu terburu-buru. Tapi, bukan Kak Ezy kalau tidak bisa bernegosiasi. Ditambah lagi ada Kak Elang. Aku dan Egy hanya bisa menjadi penonton terbaik saat ada debat terbuka di rumah. Dan akhirnya sekarang semua baik-baik saja. Kak Ezy berhasil membuktikan kalau dia tidak salah memilih pendamping hidup. Kak Farah begitu cantik, anggun dan penyayang. Kecantikannya bukan karena fisiknya. Aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat Kak Farah. Sepertinya karena pakaian yang dipakainya. Atau entahlah, aku juga tidak begitu mengerti. Dan Kak Elang, Kakakku yang satu lagi yang menurutku jauh lebih aneh. Aku masih ingat bagaimana nakalnya ia saat SMA. Dan semua berubah drastis di tahun keduanya di universitas. Sekarang, ia makin aneh menurutku. Apalagi aku juga kuliah di universitas yang sama dengan dia. Tapi, Bunda justru mendukung. Bunda malah ingin Egy juga bisa seperti Kak Elang. Yang paling seru, kalau Ayah ada di rumah. Pasti Ayah dan Kak Elang akan diskusi panjang tentang politik, mulai dari dalam negeri sampai luar negeri. Mulai dari korupsi Hambalang, sampai Arab Spring. Seperti acara Indonesian Lawyer Club. Jika Ayah masih mengatakan Demokrasi sistem terbaik, beda lagi dengan Kak Elang. Kak Elang justru mengatakan Islamlah sistem terbaik. Islam bukan sekedar agama tetapi juga seperangkat aturan kehidupan yang harus diterapkan dalam bentuk negara. Sayang sekali, Ayah jarang di rumah. Dan adikku, Egy masih duduk di bangku SMA. Dia akan selalu sukses membuatku menjadi monster karena kejahilannya.

***

Malam ini gerah sekali. Aku melihat tempat air minum di atas mejaku. Sudah habis. Dengan langkah malas, aku bangun  dari tempat tidur dan keluar kamar untuk mengambil air. Dari kamar mandi terdengar gemericik air. Dan aku sudah tahu, itu pasti Kak Elang. Kak Elang rajin sekali bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Aku sering dibangunkan olehnya, begitu pula dengan adikku.

“Tumben udah bangun. Biasanya susah banget dibangunin,” kata Kak Elang.

“Gerah banget, Kak. Jadinya pengen minum,” jawabku.

“Adek, kapan mau pake jilbab?,” tanya Kak Elang kemudian.

“Eh? Pake jilbab? Maksud Kakak? Adek kan udah pake kalo keluar rumah,” jawabku.

“Itu bukan jilbab, Dek. Itu kerudung. Jilbab itu bajunya, baju terusan atau gamis,” kata Kak Elang.

“Kayak yang dipake Kak Farah itu ya Kak?,” tanyaku.

“Iya. Coba aja buka terjemahan Al Qur’an. Ayat tentang jilbab sama kerudung itu beda lho dek. Kakak gak mau Adek berdosa,” kata Kak Elang.

“Iya, Kak. Adek usahakan. Tapi, gak janji ya bisa secepatnya,” balasku.

Ia terdiam sejenak.

“Egy belum dibangunin ya?,” tanyanya kemudian.

“Belum,” jawabku.

“Ya udah, cepat wudhu sana, biar Kakak yang bangunin dia,” kata Kak Elang. Ia lalu pergi ke kamar Egy.

Aku melihat punggungnya dari jauh. Dari dulu Kak Elang selalu berusaha melindungiku. Senakal-nakalnya dia, hampir tidak pernah dia bersikap kasar padaku. Hanya sekali ia memarahiku. Waktu itu, aku duduk di kelas XII SMA. Di sekolah ada pentas seni dan waktu itu aku pulang malam dan diantarkan oleh teman sekelasku yang laki-laki. Dia tidak pernah semarah itu padaku.

“Adek itu anak perempuan. Ini sudah jam berapa? Kenapa jam segini baru pulang? Dianter cowok lagi. Kakak sudah bilang, jangan ikut acara itu. Di sana itu semua maksiat. Kamu mau ikutan masuk neraka, hah? Kamu pikir pantas anak perempuan berkerudung, pulang malam diantar cowok meskipun hanya teman sekelas? Kakak gak mau lihat kamu ikut acara kayak gitu lagi apapun alasannya!,” Malam itu aku langsung mengunci pintu kamarku dan menangis semalaman.

Besoknya, sebuah kotak diletakkan di depan pintu kamarku. Di dalamnya ada kertas kecil.

Dek, Kakak minta maaf ya. Semalam Kakak bener-bener emosi. Kakak khawatir banget makanya Kakak marah. Ini sebagai permintaan maaf Kakak. Kak Elang

Di dalamnya ada gamis berwarna biru muda. Cantik sekali. Tapi, tidak langsung kupakai. Aku malah menghampirinya dan bertanya.

“Kak, ini maksudnya apa?,” tanyaku padanya.

“Itu buat Adek. Itu jilbab. Seorang Muslimah seharusnya menutup auratnya dengan jilbab dan kerudung. Pasti Adek tambah cantik deh,” jawabnya sambil tersenyum.

“Adek gak butuh, Kak,” kataku.

“Simpan aja, Dek. Siapa tahu suatu saat bakal dipakai,” balasnya.

Akhirnya, gamis itu kusimpan. Sampai saat ini masih ada di lemariku. Dan aku tidak pernah berniat untuk menyentuhnya. Sekarang sikap Kak Elang semakin lembut dan berwibawa. Ia juga semakin sabar apalagi menghadapi tingkah Egy yang bandel. Kegiatannya di luar tidak pernah menjadi alasan untuk tidak memerhatikan kami di rumah. Bunda sangat mengandalkan Kak Elang. Ayah pun begitu. Apalagi sekarang Kak Ezy sudah tidak tinggal di rumah. Kak Ezy biasanya hanya mampir. Aku pun belum terlalu dekat dengan Kak Farah karena jarang bertemu. Meskipun Kak Farah cukup sering ke rumah, karena aku yang jarang ada di rumah, akhirnya kami jarang bertemu.

“Dek, ngapain masih di sini? Udah wudhu belum? Kok malah ngelamun?,” pertanyaan Kak Elang membuyarkan lamunanku.

“Eh, iya Kak,” aku buru-buru ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu ikut sholat bersama Kak Elang, Egy dan Bunda.

***

Handphoneku bergetar. Ada SMS masuk. Nomornya tidak kukenal.

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Apa bener ini nomernya dek Cantik?

Lalu aku membalasnya.

Wa’alaikumsalam. Iya, saya Cantik. Maaf, ini dengan siapa?”

Beberapa saat kemudian, ada balasan lagi.

Saya Vania, dek. Teman SMAnya Elang. Saya dapat nomor Cantik dari Elang. Kebetulan saya juga jurusan Komunikasi. Salam kenal 🙂 

Aku sedikit kaget.

“Hah? Temannya Kak Elang? Tumben ada yang SMS. Teman SMA pula. Bukannya sekarang Kak Elang udah tobat jadi playboy? Kok masih ada cewek yang pedekate? Lewat gue lagi,” batinku.

Kemudian kubalas.

Salam kenal juga, Kak 🙂 

Ia lalu membalas lagi.

Kapan-kapan ketemuan di kampus yuk, Dek. Mungkin bisa ngobrol-ngobrol lebih jauh biar lebih akrab 🙂

Dengan ragu-ragu aku membalas.

Iya, insya Allah Kak, kalo Cantik lagi gak sibuk.

Orang yang bernama Vania itu kemudian membalas lagi.

Iya dek. Kapan aja Cantik bisa. Kakak ngikut aja 🙂 

Akhirnya, muncul lagi satu orang yang membuatku sedikit shock. Dia begitu ramah. Padahal, ketemu juga belum. Apa dia serius suka sama Kak Elang? Ah, orang ini benar-benar membuatku penasaran. Malamnya aku bertanya pada Kak Elang.

“Kak, kak Vania itu siapa? Mantan Kakak ya?,” tanyaku pada Kak Elang yang sedang membaca buku di ruang keluarga.

“Hah? Apa dek? Maaf, tadi Kakak lagi serius bacanya jadi gak denger,” tanya Kak Elang.

“Iih, Kakak nih. Tadi Adek nanya, kak Vania itu siapa? Mantan Kakak ya?,” aku mengulang pertanyaanku.

“Bukan, Dek. Kenapa Adek ngiranya gitu? Ah, Kakak kayaknya belum bilang ke Adek soal Vania,” kata Kak Elang.

“Emang ada apa dengan kak Vania? Jangan bilang Kakak mau nikah sama kakak itu,” kataku agak menuduh.

“Eh, denger dulu napa? Gini Dek, dulu sebelum Adek masuk universitas, Kakak pernah nyaranin Adek untuk ngaji kan? Nah, Vania itu teman SMA Kakak yang kebetulan anak Rohis di fakultas Adek. Waktu Adek keterima di jurusan komunikasi, Kakak ngasih nomor hp Adek ke Vania. Kebetulan jurusannya sama dengan Adek. Dan Kakak lupa bilang ke Adek. Baru dihubungi Vania ya?,” kata Kak Elang.

“Oooo, gitu. Iya, Kak. Tadi siang kak Vania SMS,” kataku.

“Udah janjian ketemuan?”

“Belum. Adek belum ngasih kepastian kapan. Tapi, Kakaknya bilang kapan aja Adek bisa hubungin beliau aja, gitu katanya”.

“Alhamdulillah deh kalo gitu”.

“Kak, kenapa sih Kakak ngebet banget biar Adek ngaji dan ikutan Rohis? Biar Adek kayak kak Farah ya? Anak-anaknya lho gitu semua. Lagian, Adek gak mau jadi yang aneh-aneh. Ntar kalo gabung di Rohis disuruh macam-macam, banyak larangannya pula,” kataku protes.

“Aneh-aneh maksudnya gimana, Dek?,” tanya Kak Elang.

“Ya, gitu Kak. Terlalu ekstrim. Dikit-dikit gak boleh. Kayaknya semuanya gak boleh. Lebay banget tau, Kak”.

“Adek mau tau kenapa Kakak pengen Adek ngaji dan ikutan Rohis?,” tanya Kak Elang.

“Kenapa?”

“Karena Kakak sayang sama Adek. Dan Kakak gak mau Adek perempuan Kakak satu-satunya masuk neraka karena gak taat sama Allah. Kakak gak ngelarang Adek ikutan Lembaga Pers. Kalo emang Adek senang jurnalistik gak apa-apa. Tapi, jangan lupa Dek, hidup kita gak cuma di dunia aja. Setelah dunia ini kita akan mati dan kita gak tau kapan kita mati. Singkatnya, kita bisa mati kapan saja. Setelah itu, kita akan dibangkitkan lagi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita di dunia kemudian kita bakalan menuju tempat abadi, yakni di akhirat. Tapi, ingat, akhirat itu ada dua, surga dan neraka. Tinggal milih mau masuk mana. Adek mau masuk surga kan?”

“Iya, pastilah Kak. Siapa orang yang gak mau masuk surga?”

“Tapi, surga itu bukan untuk sembarang orang, Dek. Surga itu hanya untuk orang-orang spesial. Orang-orang yang bener-bener mau masuk surga pasti bakalan milih jalan yang akan mengantarkan dia menuju surga, bukan sebaliknya. Dan hanya Islam saja yang akan mengantarkan kita menuju surga. Islam punya aturan. Nah, kalo kita gak tau Islam itu seperti apa, gimana caranya kita mau masuk surga? Makanya, harus belajar Islam dari A-Z. Karena Islam itu gak hanya sekedar sholat, puasa, zakat, haji. Islam itu ideologi, Dek. Islam itu jalan hidup. Aturan Islam gak hanya ibadah ritual aja, tapi juga sampai masalah politik dan bernegara,” jelas Kak Elang.

Aku hanya diam. Aku tidak bisa membalas argumen Kak Elang karena aku memang sudah tidak punya alasan lagi. Selama ini aku menghindar setiap kali Kak Elang menyuruhku untuk mengkaji Islam. Aku selalu saja punya banyak alasan untuk mengatakan bahwa aku tidak bisa. Aku lebih senang dengan kegiatan di lembaga pers fakultasku yang menurutku lebih bebas dan fun. Tidak ada aturan mengikat seperti Rohis. Tapi, benar juga kata Kak Elang. Hidup ini singkat. Manusia sama sekali tidak akan tahu kapan mereka akan kembali kepada Zat Yang Menciptakan mereka. Manusia bisa mati kapan saja. Beruntung jika matinya khusnul khatimah, tapi jika sebaliknya?

Aku lalu berpikir ulang. Mungkin saran Kak Elang tidak terlalu buruk. Setidaknya aku sudah mencoba. Daripada tidak sama sekali. Toh cuma ikutan pengajian. Dan itu pun gak setiap hari. Hitung-hitung mengumpulkan amal kebaikan untuk persiapan di akhirat kelak.

***

Sore itu seisi rumah tampak heran dengan penampilanku. Ya, memang aku berpenampilan tidak biasa. Biasanya aku memakai jeans. Hari ini aku memakai rok dan blues. Pemandangan yang luar biasa.

“Wah, anak Bunda cantik banget. Mau kemana?,” tanya Bunda.

“Kak Cantik mau ngedate ya?,” timpal Egy.

“Kencan? Sembarangan aja!,” hardikku.

“Trus, Adek mau kemana?,” tanya Kak Elang kemudian.

“Mau ke kampus, Kak. Ada kajian,” jawabku sambil tersenyum.

“Oh, gitu. Mau Kakak anter?,” tanya Kak Elang.

“Adek dijemput kok, Kak”

“Siapa yang jemput? Cewek kan?”

“Ya kali cowok, Kak. Orang kajiannya buat cewek-cewek doang kok. Adek dijemput kak Vania. Bentar lagi orangnya nyampe”

“Oh, ya udah. Hati-hati, Dek” kata Kak Elang. Hari itu sepertinya Kak Elang yang terlihat paling bahagia.

Aku lalu bergegas keluar. Di depan pagar sudah ada kak Vania yang menungguku. Ia naik motor matic dan ternyata pakaiannya seperti yang dikasih Kak Elang ke aku alias gamis.

“Dek Cantik ya?”, tanyanya ramah.

“Iya, Kak”, jawabku sambil tersenyum.

“Vania”, ia lalu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku pun membalas uluran tangannya.

Kami lalu berangkat menuju kampus. Ternyata di sana tidak hanya kami berdua tetapi ada beberapa peserta lain dan rata-rata semua pakai gamis. Aku merasa canggung sendiri. Kemudian beberapa orang datang menyambut dan menyalamiku.  Mereka semua teman-teman pengajian kak Vania.

“Namanya siapa, Dek?”, tanya salah seorang teman kak Vania.

“Cantik, Kak”, jawabku singkat.

“Wah, namanya bagus. Cocok banget sama tema kajian hari ini”, jawabnya.

“Emang temanya apa, Kak?”, tanyaku.

“Cantik; Antara Mitos dan Realita”, jawabnya. Aku pun langsung tersenyum.

Kajian hari ini benar-benar berbeda dengan kajian yang biasanya. Jika biasanya orang-orang hanya menggambarkan Islam sebagai agama spiritual, di kajian ini Islam benar-benar ditunjukkan dengan gambaran yang berbeda. Kak Elang benar, Islam bukan hanya sekedar agama tetapi juga jalan hidup. Makanya, Islam tidak hanya mengatur tentang ibadah ritual, tetapi juga bermasyarakat dan bernegara. Realita perempuan saat ini dimana mereka semua ingin tampil cantik sesuai trend bahkan muslimah sendiri pun seperti itu karena ternyata ada sebuah sistem lain yang kemudian meracuni pikiran mereka saat ini. Dan karena sistem itulah perempuan berlomba untuk cantik tetapi lupa akan kewajiban mereka sebagai wanita. Hingga akhirnya dibuatlah kontes-kontes kecantikan seperti Miss World ataupun Miss Universe padahal sejatinya kontes-kontes kecantikan itu hanyalah alat untuk menghinakan perempuan. Sungguh berbeda dengan Islam. Sayangnya, hari ini Islam tidak diterapkan dalam bentuk Negara sehingga para muslimah seringkali ternodai kehormatannya. Akhirnya, terjawab sudah keraguanku selama ini. Dan mulai minggu depan, aku akan mulai mengkaji Islam lebih intensif bersama kak Vania.

***

Aku mengetuk pintu kamar Kak Elang.

“Siapa?”, tanya Kak Elang.

“Cantik”

“Masuk”, kata Kak Elang dari dalam.

“Lagi sibuk, Kak?”

“Ada apa, Dek?”

“Gak, Kak. Adek Cuma mau bilang makasih ke Kakak”

“Makasih? Dalam rangka?”

“Karena Kakak udah sayang banget sama Adek. Dan makasih juga karena hari ini Adek akhirnya mengerti tentang makna nama Adek”

“Serius, Dek?”, Kak Elang tersenyum.

“Emang Adek ada tampang becanda? Ah, Kakak nih”

“Yah gitu aja ngambek. Iya, sama-sama, Dek”

“Adek gak akan protes lagi sama Bunda. Dan Adek juga gak akan ngeliatin artis-artis yang katanya cantik tapi Cuma fisik doang. Karena Allah gak pernah melihat fisik tapi melihat ketakwaan”

“Wah, udah pinter nih adeknya Kak Elang”

“Iya, dong. Kan Adek udah ngaji”

“Sip. Sekarang tantangannya adalah bagaimana menjaga keistiqomahan. Kakak tunggu perubahannya”

“Siap, Kak!,” kataku sambil meniru gaya orang hormat bendera.

***

“Kaaaakk!” teriakku dari tangga. Aku bergegas cepat-cepat menuruni tangga dengan kaos kaki yang masih kutenteng bersama tasku.

Hari ini ada Long March Tolak Miss World 2013. Kemarin kak Vania memberitahu acara ini padaku. Malamnya ingin kuberitahukan pada Kak Elang, tapi karena Kak Elang pulang larut malam, akhirnya aku tidak sempat memberitahunya.

“Kenapa, Dek?”

“Kakak mau ikut Long March Tolak Miss World kan?”

“Iya, kok tau dek?”

“Adek ikut”

“Gak dijemput Vania lagi?”

“Ehem, nyariin?”

“Gak gitu. Adek Jealous ya?”

“Idieh, siapaaa juga? Kemarin tuh diajakin bareng sama kak Vania tapi Adek bilang kalo Adek bareng Kakak aja. Tapi, Kakak sih. Semalam pulangnya lama banget. Adek tungguin sampe ketiduran, tau”

“Nungguin Kakak? Tumben”

“Iya, mau bilang biar bareng gitu ke acaranya”

“Kakak gak tau. Kenapa gak SMS atau telfon?”

“Emang Kakak bales? Kakak tuh susah kalo disuruh bales SMS”

Kak Elang tersenyum sambil mengelus kepalaku.

“Akhirnya jilbabnya dipake juga”

“Doain semoga istqomah. Insya Allah mau dipake terus”

“Sip. Barang-barangnya udah semua nih?”

“Iya, tinggal kaos kaki”

“Ya udah, Kakak tunggu di depan ya”

“Oke, Kak”

Akhirnya aku pun berangkat bersama Kak Elang. Aku berpikir andai saja Bunda dan kak Farah juga ikut. Tapi, lain kali akan ku ajak kak Farah dan Bunda. Agar semua bisa paham Islam dan menjadikan Islam sebagai solusi dalam kehidupan. Terima kasih ya Allah, telah Engkau bukakan hati ini untuk menjemput hidayahMu. Terima kasih untuk Ayah dan Bunda yang sudah memberiku nama yang indah. Terima kasih Kak Elang yang selalu sabar menghadapiku dan terima kasih Kak Vania yang mau mengajariku bagaimana menjadi seorang Muslimah kaffah.

-SELESAI-

Malang, 23 Oktober 2013. 17:03 WIB.

Ini adalah cerpen yang saya buat pas saya lagi mood bikin cerpen. Setelah sekian lama saya tidak nulis fiksi dan berkecimpung di dunia mengarang bebas*huehe* dan kebetulan waktu itu lagi heboh-hebohnya Penolakan terhadap ajang Miss World 😀

Cerita ini asli fiksi. Special for Amirah Puspadewi yang udah pernah sy kasih draftnya dan Nurintan Sri Utami yang pernah saya janjiin baca cerpen buatan saya 😀

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s