Belajar dari Propolis

Alhamdulillah, akhirnya bisa nulis lagi setelah seminggu lebih sakit. Senang sekali bisa balik berceloteh di blog tercintah πŸ˜€

Awalnya saya bingung mau nulis tentang apa. Maklum, saya udah lumayan lama gak nge-dance jari di keyboard. Selama sakit paling cuma ngisi KRS aja sama nguber-nguber dosen buat minta tanda tangan. Itu aja rasanya udah kayak main Takeshi Castle. Capek banget. Pulang-pulang pasti berakhir collapse di tempat tidur. Padahal, cuma flu.

Ceritanya, minggu lalu saya baru saja pulang dari luar kota. Karena udaranya beda jauh, mungkin harus beradaptasi. Awalnya saya baik-baik aja. Tapi, besok paginya saya tiba-tiba demam sampai 39 derajat Celsius. Habis itu diikuti sakit tenggorokan dan pilek. Komplit sudah. Kepala cenat-cenut, berat banget dibawa kemana-mana. Tidur juga gak bisa padahal ngantuk banget. Efek kecapean dan kehujanan berhari-hari. Dan tumbang seminggu kemudian. Gak hanya sampai situ, demam saya juga naik-turun. Akhirnya, saya putuskan untuk tidak minum obat kimia dulu. Saya pikir, ntar aja dah kalo emang udah gak kuat. Saya pun minum obat herbal yakni propolis. Obat yang biasa digunakan buat menjaga daya tahan tubuh. Saya pikir, kan saya lagi flu tuh. Jadi harus dikembalikan daya tahan tubuhnya. Selain itu, saya juga minum vitamin C.

Tapi, ternyata ada yang saya gak tau. Propolis itu benar-benar buat menjaga daya tahan tubuh. Beneran. Dan ternyata propolis kalo diminum pas lagi sakit, sakitnya justru lama sembuhnya karena penyakitnya dikeluarin semua dulu baru dilindungi daya tahannya setelah penyakitnya keluar semua. Pantesan aja saya flu sampai hari ini juga belum berhenti. Padahal, kalo minum obat kimia, maksimal 2 hari udah gak parah. Seminggu saya minum propolis, keadaan saya cuma berubah sedikit dan akhirnya saya ngerti bagusnya barang ini.

Saya gak bilang propolis jelek lho ya. Justru bagus malah. Cuma buat yang banyak aktivitas dan butuh sembuh dalam waktu singkat, sepertinya harus mikir-mikir kalo minum ini hehe πŸ˜€

Sama juga ketika memandang sebuah masalah. Masalah ibarat penyakit yang harus dicari obatnya (jalan keluarnya). Saat ini begitu banyak masalah. Di seluruh aspek kehidupan malah. Tapi, banyak yang salah diagnosa akhirnya obat yang dikasih juga cuma mempan sebentar. Habis itu balik lagi penyakitnya dan justru tambah parah dari sebelumnya. Misalnya aja nih kebijakan soal kondom untuk mencegah AIDS. Padahal sebenarnya masalahnya gak ada di AIDS, tapi free sex dan pergaulan bebas yang sangat marak, narkoba dan tempat-tempat hiburan. So, kalo mau memberantas AIDS ya berantas akar penyebabnya. Biar gak ada rentetan lagi. Kalo cuma kondom ya sama aja. Ada sih yang metode A, B, C itu. Tapi lucunya gak dititik tapi dikoma. Pertama Abstinence atau menahan untuk tidak melakukan hubungan seksual. Tapi, kalo gak tahan ada Be Faithful atau setia pada satu pasangan. Entah pacar, teman kencan, dsb. Yang penting satu. Kalo gak cukup satu, ada Condom. Hasilnya? Keturunan yang gak tau apa-apa yang justru ikutan terjangkit AIDS. Nah lho..

Begitulah obat yang diberikan oleh sistem Kapitalisme. Obat yang tidak menyembuhkan secara keseluruhan. Malah justru menambah penyakit baru. Sangat berbeda dengan Islam dalam menyelesaikan sebuah masalah.

Islam tidak memandang masalah hanya dari sudut pandang tertentu. Tetapi, Islam memandang sebuah masalah sebagai sebuah permasalahan manusia, bukan hanya jenis manusia tertentu. So, yang namanya masalah manusia harus diselesaikan dari akarnya. Seperti minum propolis. Jadi, diberantas semua virus-virusnya dan setelah daya tahan tubuhnya balik, dijaga agar gak sampe sakit lagi. Dan dalam Islam, bentuk penyelesaian dan penjagaan tersebut ada di bawah tanggung jawab Negara (Khilafah). Khilafah yang akan menjaga kehormatan rakyatnya.
Di dalam Islam, sebuah hubungan dikatakan halal hanya dalam sebuah ikatan pernikahan. Hubungan seksual pun hanya dibatasi pada hubungan suami-istri (pernikahan). Dan Islam sama sekali tidak akan membuka jalan bagi zina untuk merajalela. Jika pun sudah terlanjur maka Islam punya hukuman yang tegas dan pasti memberi efek jera serta bisa menebus dosa. Keren gak tuh? Keren banget pastinya.

Itulah Islam. Agama saya dan bukan hanya agama tetapi juga sebuah ideologi. So, bukan saatnya lagi berharap sama Demokrasi-Kapitalis. Saatnya revolusi Islam!

Wallahu β€˜alam bi ash shawwaab

Khairunnisa, February 9th 2014. 07:14 PM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s