Say NO

               Saya jadi keinget pas survey tempat buat Mabit bulan lalu. Sebuah kota yang indah di atas gunung. Pas lewat di tempat-tempat yang memang banyak sekolah, selalu ada tulisan kampanye Anti Narkoba. Banyak slogan-slogan yang kemudian menghiasi poster-poster tersebut. Yah, yang anak muda banget-lah. Contohnya, “Keep Calm and Say No to Drugs” dan semacamnya. Kalo di kampus saya sih banyakan slogan-slogan say No untuk korupsi, nyontek dan sebagainya.

                Saya juga gak tau sejak kapan slogan yang pake kata “Say No” itu mulai bertebaran. Nah, yang paling santer beberapa waktu ini adalah Valentine Day. Yup, hari Valentine atau Hari Kasih Sayang ini udah jadi unofficial special day di Indonesia Raya. Kenapa? Karena pada faktanya negeri ini merayakan. Oya? Iya dong. Coklat marak, bunga laku keras, dan satu lagi bro. Kondom *yang ini saya gak bohong. Suer dah*

                Balik lagi nih soal “Say No”.  Kalo menurut saya sih, ini sebagai bentuk penolakan. Ya iya, soalnya emang orang-orang udah gerah dengan banyaknya kejahatan dan masalah yang ada. Kalo remaja sih emang Narkoba dan Free Sex. Tapi, kalo dilihat-lihat, menjamurnya free sex dan narkoba itu bukan sesuatu yang ujuk-ujuk ada. Dengan bim salabim tiba-tiba generasi muda udah gandrung dengan begituan. Kalo yang masih waras sih pasti gak mau.

                Saat ini kita emang gak bisa menutup mata dengan serangan yang sebenarnya gak kasat mata. Waduh, susah banget bahasanya. Maksud saya, saat ini di sekitar kita khususnya anak-anak muda tengah menjamur berbagai serangan pemikiran yang justru mencoba menghancurkan masa depan mereka. Tapi, karena ngikut trend, mereka justru nganggap kalo itu semua bagus dan bikin mereka tambah kece. Maklumlah, masa muda adalah masa yang paling berapi-api kalo kata Bang Haji. Masa muda adalah masa-masa mencari jati diri. Namun, pihak yang kemudian bertanggung jawab justru malah lepas tanggung jawab. Lingkungan dan terlebih Negara.

                Keluarga yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru gak ada. Orang tua sibuk kerja, di rumah yang ada Cuma tivi. Tayangannya? Jangan ditanya. Isinya hampir semua sampah. Belum lagi mewabahnya sosmed dan internet. Situs porno setiap saat bisa diakses. Dan prakteknya sama siapa lagi kalo bukan pacar? Kapan? Ya, pas Valentine Day. Buat apa? Nunjukkin cinta dong. Apalagi? Itu dilakukan gak Cuma yang udah tua kayak saya *eh maksudnya udah dewasa, tapi yang masih belasan juga udah berani kayak gitu. Rokok? Jangan ditanya. Sekarang, anak SD juga udah banyak yang ngerokok. Mabok? 11-12 deh.

                Makanya saya langsung miris. Bagaimana mungkin generasi muda bisa dilindungi dan menjadi harapan bangsa di masa depan kalo ternyata dan keluarga, lingkungan sekitar dan Negara gak bisa menjaga mereka? Saya bersyukur, di usia saya yang masih muda, saya bisa menemukan jawaban dari pertanyaan saya berkat orang-orang yang saya temui. Tapi, kalo dulu saya ketemunya sama orang-orang gak bener? Gak tau deh bakalan jadi apa hidup saya sekarang. Memang, hidup itu pilihan. Tetapi, bukan berarti kita berlepas tangan untuk bisa menunjukkan pilihan hidup yang benar untuk orang lain. Karena bisa jadi mereka belum tau jalan mana yang akan mereka pilih.

                Kalo kita mau nyari biang kerok emang gak cukup hanya menyalahkan orang per orang. Kenapa? Karena ternyata orang seperti saya sebutin di atas itu udah banyak banget. Maka sebenarnya ini udah sistemik masalahnya. Ada yang salah dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dan faktanya emang begitu. Saat ini yang mengatur kehidupan adalah sistem Demokrasi-Kapitalis. Sistem yang matre dan menghalalkan segala cara hanya untuk kepuasan jasmani. Negara mana peduli sama generasinya? Mereka kan juga nyari duit di sini. So, berlakulah hukum rimba. Kalo loe lemah, siap-siap aja bakal ditendang dari arena survival. Dan inilah yang terjadi hari ini.

                Lalu, bagaimana solusinya? Kembalilah pada solusi yang memang sudah khusus dibuat untuk manusia. Dan yang buat adalah Pencipta manusia, Allah SWT. Sejatinya, Allah sudah membuat aturan untuk manusia. Sayangnya, manusia justru mengabaikannya dan sok hebat dengan membuat hukum sendiri. Akhirnya, ya mereka juga yang hancur.

                Di dalam Islam, Negara berkewajiban mengurusi urusan rakyatnya. Negara menjaga rakyatnya. Apalagi generasi yang akan menjadi penerus peradaban. Islam mengatur dari A-Z. Dari individu sampai Negara. Negara (Khilafah) gak akan sembarangan membebaskan rakyatnya untuk berbuat sesukanya. Gak kayak sekarang.

                Islam punya sistem ekonomi yang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar manusia. Islam punya sistem politik yang akan menentukan kebijakan yang selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan manusia. Islam punya sistem pergaulan yang membatasi lingkup pergaulan pria dan wanita hanya pada pernikahan dan mengatur interaksi mereka dalam kehidupan sosial. Islam punya sistem sanksi untuk mereka yang melanggar, seperti potong tangan untuk pencuri, cambuk dan rajam untuk yang berzina, hukuman mati untuk yang murtad, dsb. Semua itu bukan karena Islam kejam dan haus darah. Tapi untuk terjaganya kelangsungan hidup umat manusia.

                Jelas beda dengan sekarang kan? Keluar-masuk penjara, tapi justru tambah bejat. Lalu, apa yang diharapkan dari hukum buatan manusia? So, kalo mau bilang “Say No”, bilang Say No to Valentine Day, Say No to Capitalism, Say No to Democrazy, dan isme-isme rusak lainnya. Dan Say YES to Islamic Revolution!

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Khairunnisa, February 10th 2014. 06:04 PM. Azan Maghrib sedang bersahut-sahutan

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s