The Unforgettable Dakwah Kampus (Edisi Mabit Season 2)

Akhirnya libur semester kembali menyapa, yeah! Liburan emang paling ditunggu-tunggu. Gak hanya sama anak sekolah, tapi mahasiswi tingkat akhir kayak saya pun nunggu momen ini. Kenapa? Karena kampus saya adalah salah satu kampus dengan kurikulum terpadat se-Indonesia Raya. Bayangin aja, satu semester hitungannya hanya 4 bulan. Padahal kan dimana-mana satu semester itu 6 bulan. Ini mah namanya caturwulan -__- Tapi, begitulah kenyataannya pemirsah. Akibat sistem yang menjerat akhirnya semua kena getahnya.

Balik lagi ke momen liburan. Anak perantauan pasti suka banget sama liburan. Soalnya liburan adalah momen pulang ke rumah *kecuali saya yang jarang pulang udah kayak Bang Thoyyib. But, no problem, gak ada yang nanyain saya juga kenapa gak pulang kecuali 3 sahabat saya yang cerewet selalu nanya kapan pulang :D* Back to home, perbaikan gizi dan bertemu keluarga 😀 Tapi yang namanya pengemban dakwah tentu pulang ke rumah bukan sekedar pulang tapi ada hal lain yang harus dilakukan. Apalagi kalo bukan dakwah? 😀

Saat menulis postingan ini saya masih berusaha membenahi kepala dan badan saya yang (sepertinya) agak sedikit error sehabis pulang dari acara Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa) hari Ahad kemarin. Tangan saya juga keringetan terus, sampai keyboardnya basah dan harus bolak-balik dilap pake tisu.

Kali ini kampus saya ngadain Mabit (lagi) setelah bulan Juli tahun lalu juga ngadain Mabit. Sebagai refreshing dan buat ngisi amunisi sebelum pulang ke rumah masing-masing untuk dakwah di keluarga saat liburan semester. Kalo Mabit tahun lalu saya jadi peserta, Mabit kali ini saya (akhirnya) berkesempatan jadi panitia. Dan Subhanallah saya langsung ditaruh di bagian paling keren. Yap, sie acara. Seumur hidup saya selalu bilang kalo saya gak kreatif. Sama sekali. Tapi disitulah tangan Allah bekerja dan saya (lagi) membuktikan betapa Allah sangat mencintai saya. Karena saya selalu ditaruh di bagian yang memerlukan kreativitas. Ya, selalu begitu. Seolah Allah ingin saya membenturkan diri saya dan membuat saya mengubah frame saya tentang diri saya bahwa saya sebenarnya bisa kreatif jika saya berusaha lebih keras lagi untuk mewujudkannya. Dan Alhamdulillah saya berhasil.

Ketika rapat sie. Acara, Mbak Lola selaku kordinator acara nanya, siapa yang mau jadi MC? Masa sih harus ditunjuk? Udah gede semua lho. Pokoknya jangan Dewi lagi (Dewi adalah MC di Mabit tahun lalu). Saya langsung bilang, ya udah Mbak. Aku aja yang jadi MC. Oke, akhirnya diputuskan saya yang jadi MC. Yah, bisa dibilang ini adalah pertama kalinya saya nge-MC. Pernah sih jadi MC tapi gak sering. Seringnya dipasang jadi pemateri tapi menurut saya MC lebih menantang karena MC pasti harus bisa menguasai acara dan menghidupkan suasana acara lebih dari pemateri.

Akhirnya saya pun menyiapkan apa yang perlu saya siapkan sebagai MC. Dan kena lagi harus ngonsep. Awalnya ngonsep bahan buat Muhasabah. Itu cepet. Dengerin lagu sedih, bayangin yang sedih-sedih, gak nyampe 2 jam jadi (udah sering soalnya hehe). Yang susah itu pas diminta ngonsep brainstorming. Bukan Cuma kata-kata, tapi sesuatu yang bikin peserta nantinya bisa include dan mereka bener-bener bisa konsen dengan keseluruhan acara. Dan lagi-lagi saya nyaris stuck. Di saat-saat seperti ini emang bener-bener kerasa kalo Allah ngajarin saya.

Image
TK tempat mabit

Setelah dipersiapkan semuanya hari H pun tiba. Saya bener-bener ngerasain betapa susahnya jadi panitia. Dulu pas jadi peserta tinggal tau beres. Apalagi tempatnya luas. Kali ini tempatnya sederhana. Sangat sederhana. Belum lagi ada beberapa kendala di awal. Saya hanya bisa berdoa dan menguatkan keyakinan bahwa Allah pasti menolong. Alhamdulillah satu per satu kendala berhasil dilewati. Kecuali satu. Cuaca. Karena kami menyelenggarakan acara tepat di kaki gunung, hujan dan angin terus mengiringi acara kami bahkan sampai malam hari. Dan itu horror. Apalagi dengan kondisi tubuh saya yang tidak kuat menahan dingin, bener-bener seperti mimpi. Udah jaketnya Cuma satu, selimutnya tipis. Komplit sudah. Di awal saya harus bertahan karena gemeteran. Malamnya, gak berhenti bersin-bersin. Selain saya ada lagi panitia yang juga asthma, Mbak Dep (itu nama panggilan dari saya). Bahkan saking sederhananya tempat itu, panitia sampai harus tidur di luar dengan angin yang lumayan dahsyat. Subhanallah, namun karena kekuatan iman Alhamdulillah malam berhasil kami lewati. Para peserta pun tetap bisa di-handle meskipun ada yang gak bisa tidur karena tidurnya di lantai, banyak yang gelisah tidurnya, dsb. Tapi, seru. Karena semua dikerjakan bersama, dilewati bersama. Hari kedua adalah hari yang paling seru. Outbond. Disana seluruh peserta-yang notabenenya masih muda-muda- yang bikin saya juga berasa muda haha, akhirnya menunjukkan kemampuan mereka. Biasanya kalo di kampus, ketika harus interaksi, menyampaikan ide Islam ideologis, Syariah dan Khilafah mesti terkendala. Tetapi, dengan peralatan sederhana dari panitia Outbond, para peserta berhasil menunjukkan kemampuan mereka. Dan itu di luar bayangan saya. Alhamdulillah Mabitnya berjalan lancar sampai kami tiba dengan selamat di rubin masing-masing 😀

Mabit kali ini adalah Mabit yang sangat berkesan bagi saya. Sangat beda dengan Mabit sebelumnya. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dan saya jadikan pegangan untuk menghadapi step selanjutnya. Yang paling tidak terlupakan adalah bahwasanya dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah bukanlah sebuah pekerjaan ringan. Dan dakwah ini memang harusnya diemban oleh sebuah jamaah yang memiliki roadmap yang jelas. Memiliki fikrah yang jernih dan thariqah yang jelas. Memiliki individu yang super ikhlas serta berpegang teguh kepada fikrah dan thariqah yang sudah ditabanni sesuai dengan Hukum Syara’. Dengan upaya yang seperti ini ditambah dengan loyalitas kepada Allah dan RasulNya, yakni menempatkan seluruh keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa menolong dan Allah telah berjanji akan memenangkan dakwah ini, in sya Allah tegaknya Khilafah tinggal menunggu waktu saja. Dengan upaya optimal dari seluruh bagian jamaah ini, dipastikan pertolongan Allah amat dekat. Dan kampus, dimana kita berpijak sekarang adalah ladang dakwah yang harus kita garap dan kita tumbuh-suburkan. Sebelum akhirnya kita keluar dari gerbang kampus dan memasuki gerbang masyarakat yang sesungguhnya.

Tidak lupa ada anak-anak kecil calon pejuang Khilafah di masa depan yang juga meramaikan edisi mabit kali ini. Irda, Faras, Hana, Hafiya, Harits, Hamam, Zaki, Fatih, Ammar, Fakhitah.

Love y’all in Allah ❤

Image
Hafiya
Faras & Irda
Faras & Irda
Hana
Hana
Harits
Harits
Fatih
Fatih

Jazakumullah khairan katsir untuk seluruh panitia (Musyrifah Agro, Human dan Sains). Untuk seluruh pemateri (Mbak Lola dan Mbak Afiqoh) dan seluruh peserta (Darisah Agro, Human, Sains). Semoga kebersamaan ini menjadi pemberat amal di sisiNya dan semoga setelah liburan kita semua bisa semakin gencar mendakwahkan Islam ideologis, Syariah dan Khilafah di tengah-tengah kampus.

Khairunnisa, January 21st 2014. 11:18 AM. Listening to Shiawase no Theory by FT Island.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

6 thoughts on “The Unforgettable Dakwah Kampus (Edisi Mabit Season 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s