Setelah Hujan, Tanah Akan Menjadi Lebih Keras

Numpang ngoceh bentar sebelum melaksanakan seabrek aktivitas di akhir pekan ini 😀

“Hidup ini pasti merasakan kekecewaan tanpa terkecuali dari orang terdekat kita, jadi jangan sampai karena rasa kecewa kita terhadap seseorang membuat kita keluar dari barisan ini, jika kita keluar dari barisan ini maka kita akan merasakan kekecewaan yang sama diluar sana, dan terus akan bertemu dengan rasa kecewa dimanapun kita berada jadi sejatinya rasa kecewa itulah yang ada pada diri kita artinya sumbernya kita sendiri maka perkuatlah dengan rasa IKHLAS dan SABAR”.

(Ust. Ismail Yusanto)

Lagi nyari-nyari bahasa yang tepat. Alhamdulillah Ketemu 😀

Beberapa waktu lalu saya lagi bingung, nyari bahasa yang tepat untuk bersikap bijak terhadap konflik yang terjadi. Karena  hati manusia terlalu dalam untuk diselami, terlalu rumit untuk bisa diuraikan, seperti labirin tak berujung. Tapi, itu juga yang bikin saya bersyukur jadi manusia, karena saya bisa mencicipi segala jenis rasa, mulai dari yang paling manis sampai yang paling pahit *lupakan

Manusia itu tempatnya lupa dan salah. Itu kata Allah azza wa jalla. Dan saya tidak memungkiri itu. Manusia pun seringkali jadi pangkal kekecewaan. Tapi, lucunya masih banyak yang berharap sama manusia. Padahal semua tau manusia itu hampir selalu berbuat salah, karena emang itu fitrahnya. Makanya, jangan pernah berharap kebaikan datang dari sesuatu yang semata berlandaskan akal manusia karena manusia itu ya gitu, tempatnya lupa dan salah. Lemah dan terbatas.

Dalam setiap hubungan, apapun, pasti akan selalu ada yang namanya konflik. Kecil atau besar. Karena fitrahnya hidup ini emang diliputi masalah. Tapi, bukan berarti itu tanpa tujuan. Semua untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya.

 

Allah SWT berfirman :

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk [67] : 2)

 

Dalam surat lain, Allah SWT berfirman :

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS. Al Baqarah [2] : 286)

 

Saya jadi teringat dengan ungkapan orang Jepang, “Setelah hujan, tanah menjadi lebih keras”. Setelah konflik, sebuah hubungan akan lebih kuat.

Kecewa itu manusiawi, namun bukan menjadi legitiamasi untuk menutup diri dan menyalahkan keadaan. Maka konflik adalah bumbu yang senantiasa ada dalam hidup manusia. Pengemban dakwah atau bukan. Dan konflik yang akan semakin menguatkan sebuah hubungan. Hubungan apapun. Termasuk hubungan yang kita bangun dalam dakwah. Ikhlas dan sabar kuncinya.

 

Sebelum saya akhiri celotehan pagi saya, saya teringat dengan firman Allah SWT :

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabut [29] : 2)

 

*Untuk yang sedang berkonflik dengan siapapun atau dengan apapun, terlebih dengan diri sendiri (termasuk saya mungkin,haha 😀). Seorang pelaut yang tangguh takkan lahir dari laut yang tenang. Seorang manusia yang tangguh takkan lahir dari hidup yang miskin ujian dan cobaan. Rasulullah SAW. Kekasih Allah sekalipun, hidup beliau tidak pernah sepi dari ujian. Padahal beliau dijamin masuk surga. Sedangkan kita?

 

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

 

Khairunnisa, January 18th 2014. 06:58 AM. Brainstorming.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s