Rekayasa Cinta

Postingan ini udah mau saya posting dari beberapa waktu lalu. Tapi, karena beberapa waktu ini saya sibuk, jadi belum sempat *halaaah, gayaa* 😛

Beberapa waktu yang lalu, saya kembali mendengar lagu yang dulu jaman saya SD atau SMP sering diputer kakak saya. Judulnya Rekayasa Cinta. Liriknya kurang lebih kayak gini.

Kalau cinta Sudah direkayasa

Dengan gaya

Canggih luar biasa

Rindu buatan

Rindu sungguhan

Susah dibedakan

Kalau cinta

Sudah direkayasa

Banyak bocah disulapnya dewasa

Budi yang kaya

Adat budaya

Tak lagi terjaga

 

Bagian ini menurut saya menarik. Kenapa? Karena emang faktanya begitu. Cinta sudah ternoda oleh sebuah rekayasa *eaaa

Gimana gak? Lihat aja sekarang, anak SD aja udah ada yang pacaran. Udah ngerti masalah ginian. Dengan alasan cinta, semua legal. Suka sama suka akhirnya zina legal. Dan parahnya budaya ini dilakukan di negeri yang mayoritas Muslim. Kalo dulu saya berpikir bahwa seorang gadis berkerudung itu adalah cerminan wanita sholihah. Kalo saya gak ngaji Islam, mungkin sampai sekarang saya gak akan sudi pake kerudung apalagi jilbab. Kenapa? Saya terlalu sakit hati ngeliat muslimah hari ini. Malu-maluin. Yang berkerudung sama aja sama yang gak. Sama-sama tukang *maaf* maksiyat. Sekarang rela aja dipacarin sama siapa aja, asal punya pacar. Malu kalo gak punya pacar. Kalo saya sih, kalo harus nyari pacar saya bakalan milih-milih. Pastinya yang sholih. Tapi pertanyaannya, orang sholih mau gak nempuh jalan maksiyat kayak pacaran? It means that saya bisa gak dapetin pria sholih dengan jalan pacaran? Nonsense banget. Terlalu naif kalo kata saya. Makanya, waktu itu saya sempat agak kesal pas junior saya minta dikenalin sama teman-teman saya yang cowok. Hadeh, bener-bener dah generasi jaman sekarang.

Saya tidak bisa menyalahkan satu pihak sih. Kenapa? Karena emang ini sistemik. Gak hanya satu atau dua orang saja yang menjadi korban. Tetapi, hampir semua kecuali yang sadar. Pertama, jauhnya kaum Muslimin dari Islam membuat mereka silau dengan segala pemikiran asing yang datang dari barat dan timur. Akhirnya mereka mengambil seluruh pemikiran itu mentah-mentah. And see? Seorang Muslim gak ada bedanya dengan yang bukan Muslim. Mungkin penampilan dan sholatnya gak. Tapi pemikirannya? Sekuler, liberal, hedonis, permisif dan lain sebagainya. Seolah Islam dan dunia itu gak ada sangkut pautnya. Islam Cuma soal urusan akhirat. Jadi, kalo sholat, puasa, zakat, haji, baca Al Qur’an gak ada hubungannya sama pergaulan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dsb.

Buat yang masih nganggap kayak gitu, maaf ya. Asumsinya salah. Karena Islam itu Perfect, mamen. Islam bukan hanya agama ritual tetapi juga sebuah mabda’ (ideologi). So, Islam itu ngatur dari tidur sampai bangun lagi. Dari individu sampai Negara. Dari sholat sampai Khilafah. Itu Islam. Penasaran? Kenali Islam lebih dekat, kaji Islam lebih dalam, perjuangkan tuk kembalinya kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, dan dakwahkan ke seluruh penjuru alam.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

Khairunnisa, January 16th 2014. 06:04 PM. Saat azan maghrib berkumandang.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s