Mengembalikan Aktivis Pada Fitrahnya

1489136_572360869516094_1296462234_n

Ngomongin mahasiswa itu emang gak ada matinya. Kenapa? Karena mahasiswa itu punya segudang potensi. Usia muda, idealisme yang menggebu, tenaga yang kuat dan sejuta mimpi yang ingin diwujudkan. Karena itulah mahasiswa sering mendapat julukan, Agent of Change, Agent of Social Control dan Iron Stock *bukan stok setrikaan lho ya* Setidaknya slogan-slogan itulah yang sering saya dapatkan saat menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiswa. Dan yang paling sering dijadikan contoh adalah bagaimana mahasiswa bisa meruntuhkan sebuah rezim yang sudah berkuasa selama puluhan tahun. Ya, siapa yang tidak tahu peristiwa beralihnya zaman orde baru ke zaman reformasi. Semua sepakat, peralihan rezim politik itu karena mahasiswa. Tapi… ternyata sekarang mahasiswa sedang mengalami zaman kegelapan. Gak hanya mahasiswa biasa, tapi juga aktivis yang notabenenya adalah orang-orang yang peduli terhadap persoalan di sekitarnya.

Mahasiswa abad 21 emang udah jauh lebih canggih daripada mahasiswa zaman Orde Baru dulu. Sekarang gadget udah ngetren dimana-mana. Akses informasi gak perlu repot-repot. Udah gak jaman SMS-an. Sekarang jamannya BBM, WA, LINE, WE CHAT, KAKAO TALK, de es be. Tapi, bukan itu yang pengen saya bahas. Meskipun ada hubungannya. Kalo ngeliat pola kehidupan mahasiswa sekarang, gak sedikit yang miris.

Tadi saya baca sebuah postingan yang menurut saya sangat jujur. Kenapa? Karena emang kenyataan yang saya lihat dan beberapa orang pun bisa melihat dan merasakannya. Saat ini mahasiswa sudah kehilangan hampir semua taringnya. Mahasiswa seolah disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang lebih banyak menunjang hanya dari sisi akademik saja. Ketika pun menjadi aktivis, semata untuk meng-upgrade posisi akademiknya. IPK 3,5 ke atas dan lulus sebelum 4 tahun adalah sebuah kebanggaan. Seolah masalah akan selesai dengan IPK tinggi. Kenapa? Karena setelah itu, ia akan direkrut sebuah perusahaan, terlebih kalo perusahaan asing. Tanpa sadar, ia tidak hanya menjual dirinya tetapi juga menjual masa depan bangsanya kepada orang asing yang hanya mementingkan perut mereka. Terlepas dari seberapa berprestasinya seorang mahasiswa di ajang-ajang lomba, seperti Pimnas, dsb. Tidak lebih untuk kebanggan pribadi. Tidak peduli lagi permasalahan masyarakat yang ada yang seharusnya mereka selesaikan dengan keilmuan mereka. Tidak hanya itu, mahasiswa digiring untuk menjadi suksesor ekonomi Negara. Padahal, mereka punya potensi yang lebih dari sekedar mesin pencetak uang bagi Negara.

Lalu, bagaimana dengan para aktivis? Kenyataannya tetap aja 11-12 sama mahasiswa biasa. Padahal, dulu aktivis mahasiswa adalah mereka yang kritis dan peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa ini. Mereka pula yang aktif tidak hanya kuliah tetapi juga mencari solusi permasalahan yang ada. Namun, saat ini aktivis pun tetap disibukkan dengan permasalahan akademik yang tidak ada habisnya. Seolah mahasiswa emang tersistem untuk dibungkam sejuta bahasa dengan persoalan akademik. Bayangin aja, sekretariat lembaga bukan lagi jadi tempat diskusi tapi jadi tempat ngerjain laporan berjamaah. Belum lagi kegiatan yang diadakan oleh lembaga hampir semua adalah kegiatan olahraga dan hiburan. Tidak heran, karena mahasiswa sudah lelah dengan tugas kuliah yang menumpuk. Boro-boro mikir masalah masyarakat dan bangsa, mikirin tugas sama laporan aja gak selesai-selesai. Belum lagi pergaulan yang semakin menjadi-jadi. Kalo gak ada tugas ya hangout, pacaran, hura-hura, clubbing, dsb. Kalo gak gitu, jadi orang super introvert yang gaulnya sama ipad, iphone, dan smartphone yang lain. BBM-an, LINE, WA, dsb. Atau kalo gak gitu jadi fans artis dan penyanyi luar negeri macam JB, Suju, SNSD, Big Bang, dsb.

Akar Masalah

Gak ada asap kalo gak ada api. Fenomena mahasiswa kayak sekarang emang gak ujuk-ujuk ada. Semua gak terlepas dari sistem yang diterapkan hari ini. Ada dua suprasistem besar dalam sebuah Negara, yakni sistem ekonomi dan sistem politik. Sistem ekonomi hari ini yang super Kapitalis, meniscayakan sedikitnya peran Negara dalam mengurusi urusan rakyatnya. Lihat aja kerjaan Negara tiap hari malah menjual aset Negara ke asing dengan berbagai macam alasan. Dan lucunya alasan bego itu di-aminkan oleh orang-orang yang ngakunya intelektual. Masya Allah… Akhirnya apa? Rakyat juga ikut dijual. Generasi muda akhirnya secara sepihak dijadikan mesin pencetak uang dengan menjadikan mereka tenaga kerja murah dan babu di negeri sendiri dengan tunduk di bawah kaki orang asing. Naif banget kan?

Saya gak pernah iri sama mereka yang IPKnya tinggi. Tapi senggaknya mikirlah. Masa kepintaran yang luar biasa tapi gak digunakan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Minimal kita gak jadi kacung di negeri sendiri. Ironis banget gak sih?

Balik lagi nih. Karena sistem ekonomi yang seperti itu, akhirnya pembiayaan pendidikan pun dibebankan kepada perguruan tinggi. Setelah sebelumnya ada persetujuan dengan GATT dan WTO untuk meliberalkan sektor jasa diantaranya pendidikan dan kesehatan. Jadilah sekarang pendidikan tinggi sangat mahal harganya. Ya, seperti menggapai bintang di langit. Ini juga yang akhirnya membuat mahasiswa semakin matre, pragmatis dan individualis. Mereka gak sempat mikir apa-apa saking mereka udah dijerat dengan biaya pendidikan yang super mahal. Dan ini setiap tahun pasti naik dengan segala macam alasan. Belum kalo ternyata uang banyak itu dikorupsi. Akhirnya makin apatislah mahasiswa.

Belum lagi sistem politik Democrazy yang bebas. Gak hanya bebas tapi juga mahal. Gimana korupsi gak tumbuh subur kayak panu di badan orang yang gak mandi seminggu? Biaya kampanye super mahal, belum lagi segala keperluan untuk Pemilu. Kebijakannya pun selalu pro kepada asing daripada Negara sendiri. Makanya gak usah heran kalo tiap palu diketok mesti ada aset yang Negara yang kejual. Atau harga bisa dipastikan melonjak naik. Dan lucunya seolah semua itu gak sengaja. Emang ngetok palu sambil mimpi gitu? Gak mungkin banget. Bukti kezhaliman itu udah nyata. Tapi kenapa masih banyak yang pura-pura buta dengan semua itu? Apa udah gak punya hati kali ya? Saya juga gak tau.

Islam Solusinya

Haha, kayaknya bakalan banyak yang bertanya-tanya. Ekstrim banget solusi saya. Kok ujuk-ujuk Islam? Jawaban saya simple. Karena Islam itu sempurna, kawan. Sempurnanya dimana? Hmm, kalo belum tau, saya kasih tau.

Islam adalah sebuah ideologi. Islam bukan sekedar agama yang mengatur ibadah spiritual, tetapi juga mengatur kehidupan sosial termasuk kehidupan bernegara. Islam memiliki suprasistem, yakni ekonomi dan politik. Maka bisa dipastikan Islam juga ngatur soal pendidikan, dll. Dan kalo ada yang tanya, berarti Negara Islam ada? Saya jawab, ada. Negara di dalam Islam namanya Khilafah. Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang diwariskan oleh Rasulullah SAW sebagai utusan terakhir yang Allah utus untuk seluruh umat manusia. Dan siapa aja yang ngaku Muslim pasti sering denger kalo Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Yup, itu bener. Karena Islam mengatur seluruh aspek kehidupan.

Di dalam Islam, pendidikan adalah tanggung jawab Negara. Karena pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar warga Negara. Kalo dalam konsep Negara Kapitalis, kebutuhan itu Cuma sandang, pangan dan papan, dalam Islam kebutuhan dasar itu selain sandang-pangan-papan, ada juga pendidikan, kesehatan dan keamanan. Makanya pendidikan jadi tanggungan Negara. Trus, pembiayaannya gimana? Maka dari itu, Islam punya sistem ekonomi yang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok warganya. Dan Negara (Khilafah) wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang wajib bekerja (laki-laki yang sudah baligh). Jadi, gak ada cerita seorang kepala keluarga gak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Gak ada cerita seorang istri juga harus banting tulang membantu suaminya sampai jadi TKW dan harus disiksa. Gak ada cerita anak-anak harus putus sekolah karena gak punya uang buat bayar. Dan gak ada cerita aktivis hanya sibuk dengan akademik dan dirinya sendiri.

Selain itu, sistem politik Islam juga yang akan melahirkan kebijakan yang pro rakyat dan kepentingan rakyat. Politik Islam juga yang akan mengeluarkan kebijakan pendidikan yang dijamin mampu dienyam oleh seluruh warga Negara. Muslim maupun Non Muslim, kaya maupun miskin dengan jaminan yang sama. Gak ada cerita yang bodoh dan miskin gak bisa kuliah.

Mau bukti? Lihat aja, ilmuwan-ilmuwan yang mencetuskan berbagai macam teori dalam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah seorang Muslim. Mulai dari Ibnu Sina, Abbas Ibn Firnas, Al Khawarizmi, Al Jabar, dll. Mereka semua hasil bentukan Khilafah. Bukan Negara Demokrasi-Kapitalis seperti sekarang.

 

Menerapkan Islam adalah Panggilan Keimanan

Saat ini Islam sedang dicampakkan dari kehidupan sosial. Sejak 3 Maret 1924, berakhirlah kepemimpinan Islam di dunia. Saat itu Khilafah Utsmaniyah diruntuhkan oleh seorang agen Inggris la’natullah alaih. Maka sudah seharusnya kaum Muslimin bersatu untuk mengembalikannya. Bagaimana caranya? Contohlah apa yang dilakukan Rasulullah dulu sebelum Islam tegak di Madinah. Rasulullah SAW berdakwah dan membentuk sebuah kelompok ideologis kemudian menegakkan Daulah Islam di Madinah. Maka kita pun selayaknya mencontoh beliau. Bukan demi kekuasaan, jabatan dan harta. Tetapi semata karena panggilan keimanan. Dan saat ini ada sebuah kelompok politik yang sedang berupaya keras mengembalikan institusi Islam (Khilafah) dan melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungannya. Kelompok tersebut bernama Hizbut Tahrir atau Partai Pembebasan. Dan saat ini Hizbut Tahrir telah beraktivitas di seluruh dunia untuk melanjutkan kehidupan Islam, karena hanya dengan kembalinya kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, kehidupan ini akan terselamatkan. Tidak hanya mahasiswa yang kembali kepada fitrahnya, tetapi juga alam ini. Dan kewajiban itu bukan hanya ada pada orang-orang Hizbut Tahrir, tetapi juga kita semua, kaum Muslimin sebagai panggilan keimanan. Maka, saya pun turut berjuang bersama Hizbut Tahrir untuk melanjutkan kehidupan Islam. What about you? 🙂

*Untuk tahu lebih jelas tentang Hizbut Tahrir khususnya Indonesia, klik www.hizbut-tahrir.or.id

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Khairunnisa, January 21st 2014. 09:12 PM.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s