I Miss You…

Mungkin yang sudah biasa baca tulisan saya yang super kaku, kadang gak jelas dan agak maksa, pasti bakalan bertanya-tanya. Ada apa saya tiba-tiba nulis judul super lebay ya? Haha, gak ada apa-apa kok. Mungkin cuma judulnya aja yang lebay. Tapi, isinya tetap sama 😀

Dan ada yang perlu saya tegaskan bahwa saya membahas ini bukan karena asshobiyah (fanatisme buta terhadap suatu kelompok, partai dsb), bukan juga riya’ atas status saya sekarang atau niatan jelek lainnya. Ini semata karena saya pengen nulis dan berharap ada manfaat ketika orang membacanya. Karena ini adalah warisan saya kalo besok-besok saya dipanggil Allah *maklum, saya kere haha :D*

Siapa sekarang orang yang saya rindukan? Yang pasti bukan jodoh *eh Jujur, kalo ditanya soal siapa yang sedang saya rindukan, ya pasti orang-orang terdekat yang sekarang jauh di mata saya karena saya sedang dalam perantauan. Tapi, saya masih bisa berkomunikasi dengan mereka. Namun, ada satu orang yang saya aja gak yakin kelak bisa bertemu lagi dengan beliau. Dan sebenarnya saya belum bertemu dengan beliau. Saya hanya mendengar cerita beliau lewat kitab suci yang saya baca tiap hari, sirah (sejarah) perjalanan hidupnya dan kitab yang sekarang sedang saya kaji. Hanya dari sedikit informasi itu saja. Namun, kecintaan saya justru bertambah. Pun dengan kerinduan saya kepada beliau. Apalagi tadi pas bahas kitab Daulah Islam karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani. Di bab awal menjelaskan tentang dakwah Rasulullah di Mekkah. Dari sana saya kembali mengumpulkan referensi pendukung agar gambaran dakwah beliau tergambar jelas di benak saya sehingga cinta dan rindu itu bisa selalu terpupuk untuk beliau.

Muhammad SAW (peace be upon him) adalah orang yang saya rindukan. Tiada henti air mata ini menetes saat mengingat beliau. Dulu semasa sekolah saya adalah orang yang sangat bersemangat saat pelajaran agama membahas sejarah Rasulullah SAW, dakwah dan futuhat yang beliau lakukan. Semuanya. Namun, waktu itu saya belum paham bahwa beliau melakukannya di bawah naungan sebuah Negara yang belakangan saya ketahui bernama Khilafah dan karena alasan itu pula saya ikut berusaha agar Khilafah tegak kembali seperti masa Khulafaur Rasyidin dulu.

Rasulullah SAW diutus untuk menyampaikan risalah Islam yang telah Allah sempurnakan untuk seluruh umat manusia dan melanjutkan tugas Rasul sebelumnya. Rasulullah SAW juga adalah Rasul terakhir dari seluruh Nabi dan Rasul. Tidak ada Rasul lagi setelah beliau. Begitu beliau bersabda. Dan Al Qur’an pun sudah mengatakan hal tersebut.

Di awal dakwahnya, Rasulullah menyeru orang-orang terdekatnya dan siapa saja orang yang beliau temui untuk beliau ajak kepada Islam. Setelah itu beliau kemudian membina mereka dengan tsaqofah Islam langsung dari wahyu yang Allah turunkan lewat malaikat Jibril. Yang namanya kebenaran pasti gak sepi dari ujian. Saat itulah mulai datang ejekan dari kaum Quraisy yang juga merupakan suku Rasulullah. Tetapi, Rasulullah tidak terpengaruh sedikitpun. Beliau tetap berdakwah. Hingga saat Allah memerintahkan beliau untuk memperlihatkan dakwahnya. Disitulah Rasulullah mulai menampakkan secara terang-terangan dakwah beliau. Bahwa beliau tidak hanya main-main dengan perkataan beliau. Dari sanalah para pembesar Quraisy mulai merasa terancam dengan dakwah Rasulullah. Karena ternyata Rasulullah memiliki kelompok dakwah. Dan kelompok itu adalah sebuah partai politik. Itulah yang membuat para pembesar Quraisy takut. Mereka takut kekuasaan mereka diambil alih oleh seorang pemuda bernama Muhammad dengan agama dan kelompok barunya. Mereka takut apa yang sudah mereka lakukan turun-temurun akan berganti dan mereka akan kalah pamor dari apa yang dibawa Rasulullah SAW.

Dari situlah dimulai penawaran-penawaran seputar dunia kepada Rasulullah, yakni harta, tahta dan wanita. Namun, Rasulullah SAW tidak bergeming. Bahkan dengan tegas beliau berkata kepada Abu Thalib, pamannya.

“Wahai Pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan perkara (dakwah) ini atau aku binasa karenanya”  *kalo ingat ini pasti langsung nangis*

Sebuah ketegasan luar biasa dari seorang pemuda pilihan Tuhan Semesta Alam. Dan semakin lama saya semakin kagum kepada beliau. Nah, karena penawaran demi penawaran sudah dilakukan termasuk melalui paman beliau, Rasulullah sama sekali tidak tertarik. Mulailah orang-orang Quraisy melakukan strategi lain. Dan strategi utama mereka ada 3, yang bahkan sampai sekarang pun masih digunakan oleh orang-orang kafir (laknatullah alaih).

Pertama adalah penyiksaan. Orang-orang Quraisy menyiksa Rasulullah dan para sahabatnya dengan beranggapan bahwa dengan menyiksa mereka justru akan membuat mereka berpaling dari agamanya dan kembali kepada agama nenek moyang mereka. Namun, subhanallah pembinaan yang dilakukan Rasulullah. Kader-kader dakwah beliau tumbuh menjadi orang-orang sekuat baja. Mereka sudah melihat surga bahkan ketika melihat tombak orang kafir ada di depan mata mereka. Tidak ada hasil dari penyiksaan ini kecuali bertambahnya keteguhan, keimanan dan keistiqomahan Rasulullah dan para shahabat.

Karena tidak berhasil, orang-orang Quraisy kemudian mencoba strategi yang kedua, yakni propaganda. Ini dilakukan untuk menghembuskan opini miring yang memusuhi Rasulullah, Islam dan kaum Muslimin. Ini dilakukan agar penganut Islam tidak bertambah. Mereka menuduh Rasulullah SAW sebagai penyihir kata-kata. Mereka pun menyebarkan hal tersebut ke seluruh jazirah, apalagi pada saat musim haji. Dan ketika para shahabat hijrah ke Habsyah, orang-orang Quraisy mengirimkan utusan yakni Amru bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah untuk memprovokasi Raja Najasyi agar mengembalikan kaum Muslimin ke Mekkah. Namun, dengan kejujuran dan kecerdasan Ja’far bin Abi Thalib, dua utusan orang Quraisy itulah yang akhirnya pergi dari Habsyah.

Dan ketiga adalah pemboikotan melalui perjanjian tertulis. Orang-orang Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib selama 3 tahun secara total. Di sinilah kekuatan iman kaum Muslimin kembali teruji. Mereka dilanda kelaparan, kekurangan dan dunia seolah sempit. Di sinilah Rasulullah mengatakan, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amatlah dekat. Di tengah-tengah pemboikotan Rasulullah selalu memotivasi para shahabat dengan hikmah yang luar biasa. Beliau pun tidak berhenti berdakwah kepada orang-orang yang beliau temui saat bulan-bulan Haram. Hingga akhirnya pertolongan Allah datang kepada beliau dan pemboikotan selama 3 tahun itu pun berakhir.

Nah, kalo belajar dari perjalanan dakwah Rasulullah tadi banyak pelajaran yang bisa diambil dan bagi saya beliau adalah teladan dakwah yang paling perfect. Bagaimana ketangguhan beliau dan bagaimana beliau membina para shahabatnya sehingga menjadi orang-orang yang seolah bukan manusia biasa. Itulah Rasulullah. Dan perjuangan beliau pun berbuah manis ketika suku Auz dan Khazraj datang pada musim Haji. Karena dengan baiat dari dua suku tersebut, berdirilah Daulah Islam yang pertama di Madinah.

Saat ini dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah tidaklah beda dengan Rasulullah dulu. Tantangannya pun sama. Penyiksaan, seperti di timur tengah dan Negara-negara pecahan Rusia. Kemudian propaganda, seperti di seluruh dunia saat ini. Kemudian disusupkan pula berbagai macam kesesatan pemikiran dan adu domba antarkaum Muslimin. Itulah bentuk propaganda busuk dan adu domba jahat orang-orang kafir yang tidak menginginkan Khilafah tegak kembali. Namun, ada yang berbeda. Saat ini kaum Muslimin tidak lagi didampingi Rasulullah.

Kadang saya sedih juga melihat kaum Muslimin berseteru dimana-mana. Tanpa seorang pemimpin yang menyatukan, kita hanya seperti buih di lautan. Namun, saya tidak mau menyalahkan keadaan karena saya lahir di akhir zaman. Justru karena saya lahir di akhir zaman inilah yang membuat Rasulullah sungguh bangga pada saya dan pada kaum Muslimin yang berpegang teguh pada Islam layaknya menggenggam bara api. Di saat Rasulullah sudah tidak ada, mereka melanjutkan perjuangan beliau. Dengan apa yang Rasulullah wariskan, yakni tsaqofah Islam, mereka bertahan. Hanya dengan mabda’ (ideology) Islam mereka bertahan. Mereka tidak hanya menerangi hidup mereka dengan mabda’ itu tetapi mereka menerangi jagad raya dengan mabda’ tersebut. Dan karena itulah Rasulullah sangat bangga pada mereka. Hingga mereka digelari sebagai Kaum dari Cahaya oleh beliau karena orang-orang tersebut yang nantinya berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat para shahabat dan para syuhada iri dengan kemilau cahaya mereka.

Rasulullah, how I miss you so much. Thanks for everything you’ve done for us, your followers. Now, I understand why you’ve so proud of us. Hope I can meet you in life after, aamiin.

Image

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Khairunnisa, February 12th 2014. 08:11 PM. Sebelum memulai kerja sampingan.

Backsound : Starlit Night

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s