Awas! Kristenisasi Berkedok Cinta

Cinta. Ya, kata ini seringkali menjadi kambing hitam atas kemaksiatan anak manusia yang alpa. Tapi, begonya udah tau sering salah masih aja sombong. Pas nulis postingan ini saya masih shock dengan berita “murtad”-nya Asmirandah karena ternyata udah nikah sama Jonas Rivanno, lawan mainnya di beberapa sinetron. Saya pikir itu cuma gosip. Sumpah, miris dan menggelikan. Hanya karena cinta. Apalah arti cinta jika nafsu yang merajai jiwa. Namun, apalah daya di negeri 1001 kebebasan ini? Jika sebuah keyakinan sangat mudah ditukar dengan nafsu dunia. Alhamdulillah banyak yang mualaf, tapi ternyata gak sedikit juga yang murtad, naudzubillah. Di negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Namun, dengan dalih kebebasan ternyata sangat mudah merubah haluan. Menukar surga dengan gampangnya.

                Saya juga teringat dulu saya punya senior di SMP yang belakangan saya tau kalo keluarganya adalah keluarga pendeta. Dan salah satu cara mereka mengkafirkan seorang Muslim adalah dengan memacarinya, menghamilinya lalu hanya mau bertanggung jawab ketika si perempuan pindah agama. Sadis kan? Ya, sadis emang. Dan itu banyak dilakukan sampai sekarang. Apalagi yang punya modal tampang sama modal duit.

                Lalu, kenapa semua bisa jadi kayak gini? Gak ada asap kalo gak ada api. Setidaknya ada dua hal yang akhirnya menjadi akar masalah. Pertama, Islam hanya dipandang sebagai agama. Sama dengan agama yang lain. Orang-orang pun ber-Islam semata karena keturunan. Artis dan uang tetap saja jadi sesembahan. Padahal, artis adalah sosok yang justru lebih banyak menggiring ke jalan menuju neraka. Saya seringkali miris sekaligus sedih, bagaimana nanti saya melihat banyak kaum Muslimin yang masuk neraka hanya karena mengikuti artis yang mereka puja? Meski artis beragama Islam, mereka tetaplah model iklan kebebasan yang paling menonjol. Sungguh murah bayaran mereka untuk menggiring manusia ke neraka. Padahal itu memakan lebih dari usia mereka. Naudzubillah.

Kedua, adanya sebuah pemahaman yang menggerogoti kaum Muslimin dan umat manusia serta lemahnya peran Negara dalam melindungi aqidah rakyatnya. Bayangkan saja, jika sebuah keyakinan bisa ditukar dengan sekardus mie, se-rak telur, sebuah selimut dan bahkan cinta. Sungguh naif. Ya, tapi ini kenyataan. Ini kenyataan, mamen. Dan itu menyakitkan. Salah satu dari kebebasan yang diagung-agungkan ideologi sesat bernama Kapitalisme adalah kebebasan berkeyakinan. Maka dari sinilah muncul pemikiran sesat lainnya, yakni pluralisme atau pemikiran bahwa semua agama adalah sama. Hebat ya, mereka bisa memukul rata semua keyakinan? Emang sama Tuhan yang dibuat dan bisa dihancurkan kapan saja sama Tuhan yang merajai langit dan bumi? Tuhan yang sebenarnya? Bedon dipiara. Kambing dipiara, buat kurban.

Yang paling miris adalah Negara yang tidak mampu mempertahankan aqidah rakyatnya. Mereka gak peduli lagi ada yang dosa karena uang banyak udah membutakan mata dan hati mereka. Dan mirisnya masih banyak rakyat yang tertipu dengan sistem politik yang dipakai oleh negaranya hari ini. Demokrasi. Masih begitu diagung-agungkan. Sebuah hipokrit saat agama justru dilarang untuk ikut campur dalam urusan Negara. Hellow, hari gini masih trauma sama teori teokrasi Eropa? Ke laut aja sana!

Haha, kenapa saya tiba-tiba serius ya? Okelah, daripada berlama-lama. Saya bakalan ngasih tau jalan keluarnya.

Buat semua yang masih berpikiran kalo Islam hanya sekedar agama. Buka mata dan hati kalian dan bersiaplah menerima kebenaran. Pertama, Islam adalah ideologi. More than just religion. But it’s Deen. Islam itu sistem. Maka Islam punya aturan, termasuk bagaimana menjaga aqidah.

Kedua, aturan menjaga aqidah dijalankan oleh Negara. Negara di dalam Islam namanya Khilafah. Siapa saja boleh jadi warga Negara Khilafah. Gak peduli dia dari mana, Muslim atau bukan, kaya atau miskin, jelek atau gak, dsb. Tapi, Khilafah akan menjaga rakyatnya agar memegang Islam erat-erat dan menghukum yang nyata-nyata murtad. Hukumnya gak tanggung-tanggung. Hukuman mati. Kenapa sadis amat? Iya, sadis kalo diterapkan hari ini dimana semua orang berkiblat sama kebebasan. Tapi, daripada dihukum mati, udah matinya hina, masuk neraka pula. Mending berpegang teguh sama Islam sampai akhir hayat. Gampang kan?

Ketiga, ketiadaan Khilafah yang membuat kita gak berdaya hari ini. Maka sebuah kewajiban untuk mengembalikannya. Buat siapa? Buat seluruh umat manusia. Karena seluruh kejadian memilukan hari ini disebabkan oleh jauhnya manusia terutama kaum muslimin dari aturan Rabbnya. Di malam hari mereka bertahajud, di siang hari mereka melakukan riba. Mereka membaca Al Qur’an, satu hari satu juz. Tapi mereka ridho diterapkan hukum yang menginjak aturan Tuhan mereka.

Kurang apalagi? Mau nunggu sampai kiamat dulu? Saran saya sih, sebaiknya jangan. Udah bukan saatnya duduk bertopang dagu dan berdiam diri kemudian mencari legitimasi bahwa ini adalah bentuk kesabaran dan taat kepada pemimpin. Karena cinta itu bukan hanya sebatas rasa yang dengannya maksiat pun halal.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Khairunnisa, February 2nd 2014. 06:51 AM. Recovery.

 

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s